Tampilkan postingan dengan label sanggar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanggar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Desember 2008

MENGENAL PENDIDIKAN ANAK PINGGIRAN

Dunia Anak - Liputan Khusus

KOMPAS, Selasa, 24-07-2001.

KEPERCAYAAN Heru Yuli Pambudi (17) pada sistem di sekolah formal
sudah lama pupus. "Sistem itu membuat kotak-kotak dan jenjang
kemampuan, dan memenjarakan kita ke dalam cara berpikir yang sudah
ditentukan." Heru melanjutkan, "Pendidikan formal yang pernah saya
ikuti tidak pernah memenuhi apa yang diingini seorang anak. Guru di
kelas lebih banyak menjejalkan apa yang sudah dipaketkan daripada
mengajak kita bicara dan memahami bagaimana situasi murid."

Lebih jauh lagi, "Kita tidak bisa mendebat pendapat guru, karena
beradu argumentasi selalu diartikan melawan. Di kelas, guru selalu
benar," ujar Heru. Tak cuma itu. "Dunia pendidikan formal di kelas
tidak mengajar anak memahami satu sama lain, sehingga kita menjadi
asing satu sama lain. Tidak ada model solidaritas di sini, dan sulit
untuk membentuk solidaritas karena sudah ada kotak-kotak itu," tegas
anak pertama dari empat bersaudara itu.

Heru menyebut bentuk-bentuk diskriminasi sudah tampak dari
pengistilahan yang dibuat entah oleh siapa, seperti "sekolah
unggulan". Menurut Heru, "Kalau ada sekolah unggulan, pasti ada
sekolah buangan. Sekolah unggulan juga pasti mengacu pada semua yang
serba unggul, ya kecerdasan, ya ekonomi orangtua. Lalu yang buangan
ya sekolah yang isinya anak-anak seperti kami ini, anak-anak miskin
yang bayar sekolah saja susah."

Apa yang dikemukakan Heru tidak bisa dilihat sebagai sikap
antipati terhadap dunia pendidikan formal. Heru adalah satu dari
jutaan anak yang terlempar dari dunia pendidikan formal karena
situasi sosial ekonomi yang dihadapi orangtuanya, yang kemudian
mengimbas pada perkembangan pemikiran dan sikapnya.

Jalanan yang menjadi tempatnya bertumbuh selama dua tahun
mengajarinya hal lain yang digelutinya selama di ruang kelas di
bangku sekolah formal. Upaya mempertahankan hidup tidak terjawab oleh
apa yang ia dapatkan di ruang kelas. Di antara derum mobil,
kebisingan, caci maki, rasa curiga, dan kebencian, ia menyimpan
segudang pertanyaan kritis mengenai apa dan siapa dirinya; mengapa
dan bagaimana ia sampai pada kehidupan seperti itu.

***
"SAYA beruntung menemukan komunitas teman senasib di sanggar,"
lanjutnya. Saat ini Heru adalah Koordinator Sanggar Akar, suatu media
di tingat komunitas basis.

Sanggar Akar yang berdiri enam tahun lalu sebagai bagian dari
basis komunitas Biro Advokasi Anak Institut Sosial Jakarta, saat ini
berdiri sendiri dan mengembangkan model pendidikan alternatif untuk
komunitas anak pinggiran; suatu model yang samasekali lain dari apa
yang selama ini mendominasi wacana berpikir mengenai pendidikan.

Istilah "anak pinggiran" belum banyak dipahami karena orang
terbiasa mendengar atau menggunakan istilah atau kategori yang
bersifat fungsional seperti "anak jalanan", "pekerja anak" atau "anak
telantar" untuk menyebut kelompok anak-anak yang hidup dalam kondisi
lingkungan yang kurang wajar.

Padahal, seperti dikemukakan penanggung jawab Sanggar Akar, Ibe
Karyanto, substansi atau akar persoalan tidak tercakup dalam kategori
yang bersifat fungsional itu. Kata pinggiran, menunjuk pada kondisi
akibat dari pola kebijakan pemerintah dan tatanan masyarakat yang
tidak adil itu. Pinggiran juga mengacu pada proses pembangunan yang
menjauhkan anak dari hak-hak dasarnya yang mencakup hak kelangsungan
hidup, hak untuk berkembang, hak untuk memperoleh perlindungan dan
hak untuk berpartisipasi.

Dengan demikian, dalam istilah "anak pinggiran" dikandung maksud
yang lebih substantif menyangkut ketidakadilan yang dilakukan
pemerintah dan masyarakat umum, yakni ketidakadilan struktural,
kultural dan tindakan represi fisik.

Selama bertahun-tahun dominasi dibangun dari kerangka berpikir
penguasa yang cenderung mengambil jarak dengan persoalan dalam
masyarakat. Ibe menegaskan, kekuasaan pula yang menanamkan pemahaman
bahwa kondisi buruk yang ditanggung anak-anak pinggiran merupakan
keniscayaan, yang tidak terkait dengan kebijakan di tingkat makro
yang diputuskan segelintir elite politik, teknokrat, dan birokrat.

"Ini diperlihatkan dengan jelas oleh Pak X," Ibe menyebut seorang
pejabat kantor Menko Kesra (pada masa Orde Baru), "Dalam Konferensi
Regional Pertama tentang Anak Jalanan di Filipina tahun 1989 Pak X
mengatakan bahwa perilaku dan keberadaan anak-anak jalanan merupakan
penyimpangan sosial atau social disfunction."

Penggunaan kata "penyimpangan" itu secara jelas menunjukkan sikap
diskriminatif. "Pemerintah tidak melihat bagaimana dan mengapa
anak-anak sampai berada di jalanan, tetapi dari posisi norma tata
sosial ideal yang diberlakukan dan diterima oleh keluarga yang mapan
dan berkecukupan," sambung Ibe.

Cara pandang seperti ini tidak berubah, sekali pun Indonesia
telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990. Bahkan RUU
Perlindungan Anak pun masih menggunakan istilah "anak bermasalah".

***
HERU, menurut Ibe, bergabung dengan komunitas Sanggar Akar
sekitar tiga tahun yang lalu, saat masih bekerja di jalanan. "Ia
sebenarnya sempat melanjutkan ke STM, dua kali pindah, tetapi
semuanya tidak bertahan lama," papar Ibe. "Ia memutuskan sendiri
untuk tidak sekolah karena merasa ada sesuatu yang lebih bisa ia
kembangkan di luar sekolah."

"Saya bilang kalau maunya begitu, ia harus tahu bahwa ia tidak
akan bisa bekerja di perusahaan atau di kantor karena lembaga-lembaga
itu membutuhkan ijazah dari sekolah formal," lanjut Ibe, "Saya juga
bilang, 'kamu harus bisa menjadi orang yang lebih dari para pencari
kerja itu. Kamu harus mampu menciptakan peluang bagi orang lain agar
mereka bisa bekerja'," Ibe menirukan pertimbangan yang ia ajukan
kepada Heru agar anak itu tahu tujuannya kemudian. Heru adalah
contoh paling tepat dari apa yang disinyalir oleh Laporan Unicef
(Dana PBB untuk Anak) tahun 1995. Dalam laporan itu disebutkan, tiga
faktor utama yang mendorong anak-anak meninggalkan bangku sekolah dan
bekerja pada usia yang dini adalah kemiskinan, pendidikan yang tidak
relevan, dan tradisi.

Kemiskinan dalam arti luas-tidak hanya ekonomi-mendorong anak
meninggalkan rumah dan memasuki lingkungan kegiatan yang
membahayakan. Jumlah anak yang dieksploitasi terus meningkat 15 tahun
terakhir seiring perkembangan kebijakan ekonomi dan moneter
internasional akibat utang, korupsi, dan krisis moneter di banyak
negara berkembang.

Program Penyesuaian Struktural (SAP), persyaratan "bantuan" Dana
Moneter Internasional (IMF), yang katanya akan "menyembuhkan" ekonomi
yang sakit di negara berkembang berarti pemotongan alokasi belanja
untuk kesejahteraan sosial yang dibutuhkan kaum miskin.

Pemotongan dana untuk kesejahteraan sosial ini juga merupakan
pukulan yang berat terhadap pendidikan, yang diyakini merupakan
alternatif mengatasi persoalan anak-anak yang bekerja di wilayah yang
membahayakan perkembangan fisik dan jiwanya. Di negara-negara yang
mengalami kesulitan ekonomi 10 tahun terakhir, dana pendidikan,
khususnya pendidikan dasar, menurun drastis, sampai 30 persen.

Sementara itu, sistem pendidikan pada banyak negara berkembang
terlalu kaku dan tidak memberikan inspirasi. Kurikulumnya tidak
relevan dan jauh dari realitas sosial kehidupan anak.

Selain itu, tradisi dan pola sosial yang berurat akar juga
memainkan peranan dalam mendorong anak masuk ke lingkungan kerja yang
membahayakan. Lingkungan yang keras telanjur diyakini sebagai bagian
dari kehidupan kaum miskin, kelas rendah dan minoritas.
***

"PERCAYA enggak kalau 'niat' ini boleh dikatakan karya dari
Sandy yang hanya lulus SD," ujar Heru memperlihatkan tabloid 12
halaman yang rubrik-rubriknya dinamai dengan kreatif.

"Sandy sendiri yang mengumpulkan bahan, ikut mengedit, membuat
lay out dan membawanya ke percetakan. Saya yakin anak lulus SMP pun
belum tentu bisa melakukan ini," lanjut Heru, "Model pendidikan di
sini membuat anak bisa mengeksplorasi apa yang ia miliki."

Beberapa dari 20-an anak yang saat ini aktif di Sanggar Akar,
sampai empat tahun lalu masih bisa dijumpai di jalanan. Gendut, yang
sekarang bertanggung jawab pada salah satu bidang kerja di sanggar,
sejak usia sembilan tahun berada di jalanan. Ia berasal dari Tegal.
Lalu ada Joni dari Medan, Prei dari Semarang, Openg dari Palembang,
dan Pian dari Jakarta. Selama bertahun-tahun anak-anak itu
menggelandang dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu kota ke
kota lain, mereguk kebebasan sekaligus bahaya kehidupan jalanan.
Usia mereka sebaya. Selain anak-anak ini, juga banyak anak-anak yang
berada di jalanan, tetapi masih pulang ke rumah orangtuanya.

Latar belakang yang berlainan yang mempengaruhi gaya hidup ini
membuat komunitas anak pinggiran itu, meski pun berada pada satu
strata yang sama, namun Ibe dan kawan-kawannya mengamati, dalam skala
kecil selalu terjadi kompetisi; yang satu merasa lebih dibandingkan
yang lainnya. Perseteruan ini membuat jebakan pada arus pemikiran
yang mengkotak-kotakkan dan merupakan gejala permukaan dari model
sistem fragmentasi masyarakat.

"Kami kemudian berupaya menyatukan kelompok anak-anak itu," jelas
Ibe. "Tujuannya bukan untuk menyeragamkan mereka, tetapi mengajak
anak-anak secara bersama-sama belajar untuk mengerti substansi
persoalan yang dihadapi, yakni proses dehumanisasi."

Visi gerakan pendidikan ini berangkat dari refleksi atas
pengalaman aktual keterlibatan, compassion pada ketidakadilan yang
dihadapi, sekaligus harapan yang ingin dibangun sebagai dimensi masa
depan. "Kenyataan penderitaan anak-anak ini mengundang compassion,
keterlibatan mereka memberikan pengalaman, pengalaman melahirkan
kesadaran baru yang membangkitkan harapan pembebasan, cita-cita dunia
yang lebih baik," papar Ibe.

Mengutip Paulo Freire, tokoh pendidik dari Brasil, Ibe menyakini
bahwa proses lahirnya kesadaran akan pembebasan hanya mungkin
terwujud kalau refleksi sungguh-sungguh diposisikan sejajar dengan
seluruh aktivitas dalam gerakan keterlibatan.

Dengan demikian, misi keterlibatan merupakan sesuatu yang
menunjukkan tindakan atau proses. "Dalam konteks ini, Sanggar
menempatkan misi sebagai tindakan untuk membuka ruang dan memberikan
peluang bagi anak-anak untuk menjadi bagian dari kelompok masyarakat
yang terlibat dalam proses pembebasan, yaitu membangun sebuah dunia
yang lebih baik," ujarnya.

Karena itu, dalam kampanye perlindungan hak anak, terutama pada
gerakan pendidikan untuk anak pinggiran, tidak mengiba, atau
mengharapkan belas kasihan dengan mengedepankan penderitaan anak-
anak, tetapi lebih diarahkan pada model publikasi hasil dari tahapan
sebuah proses yang sedang berjalan.

***
DI Sanggar ini, jangan heran kalau anak-anak seusia 10-12 tahun
telah mampu berpikir kritis. Atin, kelas VI SD dan adiknya Nina,
kelas V, bisa membuat perbandingan antara film Heaven (Iran), Not One
Less (Cina), dan Petualangan Sherina (Indonesia).

Ini baru salah satunya. Seluruh materi seperti sejarah,
matematika, bahasa, lingkungan hidup yang disusun bersama sahabat
Sanggar Akar, seperti Hilman Faried, John Roosa, Razif dari Jaringan
Kerja Budaya, memang diarahkan untuk mencapai tujuan yang lebih luas,
seperti tanggung jawab pribadi, usaha mandiri, dan kreatif; tanggung
jawab sosial menyangkut kepekaan sosial, serta sumbangan pada
pengembangan masyarakat; dan tanggung jawab pada alam.

Seluruh mata pelajaran juga ditujukan untuk mengasah kekritisan
anak; termasuk dalam membaca buku pelajaran. Di antara para relawan
pengajar terdapat pematung terkemuka, Dolorosa Sinaga.

Prinsip hubungan guru-murid adalah keterbukaan dan kesetaraan,
karena gerakan pendidikan ini menolak prinsip anak sebagai tabula
rasa yang diperkenalkan oleh John Locke. Selama belajar, anak tetap
merupakan individu bebas, tetapi bukan tanpa disiplin. Di dalam
kelas, yang berlaku bukan disiplin yang kaku, tetapi semacam
tutorial. Orientasinya bukan ketaatan, tetapi pada komitmen. Disiplin
seperti ini diyakini akan mendorong motivasi dan kesadaran belajar.
Tak hanya diterapkan pada anak, tetapi juga guru.

"Dalam gerakan ini pendidikan merupakan sebuah proses. Anak-anak
dan kami akan terus berproses, berkembang dan kami berharap gerakan
ini akan menjadi milik publik," ujar Ibe. (mh)

PENGORBANAN IBE UNTUK ANAK PINGGIRAN

KOMPAS, Senin, 30-08-2004.
MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada
binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup
bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu
ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan,
dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan
tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih
tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali
Malang, Jakarta Timur.

IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang
beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan
masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup
serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.

Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang
bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya
hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama
puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi
selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya
hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.

Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak
jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik
dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk
mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi
andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di
sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada
yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan
bahasa Inggris. Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji
kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail
10-11 September mendatang.

Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak-
anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku
sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin
puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.

Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan
banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas,
sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama
untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar
didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.

Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi
permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi
senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan
aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak-
anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain-
lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak
kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.

Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman
dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan
keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.

PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa
kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun
1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta
(ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak
jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu
setengah tahun.

Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari
menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan
sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan
ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang
menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan
Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta
menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan
kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak
ada sekolahnya. "Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan
bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi," kata Ibe.

Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis
tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah
daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari
tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir-
pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap
kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan
bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.

Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ
menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka
yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah
Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.

Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer,
kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di
hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang
interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan
sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu
sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba
tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena
berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit
tidur, "penyakit" yang dialaminya sampai hari ini.

"Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk
menyembuhkan diri saya sendiri," kata Ibe.

KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin
apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan
anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun
kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak
mampu yang tinggal di daerah kumuh.

Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan
teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa
anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap
kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung
disuruh mandi dan membersihkan diri.

Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun,
kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding
dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia
siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta
maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk
di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan
mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan
maaf yang dia sampaikan.

"Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa
saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang
tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun," tutur Ibe.

Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa
hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai
sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta
benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.

"Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang
datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka," kata Ibe. (P BAMBANG
WISUDO)

"BIARKAN KAMI DI JALANAN ..."

KOMPAS, Sabtu, 14-07-2001.

RATUSAN anak yang sehari-hari bergulat di jalanan, Kamis (12/7),
tenggelam dalam luapan kegembiraan. Anak-anak berusia enam sampai
belasan tahun itu berlarian, berkejar-kejaran, menjerit, tertawa, dan
saling mengancam. Sebagian membawa kaleng, gelas, botol penuh cat
warna-warni, sebagian lagi berburu dengan tangan berlumuran cat,
menangkap siapa saja yang ada di areal itu. Mereka saling mencoreng
badan, menyiram, bahkan mengguyurkan cat dari atas kepala sampai ke
ujung kaki.

"Ini acara yang paling menyenangkan. Saya senang mencorat-coret
kawan saya," kata Sisriyani (6), anak seorang pemulung dari Bantar
Gebang.

Mereka kemudian meneriakkan yel-yel ABG, memukul kaleng, tambur,
potongan bambu, atau benda apa saja yang bisa mengeluarkan bunyi.
ABG ternyata merupakan kependekan dari Anak Bantar Gebang, identitas
anak-anak yang hidup di areal pembuangan sampah terbesar di Bekasi.
Bersama rombongan anak-anak lainnya mereka berparade mengelilingi
areal perkemahan di Cibubur, membawa spanduk dan poster dari kardus
bekas.

Perkemahan anak jalanan yang diberi nama "Kampore" itu telah
menjadi acara tahunan bagi anak-anak jalanan di Jakarta dan
sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh Sanggar Akar, rumah
singgah anak-anak jalanan di pinggir Kalimalang, Jakarta Timur,
tersebut pada tahun pertama hanya melibatkan puluhan anak dan selama
masa Orde Baru tidak pernah luput dari pengawasan intel. Selama tiga
hari perkemahan, mereka bermain, berdiskusi, adu keterampilan,
kemahiran dalam musik, dan ekspresi lainnya.

"Kali ini saya benar-benar bisa menikmati kegiatan ini. Hampir
95 persen acara ini dilaksanakan dan diorganisir oleh anak-anak
sendiri," tutur Ibe Karyanto, Koordinator Sanggar Akar. Ia pun tidak
luput dari guyuran cat. Mukanya hitam legam karena cat. Hanya gigi
dan matanya saja yang tinggal dalam warna aslinya.

Gagasan pesta cat itu muncul empat tahun lalu saat Kampore ke-6
di kawasan perkemahan Ragunan. Pada waktu itu, ketika anak-anak
diminta melukis dengan cat, mereka bahkan mengekspresikan diri dengan
mengecat tubuh mereka. Karena itu, aktivitas ini diambil alih oleh
penyelenggara dan menjadi acara rutin dalam tiga tahun terakhir,
dengan diberi makna bahwa semua anak jalanan adalah satu, termasuk
pendamping mereka.
***

USAI berparade, perwakilan anak-anak tampil di panggung. Dengan
muka tertutup cat dan tubuh coreng-moreng mereka berorasi. Seorang
anak menyerukan agar harga BBM jangan dinaikkan dengan alasan ibunya
memakai kompor untuk memasak. Anak lainnya meminta agar pemerintah
mencegah banjir yang selalu menerjang rumahnya, memberikan kebebasan
belajar dan bermain, membiarkan mereka bebas di jalanan. Banyak di
antara anak-anak itu yang menyuarakan keinginan Tramtib, institusi
keamanan dan ketertiban di bawah pemerintah daerah, dibubarkan.

"Kami ingin bebas ngamen dan mencari uang. Biarkan kami di
jalanan. Musnahkan Tramtib supaya anak jalanan senang," kata Angga
(14), yang sehari-hari ngamen di kawasan Blok M.

Regi (16) yang baru seminggu melarikan diri dari panti sosial
Kedoya, mengajak kawan-kawannya untuk membubarkan Tramtib. Selama
lima minggu, kata Regi, ia "dipenjara" di Kedoya setelah ditangkap
oleh seorang intel dalam operasi preman beberapa waktu lalu.
Menanggapi ajakan Regi, seorang anak berteriak agar Tramtib dibom
saja. Namun, Regi mengusulkan agar mereka berunjuk rasa terus-menerus
sampai Tramtib dibubarkan.

"Agar kita aman di jalanan," kata Regi. "Tapi jangan pakai
lempar-lempar."
***

APARAT Tramtib merupakan sumber kerisauan anak-anak jalanan.
Kekerasan yang mereka hadapi sehari-hari di jalanan, bukanlah dari
para penjahat, preman, atau pemalak, tetapi justru aparat Tramtib.

Ari (14), yang sehari-hari menyapu lantai kereta dari Stasiun
Jatinegara untuk mendapatkan uang receh dari penumpang, menuturkan
bahwa tiga orang rekannya tidak bisa ikut dalam acara perkemahan itu
karena keburu ditangkap Tramtib sewaktu tiduran di jalanan.

"Saya sempat melarikan diri. Waktu saya berangkat, aparat Tramtib
juga berkeliaran di taman di dekat tempat saya singgah," kata Ari.
Coley dan Coki yang telah belasan tahun hidup di jalanan
mengatakan bahwa hak mereka untuk hidup di jalanan. Juga ngamen di
perempatan jalan.

"Apa salahnya kami ngamen di jalanan. Kami tidak mencuri. Kalau
dibilang mengganggu, ada orang- orang yang memberi kami uang atau
membawakan kami makanan. Justru karena ada kami, perempatan di
kawasan Blok M tidak pernah ada orang kehilangan kaca spion atau HP.
Lalu, kenapa kami dilarang?" ujar Coley.

Ia menuturkan, pernah ditangkap polisi dan disarankan untuk
berdagang. Namun, saat berjualan koran atau teh botol di kaki lima,
ia tidak luput dari kejaran Tramtib dan gerobaknya disita.

"Berbuat jahat dilarang, yang halal juga dilarang, lantas kami
disuruh apa?" kata Coley.

Coki menuturkan, ia dan kawan-kawannya berada di jalanan bukan
karena kemauan mereka sendiri. Mereka lari ke jalan karena tidak
punya uang atau menjadi korban kekerasan orangtuanya.

"Karena dilarang ngamen di perempatan, semua pengamen naik ke bus
kota. Bagaimana dengan adik-adik saya yang masih kecil kalau jatuh
dari bus. Apa pemerintah yang nanggung?" kata Coki.

Penanganan anak jalanan, menurut Ibe Karyanto, bukan soal
mengeluarkan atau tidak mengeluarkan mereka dari jalanan. Yang
penting ketika mereka di jalanan mereka utuh sebagai pribadi,
memiliki kebanggaan, tidak menunjukkan sikap-sikap defensif atau
meminta belas kasihan orang lain. Sektor informal, berdagang di kaki
lima, pun merupakan kehidupan di jalanan.

"Masalahnya memang bukan mengeluarkan atau tidak mengeluarkan
mereka dari jalanan," kata Karyanto. (P Bambang Wisudo)

NAK JALANAN ITU KINI BERSEKOLAH FORMAL

KOMPAS, Selasa, 26-08-2003.
KEGIATAN Dede Supriyatna (19), kini tak hanya bergelut dengan
percobaan membuat alat musik dari berbagai bahan di sanggar saja.
Sejak Juli lalu, tugas Dede-akrab dengan panggilan Ambon-sebagai
pimpinan Dewan Koordinator Anak (Dekan) Sanggar Akar bertambah satu,
kuliah di Institut Musik Indonesia.

Kerinduan Ambon, lulusan sekolah kejuruan di Jakarta untuk
menempuh pendidikan tinggi tercapai sudah. Ia dan enam kawannya
sesama anggota sanggar berpredikat mahasiswa, predikat yang
dirindukannya sejak kecil.

Ada 25 'adik-adik' Ambon di sanggar itu, yang juga berstatus
siswa sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP),
dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).

Keputusan sanggar menyekolahkan anak-anak jalanan ke sekolah
formal tampaknya sulit dimengerti. Mereka umumnya mengesampingkan
sekolah formal, sebab anak jalanan tak suka terkungkung aturan
pendidikan formal yang biasanya serba kaku.

Akan tetapi, penanggung jawab sanggar, Ibe Karyanto, punya
alasan. Bersama empat rekannya antara lain Ivonne dan Jupri, yang
sejak 1994 mendirikan sanggar, ia hanya menuruti keinginan anak-anak
sanggar. Namun, setiap anak harus bertanggung jawab terhadap
keputusannya bersekolah.

"Jika mereka membolos dan sudah diingatkan tiga kali tidak bisa,
hukumannya dirumuskan bersama. Misalnya, mereka tidak boleh nonton
televisi selama seminggu," tutur Ibe.

Menurut Andre (12), mereka sudah tahu sendiri kalau ada PR yang
harus dikerjakan. "Daripada diomelin Uwak (panggilan anak sanggar
kepada Ibe Karyanto-Red)," tambah Rastini (12), yang sore itu bersama
Aminah tengah mengerjakan PR Matematika.

Keduanya ditunggui Hani, gadis yang sejak beberapa tahun terakhir
bergabung di sanggar dan kini mahasiswa jurusan Bahasa Inggris.
***

JULI 2003 menjadi saat terberat bagi sanggar karena 32 anak dari
sekitar 80-an warga sanggar harus mengurus kenaikan kelas atau masuk
sekolah baru. Ada sembilan anak di tingkat SD, tujuh di SLTP,
sembilan masuk SLTA, dan tujuh ke perguruan tinggi.

Darimana dananya?
"Anak-anak memang punya tabungan pribadi tetapi tidak mungkin
mengandalkan tabungan itu untuk membayar sekolahnya," tutur Ibe.

Tabungan pribadi, menurut Rastini, biasanya untuk membeli buku
tulis, tas sekolah, atau barang pribadi lainnya. "Kalau mau ambil
uang harus jelas untuk apa. Kalau tidak, enggak dikasih Ompung"
terang Rastini. Ompung adalah rekan Ibe yang bertugas antara lain
mencatat tabungan anak sanggar.

Ibe, lelaki asal Solo itu lantas merinci pengeluaran untuk
menyekolahkan 'anak-anaknya'. Tingkat SD, mereka memilih bersekolah
yang dekat dengan sanggar atau basis sehingga bisa mengirit ongkos.
Sekalipun demikian, masuk sekolah baru biar tingkat SD tetap kena
uang sumbangan pendidikan sekitar Rp 300.000 per siswa, ditambah
pembelian buku dalam paket yang sudah ditentukan sekolah. Untuk SD
harganya sekitar Rp 190.000 per anak.

Bagi yang di SLTP dan SLTA, uang sumbangan dan buku paket yang
harus dibeli lebih mahal lagi. Bila dijumlahkan, biaya memasukkan
anak ke sekolah tak kurang dari Rp 10 juta. Angka itu belum termasuk
pembelian paket buku ajar (cetak), seragam, SPP, dan transpor
harian. "Uang buku sampai sekarang belum terbayar, belum ada uang,"
kata Ibe.

Adapun mereka yang kuliah, setidaknya perlu dana Rp 3-4 juta per
anak, ditambah SPP per semester yang besarnya sekitar Rp 1 juta per
mahasiswa.
***

ANDRE, Ambon, Hani, para pemulung, dan pengamen anggota sanggar
boleh gembira bisa sekolah, tetapi para pengasuh Sanggar Akar harus
memutar otak mencari dana pengganti biaya hidup mereka bulan
mendatang. Uang itu dibutuhkan untuk makan yang hanya sekali sehari,
bayar listrik, dan modal kerja membuat kerajinan tangan.

Sebenarnya setahun terakhir, Sanggar Akar sudah mampu mencukupi
kebutuhannya dari sumbangan donatur dan order sablon, membuat lay out
majalah, membuat undangan, dan barang lain dari kertas daur ulang
sampai menerima order main teater dan musik. Grup musik sanggar
bahkan sudah berpentas hingga Surabaya. Untuk keluar kota tarifnya
sekitar Rp 3-4 juta bersih. Hasil pentas untuk semua pendukung
pementasan dan keperluan sanggar.

Kini, defisit keuangan yang parah membuat penghuni sanggar harus
kerja keras mencari order. "Saya sekarang 'mulung' lagi," aku Ibe
tanpa malu. (SOELASTRI SOEKIRNO)

KETIKA GAMBAR-GAMBAR ITU BICARA


KOMPAS, Senin, 05-07-2004.
"INI gambar suasana waktu pawai tujuh belas Agustus di jalan
besar dekat rumahku," kata Nadya, pelajar kelas III sekolah dasar di
Cempaka Putih yang sangat suka dengan keramaian pawai. Kertas putih
di depannya berubah penuh warna.
Ada gambar orang berkumpul dengan mengacung-acungkan bendera
Merah Putih. Nadya memilih menggoreskan warna merah muda untuk
mewarnai orang yang berpawai mulai dari ujung rambut hingga kaki.
Latar belakang gedung-gedung pencakar langit melengkapi karyanya.
Beberapa peserta laki-laki menggambar mobil berwarna kuning,
biru atau merah.
Namun, di luar itu, hampir sebagian besar peserta mungil yang
bertempat tinggal di Ibu Kota penuh hutan beton ini melukiskan
gunung, rumah petani, sawah yang terbelah jalan aspal. Persis ajaran
di sekolah.
***

LOMBA gambar yang menyulap suasana lapangan parkir Taman Ismail
Marzuki menjadi sangat meriah itu merupakan rangkaian peringatan
Ulang Tahun Ke-10 Sanggar Akar. Sanggar itu menjadi wadah pendidikan
alternatif bagi anak pinggiran.
"Selama belajar di sanggar, salah satu yang disukai adalah
menggambar. Membuat coretan apa saja yang diingini. Tidak ada
tuntutan gambar mesti penuh atau warna benda harus ini atau itu.
Hari ini kami mengajak anak-anak lain menggambar bebas bersama," kata
Pray, Ketua Panitia Penyelenggara Lomba Menggambar dari Sanggar Akar.
Oleh karena itu, tidak ada tema, tidak ada uang pendaftaran, dan
tidak ada pula batas sosial-untuk sesaat-dalam perlombaan itu.
Kebebasan berekspresi dalam menggambar, menurut Pray, hanya
merupakan bagian kecil dari hak dasar anak yang kerap dilupakan
orang dewasa yaitu kebebasan memilih.
Setiap anak, bahkan sejak usia dini sudah mempunyai gambaran dan
pandangan sendiri tentang segala sesuatu yang sudah didapatkannya.
Salah satu pengungkapannya adalah lewat lukisan.
Di Sanggar Akar, menggambar memang menjadi salah satu media
berekspresi. Bagi anak-anak, kegiatan itu sangat digemari karena
mereka bebas menuangkan gagasannya, termasuk kepada orang dewasa.
Tidaklah mengherankan bila menggambar sering jadi alat berkomunikasi
anak dengan lingkungan di luar dirinya.
***

KARYA-karya peserta lomba kali ini misalnya, setelah dinilai oleh
tim juri yang terdiri dari seniman FX Harsono, Setyaningsih Poernomo,
dan Alit Ambara, akan dipamerkan di Galeri Cipta II Taman Ismail
Marzuki, 9-10 Agustus mendatang. Sebagai bentuk penghargaan kepada
karya anak.
Pray, mantan anak jalanan yang kini mengajar rekan-rekan kecilnya
di komunitas pinggiran di Cakung percaya, sebuah lukisan dapat
menceritakan isi dan rasa anak.
Dia masih ingat gambar salah satu anak "didik"-nya di Cakung.
Hanya sebuah kepala dan di sampingnya terlukis rumah kecil.
Namun, dengan lancar anak itu kemudian bercerita tentang ibunya,
rumahnya, tetangganya, dan kehidupannya yang terpinggirkan di kota
Jakarta.(INE)

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

Pawai Hari Anak Nasional

"LETAKKAN SENJATA, BERI KAMI BUKU DAN PENA..."

KOMPAS, Rabu, 24-07-2002.
Jakarta, Kompas
Ratusan anak-anak jalanan, pemulung, serta anak-anak
terpinggirkan lainnya bergabung dengan anak-anak dari berbagai
sanggar, Senin (23/7), mengadakan pawai di Jakarta memperingati Hari
Anak Nasional. Pawai itu dimeriahkan dengan kehadiran barong,
jatilan, dan Drum Band "Kaleng Rombeng" yang dimain-kan oleh anak-
anak, serta becak dan dokar hias.

Merujuk konflik bersenjata di sejumlah daerah, sejumlah poster
dan spanduk raksasa bertulisan "Letakkan Senjata, Beri Kami Buku dan
Pena" diarak dalam pawai tersebut. Sepanjang Jalan Pro-klamasi,
Diponegoro, Salemba Raya, dan kembali ke Tugu Proklamasi, anak-anak
dari berbagai latar belakang itu berjoget sambil memukul berbagai
alat bunyi-bunyian, mulai dari drum, kaleng, panci, sampai botol air
mineral. Sebagian anak lagi menarik mainan tradisional yang dibuat
dari barang-barang bekas.

Adi (10) tampak antusias mengikuti pawai itu. Sepanjang jalan
terik ia menabuh penggorengan yang penuh jelaga. Kakinya hitam penuh
lumpur, berjalan tanpa sepatu di atas jalan aspal yang panas. Ia
menghampiri seorang nenek yang tengah menyirami halaman depan
rumahnya dan meminta agar nenek tersebut mengguyurkan air di
kepalanya. Si nenek ragu-ragu. Adi kemudian menyorongkan kepalanya di
bawah guyuran air.

Di balik kegembiraannya, ia bercerita bahwa dua minggu sebelumnya
ibunya sakit. Menurut Adi, ibunya tiba-tiba lumpuh dan sampai kini
masih dirawat di rumah sakit. Ayahnya seorang buruh bangunan yang
harus menghidupi delapan anak. Sehari-hari Adi menghabiskan waktunya
mengamen di perempatan di dekat Stasiun Jatinegara.

"Saya butuh uang untuk ibu saya," ujar Adi.
Seorang kawannya yang ditanya tentang soal itu mengatakan, tidak
tahu apakah ibu Adi sakit atau tidak. Mata Adi sembab ketika
menjawab, "Gue anaknya, bukan kamu."

Namun, ia segera melupakan kesedihannya. Dipukulnya botol besar
air mineral keras-keras mengiringi bunyi-bunyian di sekitar halaman
patung proklamator. "Aku mau nyanyi," kata Adi sembari pergi menuju
panggung.

Edi (16) ikut memeriahkan pawai hari anak tersebut dengan
mengenakan pakaian dari sedotan. "Ini kostum saya sewaktu bermain
drama. Sedotan ini saya kumpulkan dari tempat sampah," ujarnya.

Pawai hari anak ini diprakarsai oleh Sanggar Akar, sebuah
organisasi nonpemerintah yang telah lama berkecimpung dalam
pendampingan anak jalanan. Serangkaian kegiatan telah diselenggarakan
Sanggar Akar berkaitan dengan peringatan Hari Anak Nasional di
markasnya di tepi Kali Malang, Jakarta Timur, seperti bazar dan pasar
murah, pameran karya anak, diskusi, dan pemutaran film anak-anak.

Dalam selebaran yang dibagikan kepada masyarakat, Sanggar Akar
menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi anak di Indonesia saat
ini. Disebutkan, angka pengangguran mencapai 7,5 juta jiwa. Data
yang dirilis UNDP, lembaga yang menangani program pembangunan di
bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 30 persen pekerja Indonesia
adalah anak-anak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan
bahwa tahun 1998 tercatat 4.000 anak di bawah usia 16 tahun terlibat
dalam tindak kriminal.

"Di daerah-daerah konflik nasib mereka tidak kalah buruknya.
Seperti belum cukup menderita, ada orang yang kemudian memanfaatkan
mereka untuk menjadi tenaga murah bahkan diperjualbelikan di pasar,"
demikian pernyataan da-lam selebaran yang dibagikan Sanggar Akar.

Sanggar Akar menyerukan dihentikannya pertikaian politik yang
memakan jiwa dan raga anak Indonesia dan mendesak pemerintah segera
memperhatikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan anak di tempat
pengungsian. Mereka juga menyerukan dihentikannya segala bentuk
kekerasan terhadap anak dan memperbaiki sistem kesehatan dan
pendidikan dengan memberikan pelayanan cuma-cuma kepada anak.

Koordinator Sanggar Akar Edy Karyanto mengemukakan, pawai hari
anak itu diselenggarakan agar anak-anak bisa mengekspresikan
kebebasannya mesti baru sedikit yang dimiliknya. "Kami juga berharap
agar orang tahu bahwa hari ini adalah hari anak karena ternyata
banyak guru sekolah yang tidak tahu. Dengan memperingati Hari Anak,
kita ingin menyampaikan kewajiban semua orang untuk menghormati hak-
hak anak," ujar Edy yang telah belasan tahun mendampingi anak
jalanan. (wis)

KAMI BERHAK UNTUK BELAJAR

KOMPAS, Minggu, 14-12-2003.

Tidak ada seorang pun yang ingin tinggal di jalan. Demikian juga
tidak ada yang ingin terlahir cacat. Namun, jika itu yang terjadi,
setiap anak yang kurang beruntung itu berhak untuk mendapatkan
kesempatan belajar dan hidup lebih baik.

Untuk itu, Bapak Ibe Karyanto dan teman-temannya mendirikan Sanggar
Akar. Di tengah perkampungan daerah Gudang Seng, Jakarta Timur,
beberapa anak duduk di lantai sebuah aula. Buku partitur terbuka di
depan mereka. Lagu syahdu terdengar mengalun dilanjutkan dengan
sebuah komposisi klasik.

Anak-anak yang serius memainkan biola, gitar, dan rekorder itu bukan
murid-murid sebuah kursus musik, melainkan anak-anak pengamen yang
suka berdiri di perempatan lampu merah sambil menenteng gitar.
Sesiangan mereka mengumpulkan uang bermodal suara dan gitar mereka.
Di sore hari mereka berkumpul di Sanggar Akar untuk belajar. Ada
pelajaran bahasa, biologi, sejarah, teater, dan musik. Ngapain sih,
pemusik jalanan pakai acara belajar segala?

Lho, yang boleh belajar itu kan bukan hanya mereka yang mampu secara
ekonomi. Dalam Konvensi Hak Anak disebutkan bahwa setiap anak berhak
mendapatkan pendidikan juga pelatihan keterampilan. Menurut Bapak Ibe
Karyanto yang biasa dipanggil Uwak, banyak anak dari keluarga
miskin di kota besar seperti Jakarta punya masalah berat. Di Sanggar
Akar ini, teman-teman kita yang kurang beruntung itu punya tempat
yang aman. Aman untuk mengekspresikan diri, bermain, dan belajar.
Berkumpullah mereka tiap sore. Ada teman-teman yang tinggal di jalan,
yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang atau
mereka yang masih punya keluarga lengkap. Mereka sama-sama bergaul
dan belajar di sini.

Cara belajar mereka memang sedikit berbeda dengan cara belajar kita
di sekolah. Sambil bercanda Kak Dini, murid SMP 52 Jakarta, yang juga
peserta sanggar, mengatakan belajar di Sanggar Akar enak. Pelajaran
lebih bisa mereka mengerti karena lebih sesuai dengan keadaan sehari-
hari. Seperti yang dicontohkan Kak Rika (18), Ketua Dewan Koordinasi
Anak (Dekan) Sanggar Anak. Saat pelajaran sejarah, mereka belajar
mencari arti nama mereka masing-masing. Atau asal-usul nama suatu
tempat di lingkungan sekitar mereka. Mau belajar tentang lingkungan
hidup? Mereka melakukannya dengan memelihara ikan dan menanam pohon
di sekitar sanggar.

Hidup sebagai pengamen atau tinggal di tempat pembuangan sampah
Bantar Gebang itu berat. Maka Uwak dibantu oleh Dekan berusaha
membuat kegiatan belajar menyenangkan. Yang penting menurut Uwak,
teman-teman di Sanggar Akar belajar hidup dengan baik. Sebagai ganti
menekuni berbagai mata pelajaran seperti di sekolah, kepada mereka
diajarkan keterampilan menyablon, membuat kertas daur ulang, dan
merajut. Semuanya bertujuan agar nantinya mereka punya keterampilan
dan tidak terus tinggal di jalan. Sikap kerja sama, rasa ingin tahu
dan kemandirian juga dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari di
sanggar.

Kemandirian juga diharapkan tumbuh dalam diri teman-teman kita yang
lain, yakni mereka yang bersekolah di SLB Bagian C Tri Asih, Jakarta.
Pelajar di sekolah ini adalah anak-anak dengan IQ di bawah 80, yang
biasa disebut tunagrahita. Penyandang cacat tunagrahita di SD Luar
Biasa Tri Asih menerima pelajaran seperti murid-murid SD lain. Hanya
saja pelajaran diberikan lebih pelan-pelan. Ada juga pelajaran
merawat diri seperti mandi atau mencuci rambut, lho! Memang kegiatan
seperti menyisir rambut, memakai baju atau mengikat tali sepatu
tampak sepele untuk mereka yang normal. Tapi tidak demikian bagi
teman-teman di SLB yang perkembangan pikiran dan mentalnya maksimal
hanya seperti anak umur 12 tahun. Kegiatan sehari-hari diajarkan
kepada mereka agar mereka tidak selamanya tergantung kepada orang
lain.

Kegiatan serupa juga diajarkan di YPAC (Yayasan Pemeliharaan Anak
Cacat) di daerah Hang Lekiu, Jakarta. Penyandang tunadaksa atau cacat
fisik diberi latihan khusus agar bisa mengatasi kekurangannya. Ada
yang belajar membaca huruf Braille, belajar berjalan, belajar
berbicara dengan bahasa isyarat, dan lain-lain. Jika tingkat
kecerdasan anak-anak tersebut normal, mereka bisa mengikuti program
pendidikan inklusi. Ini adalah program masuknya anak-anak penderita
tunadaksa di sekolah umum. Jadi jangan sampai karena seorang anak
menderita cacat, dia terus berada di SLB. Anak cacat juga mendapat
kesempatan untuk hidup seperti orang-orang normal lainnya. Berhak
untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan. Sekarang sudah cukup banyak
lho, penyandang tunadaksa yang bekerja di kantor-kantor umum,
misalnya di stasiun televisi swasta.

Kegiatan yang berlangsung di SLB C Tri Asih dan YPAC ini sesuai
sekali dengan salah satu aturan dalam Konvensi Hak Anak. Dalam
konvensi itu diakui bahwa setiap anak punya perbedaan satu sama lain,
termasuk perbedaan sosial, harta kekayaan, dan fisik. Akan tetapi,
anak-anak tidak boleh menerima perlakuan yang berbeda. Hak
kelangsungan hidup dan perkembangan anak dijamin oleh negara.
Oleh karena itu, penderita tunagrahita ringan di Tri Asih yang bisa
beraktivitas normal tanpa hambatan diajari keterampilan seperti
menjahit dan menenun. Hasil jahitan dan tenunan mereka rapi dan
bagus, tidak kalah dari buatan mereka yang normal. Keterampilan
mereka diharapkan menjadi bekal menghidupi diri sendiri.

Penderita tunagrahita ringan juga dibiasakan bertemu dengan orang-
orang di luar sekolah mereka. Mereka diajak pergi ke luar lingkungan
sekolah mereka, belajar berbelanja. Sedangkan murid-murid YPAC pernah
bersama-sama naik kereta api dari Stasiun Gambir Jakarta ke Bogor, ke
kebun binatang atau ke museum. Dengan cara itu mereka bersosialisasi
dengan dunia luar.

Dengan adanya berbagai macam tempat pendidikan seperti di atas,
diharapkan semua anak mendapatkan hak mereka. Semoga saja makin
banyak teman kita yang lain memperoleh kesempatan untuk bisa
menyambut masa depan mereka. Karena, seperti kata ungkapan, öJika
kami adalah masa depan, dan kami sekarat, maka masa depan itu tak
ada.ö Tentu kita tak mau bangsa kita tak punya masa depan, kan?

GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN

KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.

"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.

Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.

Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.

Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.

"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.

Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.

Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.

"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.

Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.

***

PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.

Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.

Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.

"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.

Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.

Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.

Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."

Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.

Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.

GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN

KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.



GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.

***

PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.

TOLAK TAYANGAN TELEVISI YANG TIDAK MENDIDIK

Percuma Saja Generasi Muda Sekolah
Oleh: Samuel Oktora Batarede

KOMPAS Jawa Timur, Senin, 15-08-2005.
Malang, Kompas

Sutradara dan aktor Slamet Rahardjo menyatakan, sekarang
diperlukan sikap radikal untuk tidak menonton sama sekali acara
televisi yang tidak mendidik.

Hal ini dikemukakan Slamet seusai acara dialog dan apresiasi film
karya anak Sanggar Akar Jakarta, Minggu (14/8) di Sekolah Menengah
Atas Katolik Santo Albertus-Dempo, Malang. Slamet hadir bersama
penyanyi Iga Mawarni.

Dalam sesi dialog, banyak ibu guru yang menyatakan keprihatinan
mereka akan maraknya tayangan televisi (TV) yang justru bersifat
merusak.

"Memang sekarang banyak film yang diputar di TV, apakah itu dari
dalam maupun luar negeri, yang tingkatannya sudah sangat
memprihatinkan. Isinya menyesatkan, termasuk yang bernuansa mistis.
Banyak yang tidak masuk akal, hanya menonjolkan kemewahan hingga
cerita-cerita dedemit. Kalau generasi muda sekarang banyak disodori
hal-hal semacam ini, percuma saja sekolah," kata Slamet.

"Tetapi, saya juga meminta ibu-ibu jangan hanya menjadi jago
kandang, tetapi perlu membuat semacam komitmen atau pernyataan untuk
tidak menonton film yang mengecilkan arti budaya dan harga diri
bangsa," tutur sutradara Marsinah ini.

Slamet mencontohkan, salah satu adegan atau tayangan film yang
tidak mendidik itu seperti pada film laga, yakni adanya ungkapan
salah satu tokoh untuk membalas dendam: "I will revenge!" Film laga
demikian menyampaikan pesan kuat mengenai kekuatan balas dendam
sampai turun-temurun. Seharusnya pada generasi muda ditanamkan sikap
mengasihi atau mengampuni.

"Ada juga film yang tokohnya mengatakan hal tidak masuk akal,
yang mempertanyakan mengapa pada usia 13 tahun masih perawan. Jelas
tayangan seperti ini tidak masuk logika, lebih baik tidak usah
ditonton," tutur dia.

Meski demikian, Slamet juga tidak setuju jika penolakan terhadap
tayangan film negatif itu melalui larangan dengan pendekatan
kekuasaan. Sebab, hal ini merupakan bentuk penjajahan.

"Saya pernah ditanya apakah film Buruan Cium Gue perlu ditarik
dari peredaran. Saya tidak setuju karena langkah seperti ini
mengekang seseorang untuk berkreasi. Cukup pakai saja bahasa dagang,
buka bahasa kekuasaan ," ujarnya.

Pendidikan untuk Yang Miskin



MENJEMBATANI SEKOLAH ALTERNATIF DENGAN FORMAL
Oleh P Bambang Wisudo

KOMPAS, Kamis, 15-09-2005.


Kokon Koswara (23), mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (STKIP) Garut, Jawa Barat, dalam beberapa bulan terakhir
lebih sering mengisi masa akhir pekannya dengan naik turun gunung.
Kegiatan itu harus dijalaninya sejak ia bersama sejumlah kawannya
membantu warga kampung Dano menyelenggarakan sekolah alternatif Bale
Rahayat.

Jarak delapan kilometer dari ibu kota Kecamatan Leles dengan
kampung Dano ditempuh sepeda motor. Karena keuangan terbatas, Kokon
dan kawan-kawannya tidak memilih menggunakan jasa ojek. Ongkos ojek
ke kampung itu Rp 15.000 sekali jalan. Untuk menekan biaya, Kokon
memilih menyewa motor dengan ongkos Rp 20.000 sehari. Biasanya motor
itu ditumpangi bertiga, tidak peduli jalan terjal bebatuan yang harus
dihadapinya.

"Karena masalah ongkos kami tidak bisa intensif mendampingi
masyarakat Dano," tutur Kokon.

Aktivitas Kokon dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Jaringan
Pendidikan Kritis Garut itu didasari keprihatinan atas minimnya akses
pendidikan anak-anak petani di wilayah itu. Dari delapan ribu
penduduk di dusun itu, hanya segelintir saja yang tamat SD dan SMP.
Selepas kelas dua, empat SD negeri di sekitar dusun itu kehilangan
murid.

Sebagian besar putus di tengah jalan dalam keadaan tidak bisa
membaca dan menulis. Anak laki-laki di bawah umur yang belum bisa
baca tulis itu sebagian besar di bawa ke kota dipekerjakan, menjadi
pembantu buruh konveksi tas kulit, dengan upah yang sangat rendah.

Baru beberapa bulan berjalan, kini Bale Rahayat harus menampung
sekitar 150 murid. Dengan fasilitas seadanya, mereka belajar di
emperan masjid dusun, rutin diajar oleh tiga tokoh masyarakat yang
menjadi sukarelawan. Sejauh ini tidak ada sedikit pun dukungan dari
pemerintah lokal. Andaikata mereka juga berhak atas dana kompensasi
BBM sebesar rata-rata Rp 20.000 per bulan, hampir bisa dijamin anak-
anak itu lebih pintar dibandingkan anak-anak yang memilih bersekolah
di sekolah formal.

Korban diskriminasi
Anak-anak dari masyarakat kalangan bawah yang terempas dari jalur
pendidikan formal memang menjadi korban diskriminasi kebijakan
pendidikan nasional. Orang-orang miskin yang seharusnya dibela,
justru dimarginalkan dalam proses pendidikan. Jangankan mereka yang
memilih jalur sekolah alternatif. Anak-anak putus sekolah yang
ditampung di PKBM yang disokong pemerintah pun diberi anggaran sisa.
Upah gurunya hanya Rp 150.000 per bulan. Di lapangan honor sebesar
itu dibagi lagi untuk beberapa tutor.

Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional Eko
Djatmiko Sukarso menceritakan, ia pernah menjumpai tutor yang diberi
honorarium Rp 20.000 per bulan.

Di Jakarta, seorang siswa SD dari kelompok masyarakat miskin,
mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah dan pusat sebesar Rp
40.000 per anak. Bahkan subsidi dari Pemda DKI bagi siswa SD tahun
depan diusulkan naik dua kali lipat menjadi Rp 500.000 per bulan.

Untuk anak-anak putus sekolah, Pemda DKI menyelenggarakan program
retrieval dengan anggaran Rp 1 juta per anak per tahun. Dana itu
tentu menjadi sebuah kemewahan bagi anak-anak dari masyarakat bawah
yang bergabung di sanggar-sanggar pendidikan alternatif, seperti
Sanggar Akar, Sanggar Ciliwung, atau Sanggar Anak Alam di Lebakbulus.

Kenyataannya dana itu dibekap oleh sekolah-sekolah formal yang
ketat dikendalikan oleh pemerintah. Hasilnya adalah anak-anak miskin
tetap saja tidak bisa bersekolah.

Anggaran dan substansi
Kesenjangan antara sekolah alternatif dengan sekolah formal tidak
hanya persoalan anggaran tetapi juga substansi pendidikan yang
ditawarkan. Sekolah-sekolah alternatif yang berkembang dalam semangat
Paulo Freirean, yang mengintegrasikan semangat perlawanan terhadap
sistem yang memiskinkan dalam pendidikan.

Sejumlah aktivitas pendidikan alternatif memiliki keyakinan bahwa
tujuan akhir pendidikan alternatif bukan sekadar mengeluarkan anak
dari kemiskinan yang membelenggu lingkungan dan keluarga mereka.
Apalagi bila itu sekadar diartikan memberikan keterampilan agar
mereka bisa berintegrasi dalam sistem yang kapitalistik.

Semangat perlawanan itu dapat dibaca dari kemunculan sekolah-
sekolah alternatif di berbagai daerah. Sebutlah Madrasah Aliyah
Bingkat di Sumatera Utara, Sekolah Anak Rima "Sokola" di Jambi,
Sanggar Akar dan Sanggar Ciliwung di Jakarta.Madrasah Tsanawiyah As
Sururon dan Bale Rahayat di Garut, SMP Qaryah Thayibbah di Salatiga,
Sanggar Anak Alam dan SD Mangunan di Yogyakarta, dan masih banyak
lagi.

Ada dua model besar penyelenggaraan sekolah alternatif itu. Ada
yang berkompromi dengan sistem pendidikan formal tetapi ada yang
tidak mau berkompromi. Model pertama biasanya mengambil bentuk
sekolah formal meski dengan sejumlah penyiasatan, menganggap penting
nilai ijazah, dan mengukur mutu berdasarkan standar nilai rata-rata.

Pengamat pendidikan Dr Mochtar Buchori memberikan ilustrasi kedua
model itu dengan membandingkan antara pendidikan alternatif Sanggar
Akar dan SMP Alternatif Qaryah Thayibbah. Menurut Mochtar, Sanggar
Akar lebih merupakan perjuangan sosio-kultural, yang dipentingkan
adalah bagaimana anak menemukan arti dalam kehidupannya. Karena itu
soal ujian dan ijazah dianggap remeh. Sedangkan sekolah model Qaryah
Thayibbah lebih dilatarbelakangi perjuangan sosial-ekonomis,
bagaimana memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak petani di
desa.

Dalam model pendidikan pertama, anak-anak bisa menjadi kekuatan
subversif dalam masyarakat tertentu. "Tergantung tujuannya, apakah
pendidikan mau menormalkan atau mau melawan. Memberikan kemampuan
belajar menjadi penting untuk memberikan kesempatan anak-anak
marginal menumbuhkan jiwa kewiraswastaannya," kata Mochtar.

Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto mengatakan bahwa pendidikan
alternatif untuk kaum miskin memang merupakan kritik radikal terhadap
pendidikan formal. Paradigma yang dianut adalah paradigma pembebasan.
Karena itu harus ada penyadaran kritis pada diri anak bahwa
kemiskinan yang mereka alami bukan merupakan kenyataan yang terjadi
begitu saja tetapi merupakan akibat dari proses pemiskinan.

"Bukan mengajak anak membangun konfrontasi tetapi justru
mengajak anak secara visioner melihat sistem apa yang harus
dibangun," kata Ibe.

Dalam semangat perlawanan itu mungkinkah pendidikan alternatif
berkolaborasi dengan pemerintah? Mengapa tidak? Menurut Eko Djatmiko,
tidak ada masalah sekolah alternatif bekerja sama dengan pemerintah
meskipun mereka mengembangkan semangat perlawanan. Demi pencerdasan
bangsa, perbedaan-perbedaan antara formal dan nonformal, antara
masyarakat dan negara, mesti disinergikan.

Semangat perlawanan, kata Lodi Paat, Pengajar Pengantar Ilmu
Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, yang selama ini terjadi
juga bukan monopoli pendidikan nonformal atau sekolah alternatif.

"Perlawanan seharusnya tidak hanya dilakukan sekolah-sekolah
alternatif tetapi juga sekolah-sekolah formal. Dalam situasi
sekarang, tanpa perlawanan, kita akan dirampok habis-habisan," kata
Lodi.

PERLU REFORMASI RADIKAL

Pendidikan Kesetaraan Malah Mengadopsi Pendidikan Formal

KOMPAS, Jumat, 21-07-2006.
Jakarta, Kompas
Reformasi pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C ternyata tidak
sesuai yang dijanjikan karena cenderung memindahkan sistem
persekolahan dalam pendidikan nonformal.

Berbagai kalangan mendesak pemerintah melakukan reformasi
pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C secara radikal agar dapat
mengakomodasi keinginan masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan
sesuai kebutuhan komunitas. Desakan itu muncul dalam
diskusi "Pendidikan Kesetaraan: Peluang atau Ancaman bagi Sekolah
Alternatif" yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar di Jakarta, Kamis
(20/7).

Dari pengakuan sejumlah penyelenggara sekolah alternatif maupun
mereka yang pernah mengikuti ujian kesetaraan, terungkap bahwa
eligibilitas yang dijanjikan pemerintah juga tidak terwujud di
lapangan. Beberapa sekolah negeri di Jakarta menolak menerima siswa
yang berijazah kesetaraan. Bahkan, untuk mengikuti ujian kesetaraan
masyarakat harus mengeluarkanuang ratusan ribu rupiah meski telah
dinyatakan gratis.

Staf Direktorat Kesetaraan Depdiknas, Elih Sudiya Permana,
mengungkapkan pihaknya juga memperoleh sejumlah pengaduan praktik
pungutan terhadap peserta ujian kesetaraan. Praktik pungutan untuk
kelulusan ujian kesetaraan juga dibenarkan Andri Cahyadi, pendamping
anak jalanan di Jakarta

Menurut Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto, pengaturan program
kesetaraan saat ini makin blunder dengan diikutinya ketentuan-
ketentuan pendidikan formal dalam program kesetaraan. Dalam jam
belajar pun ada kecenderungan pemerintah mau mengatur lebih ketat.
Untuk Paket C (setara SMA), ditetapkan lama belajar 969 jam dalam 180
hari per tahun, dengan 30 satuan kredit semester.

Pemerintah, kata Ibe, harus melakukan reformasi radikal terhadap
program kesetaraan, sehingga program kesetaraan memiliki otonomi
dalam menyelenggarakan pendidikannya dan tidak menjadi miniatur
pendidikan formal.

"Mestinya pendidikan kesetaraan mengakomodasi beragam jenis
pendidikan komunitas yang berkembang di masyarakat. Pemerintah cukup
memfasilitasi kreativitas dalam masyarakat," tutur Ibe.

Lebih kaku
Koordinator Keluarga Peduli Pendidikan (KerLip) Yanti Sriyulianti
menyatakan keheranannya mengapa pengaturan program pendidikan
kesetaraan Paket A, B, dan C sekarang justru lebih kaku dibandingkan
pendidikan formal. Mengambil contoh SD Hikmah Teladan Cimahi,
Bandung, Yanti mengatakan bahwa sekolah formal pun bisa menetapkan
kurikulum dan menentukan buku-buku ajarnya sendiri dan bahkan bisa
mendapatkan akreditasi sangat baik.

"Pendidikan kesetaraan mestinya tidak menduplikasi pendidikan
formal, termasuk dalam sistem evaluasinya," kata Yanti.

Bagi Retno Listyarti, guru SMA Negeri 13 Jakarta Utara,
pendidikan nonformal jelas tidak sama dengan pendidikan formal.
Karena itu, indikator untuk mengukur keberhasilan anak didiknya
sangat berbeda dan tidak mungkin disamakan.

Pendidikan kesetaraan, kata Retno, tidak cocok diuji dengan model
pilihan ganda. Dengan standar kelulusannya yang rendah, tak usah
belajar pun peserta ujian kesetaraan bisa lulus. Evaluasi program
kesetaraan mestinya diukur dari aspek kecakapan hidup, bukan semata-
mata penguasaan keterampilan, apalagi penguasaan akademik.

Suryanto dari Sanggar Ciliwung mengemukakan, pemerintah mestinya
memberikan pengakuan pada pendidikan alternatif yang diselenggarakan
masyarakat. Apalagi kenyataannya tidak ada nilai kurang bagi mereka
yang mengikuti ujian kesetaraan asalkan bisa membayar.(wis)

MUSIK, TERAPI PSIKOLOGIS ANAK

KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.
Jakarta, Kompas
Anak-anak pinggiran/jalanan perlu ditangani dengan pendekatan
individual, realistis, dan sesuai dengan bakat mereka. Dalam hal ini,
musik bisa menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena dengan
mengekspresikan diri melalui karya musik, mereka mendapatkan
kebanggaannya.

Demikian benang merah diskusi "Musik sebagai Media Penyadaran
Anak Pinggiran" yang diselenggarakan Sanggar Anak akar Institut Sosial
Jakarta (ISJ) di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (12/5). Diskusi itu
merupakan rangkaian Kampanye Perlindungan Hak Anak yang diadakan
Konsorsium Anak Jalanan Indonesia, mulai 10 Mei hingga 11 Desember
1999 dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Diskusi itu menampilkan pembicara pemusik asal Bandung Harry
Roesli, penulis Arswendo Atmowiloto, pimpinan Sanggar Anak akar Ibe
Karyanto, dan pelatih musik Sanggar Anak akar Jeffar Lumban Gaol.
Sebelumnya, Selasa malam lalu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail
Marzuki, Sanggar Anak akar meluncurkan kaset volume kedua bertajuk
Anak Pinggiran. Bersamaan dengan peluncuran kaset itu, mereka juga
mementaskan operet berjudul Muka-muka di Kaca.

Dalam diskusi kemarin, Arswendo Atmowiloto mengemukakan,
sebenarnya anak-anak jalanan tidak butuh dikasihani, mereka hanya
butuh diperhatikan dan diberi keterampilan. Arswendo melihat,
penyadaran kepada mereka tetaplah merupakan penyadaran secara pribadi,
secara individual.

"Yang penting menyadarkan bagaimana mereka dapat bertahan
hidup tanpa mengandalkan kroni, tanpa mengandalkan maesenas, tanpa
mengandalkan belas kasihan, juga tanpa mengharapkan keajaiban. 'Sang
penyelamat' mereka adalah diri mereka sendiri," papar Arswendo.

Dalam bayangan Arswendo, pendekatan atau penyadaran pribadi
lepas pribadi adalah membiarkan mereka menemukan cara terbaik untuk
hidup. Maksudnya, jangan memaksa mereka untuk meninggalkan habitatnya,
situasi dan kondisi mereka yang selama ini menjadikan mereka hidup.
"Jangan paksa ajari pertobatan, nilai luhur atau tata krama. Mereka
akan mempraktikkan kalau memerlukan," kata Arswendo.

Penyadaran melalui musik, berteater, berseni lukis, berkarya
atau hidup bersama, pada akhirnya adalah penyadaran akan kemampuan
individual untuk menjadi 'jagoan', supaya mampu bertahan di tengah
kerasnya kehidupan yang harus mereka jalani.


Kebanggaan
Sementara menurut pelatih musik Jeffar Lumban Gaol, harga diri
dan kebanggaan anak-anak pinggiran dapat dibangkitkan melalui musik.
Musik dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. "Yang saya tekankan
pada mereka: jika kalian bermain musik, maka kalian akan
diperhatikan," katanya.

Pemusik Harry Roesli menyatakan, upaya menyadarkan anak-anak
pinggiran agar mereka bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku
adalah sebuah kerja yang sangat besar. Namun, kata Harry, sebenarnya
ketidaksadaran anak-anak pinggiran itu merupakan ekses dari
ketidaksadaran orang-orang yang berada di atas atau orang-orang yang
memiliki kewenangan.

"Mencuri, buat norma kita itu kriminal. Tetapi buat mereka
nilainya survival, kendati orang-orang yang normatif juga suka
mencuri, korupsi, dan manipulasi. Malak atau berkelahi buat kita
nilainya negatif, tetapi buat mereka itu nilai dari sebuah eksistensi
di dunia mereka. Jadi penyadaran itu harus dimulai dari bapak-bapak
kita," kata Harry.

Dia mensinyalir jumlah anak pinggiran ini kian hari kian
bertambah. Dari pemantauan di perempatan-perempatan jalan di Kota
Bandung, setiap tiga hari ada lima anak baru. Karena itu dia sepakat
bahwa musik memang efektif untuk penyadaran. Menurut dia, lagu-lagu
anak jalanan jauh lebih kontekstual, lebih mengakar daripada lagu-lagu
yang dibawakan grup musik yang telah terkenal saat ini.

Sementara itu, Ibe Karyanto mengungkapkan, yang lebih sering
terjadi anak-anak jalanan ini belajar musik dari teman-teman mereka.
Mereka sendiri yang menentukan jadwal latihan sore hari, karena pada
pagi, siang atau malam hari ada yang kerja jualan koran atau calo
taksi. "Jadi saya tidak mengajari mereka. Saya tidak ingin mereka
hanya menjadi tukang. Saya ingin mereka mengenal potensi diri seperti
lagu berjudul Membangun Mimpi di atas Kaki Sendiri," tuturnya.

Menyinggung kaset Sanggar Anak akar volume kedua, Susilo
Adinegoro selaku produser mengatakan, kaset tersebut diproduksi 3.000
buah. Sedangkan volume pertama yang berjudul Nyanyian Ranting Kering
telah terjual 10.000 kaset dan permintaan tetap mengalir hingga kini.
"Biaya produksi kaset volume kedua ini Rp 15 juta. Kaset itu akan kami
pasarkan lewat acara-acara diskusi. Kami akan membuka jaringan pasar
sendiri," kata Susilo. (ij/lok)

NYANYIAN ANAK-ANAK PINGGIRAN

Berharap ada bintang jatuh,
biar aku bisa minta sesuatu...


ANDAI benar ada bintang jatuh, mungkin anak-anak jalanan,
anak-anak pinggiran, yang menyaksikannya akan mengucapkan harapan,
"Tuhan, beri rezeki untukku hari ini. Tuhan, buka mata hati para
penguasa kota, para petugas tramtib, supaya tidak mengejar-ngejar
diriku mirip buronan dan menjebloskanku ke panti sosial."

Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Realitasnya, anak-anak
jalanan di negeri ini, dari waktu ke waktu, justru harus berbenturan
dengan aparat keamanan. Tindak kekerasan mereka rasakan. Tak cuma itu
penderitaan mereka. Di rumah, mau tak mau mereka turut mendengar dan
melihat berbagai kesulitan yang dihadapi orangtua mereka: tak punya
uang, tak ada beras, tak punya telur, minyak pun habis.

Berangkat dari pengalaman keseharian anak-anak jalanan inilah
operet Nyanyian Para Saksi digelar Sanggar Anak 'akar', 1-2 Oktober
2000 di Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Operet yang disutradarai Ibe Karyanto dan penataan musiknya
dibantu Oppie Andaresta ini merupakan produksi kedelapan Sanggar
'akar'. Tujuh pementasan terdahulu, adalah Opera Bencana (Banjir),
Nyanyian Ranting Kering, Hari-hari Hidupku, Senandung Akar Rumput,
Opera Luka-lukaku, Opera Muka-muka di Kaca, dan Rahmat Membangun
Mimpi.
***
NYANYIAN Para Saksi bercerita tentang pengalaman hidup Nina (9),
bocah yang biasa mengamen di perempatan jalan. Nina hanyalah satu
dari sekian banyak bocah kecil yang menjadi saksi kerasnya hidup yang
membelit orangtua mereka. Ia menyaksikan bagaimana ayahnya digebuki
aparat dan harus masuk rumah sakit. Sementara di rumah, mereka tak
memiliki apa-apa untuk dimakan.

Seperti biasa, Nina mengamen di perempatan bersama kawan-
kawannya. Tak hanya Nina di jalanan. Ada pula anak-anak pedagang
asongan koran atau penjual rokok eceran.

Petualangan Nina sebagai bocah tidak hanya menjadi saksi, tetapi
juga sebagai bocah yang sehari-hari menghadapi ancaman. Di jalanan,
ketika sedang mengais rezeki, hampir setiap hari Nina dan bocah-bocah
lainnya berhadapan dengan kejahatan para preman. Bahkan, mereka juga
harus menghadapi ancaman para petugas.

Masih banyak cerita duka anak-anak yang termarjinalkan. Akibat
pertikaian politik, bocah-bocah kecil yang jelas tak ada sangkut-paut
dengan politik, entah di Maluku, di Aceh, di Pontianak, atau di Poso,
kini tak bisa sekolah. Mereka terkungkung di lokasi pengungsian,
menjadi "saksi-saksi kecil" kekerasan bersenjata.

Cerita dalam operet memang mirip dengan hidup mereka setiap
harinya. Di Jakarta, anak-anak jalanan, entah pengamen ecek-ecek di
perempatan, pedagang asongan, atau apa pun aktivitas mereka mencari
nafkah, selalu diancam garukan petugas tramtib.

Operet adalah representasi hidup mereka. Kenyataan yang terjadi
sering lebih pahit. Simak saja. Saking muaknya pada Operasi
Penertiban Penyandang Masalah Sosial yang dilancarkan Pemerintah
Daerah Tingkat I DKI Jaya, anak-anak jalanan dari berbagai lokasi
pada tanggal 25 September 2000 berdemonstrasi di Balaikota memprotes
Gubernur DKI Jaya, Sutiyoso. Namun, bukan tanggapan positif yang
mereka dapatkan. Justru tindakan represif dan pukulan/ bogem mentah
para hansip sebagai jawaban protes mereka.
***
SIAPAKAH anak-anak anggota Sanggar 'akar' ini? Mereka adalah
anak-anak dari keluarga perkotaan yang tidak mampu secara ekonomi.
Mereka berasal dari berbagai lokasi di Jakarta. Mereka yang bertempat
tinggal di Cakung, umumnya anak-anak petani sayur yang menanam sayur
di bantaran sungai. Anak-anak dari Bantar Gebang yang orangtuanya
berprofesi sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah tersebut.
Anak-anak dari Penas lama, yang biasanya anak-anak penjual gorengan,
penjual ketoprak keliling, atau kuli bangunan.

Nina yang menjadi pemeran utama operet adalah murid kelas lima
SDN 12 Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. Setiap hari usai
sekolah hingga pukul 15.00, Nina mengamen di perempatan lampu merah
Kebon Nanas, Jakarta Timur. Kata Nina, bapaknya tidak bekerja.

Ditanya berapa penghasilannya setiap hari, ia menjawab, "Tiga
ribu perak. Yang dua ribu buat Emak, yang seribu buat jajan."

Sanggar 'akar' yang didirikan 22 November 1994 adalah media
pendidikan kreatif yang dibangun bersama oleh Biro Advokasi
Anak-Institut Sosial Jakarta dan anak-anak pinggiran. Kesulitan untuk
mencari tempat belajar dan bermain yang nyaman adalah salah satu
alasan yang mendesak dibanggunnya sanggar.

Bentuk sanggar sengaja dipilih untuk memfasilitasi terciptanya
proses "belajar sambil berkarya" dan membuka peluang sebanyak mungkin
kegiatan kreatif yang mampu mendukung pengembangan potensi anak. Di
samping kegiatan membaca di perpustakaan, mereka membuat kerajinan
(daur ulang, sablon), bermain musik, membuat tabloid, juga
mengembangkan kegiatan dinamika kelompok belajar dan teater.

Sebagian besar anggota Sanggar 'akar' adalah pengamen. Yang
masih kecil-kecil mengamen di traffic light, yang sudah besar
biasanya mengamen di dalam bus kota.

"Kami punya acara pertemuan setiap hari Minggu. Sekali pertemuan
biasanya terkumpul 90-100 anak. Selama tiga jam mereka belajar
sosiodrama, latihan public speaking, mengkritik teman, dan bercerita
lisan. Setelah latihan, mereka bebas main. Yang mau main musik, ya,
main musik diajari temannya yang sudah bisa," kata Ibe Karyanto,
pendamping anak-anak Sanggar 'akar'.

Kalau sudah memegang gitar, mereka akan menyanyikan serangkaian
tembang yang lirik-liriknya mengharukan. Seperti Oppie Andaresta yang
menyanyikan lagunya: //Pada saat terik lapar letih/mengais rezeki di
ladang sampah/badanku yang sekecil ini pasti tak mampu menjangkau
harga/semakin hari semakin menggila//Belum lagi datang preman/yang
selalu mengompas hasil keringatku/ badanku yang sekecil ini tak mampu
pertahankan semua hakku/semakin hari hidup semakin enggak
aman/berharap ada bintang jatuh/biar aku bisa minta sesuatu...

(Elok Dyah Messwati)