Sudah lama saya ingin mengisi kuliah di sanggar akar dengan kegiatan workshop Sastra. Ide ini sempat saya lontarkan pada Ibe Karyanto yang lebih dikenal di kalangan anak-anak akar dengan panggilan “Uwak” lebih dari setahun lalu. Akan tetapi rencana ini cukup lama tenggelam meski dan baru terlaksana menjelang ulang tahun akar ke-14. Saya bukanlah orang yang tahu sastra. Saya hanya merasa membaca cukup banyak karya sastra. Dari situlah saya belajar banyak. Ada begitu banyak novel dan penulis yang saya sukai. Beberapa novel juga memberi inspirasi dalam hidup saya, menemani saya pada saat harus berjuang dalam kesepian.
Sebagai seorang jurnalis saya belajar banyak dari sastra. Di rumah saya membiasakan anak saya, Oxi, membaca sejak kecil. Sejak kelas 5 SD, ia saya perkenalkan dengan karya sastra. Barangkali ia belajar lebih banyak dari kegiatan membaca di rumah daripada yang ia peroleh dari bangku sekolah.
Saya menggunakan pendekatan literasi kritis dalam workshop ini. Literasi kritis hanya dibicarakan sedikit orang di Indonesia. Padahal pendekatan ini cukup populer, termasuk di negeri-negeri kapitalis seperti Amerika Serikat dan Australia. Literasi kritis membantu kita untuk tidak sekedar membaca teks tetapi juga menelaah secara kritis bagaimana teks itu dikonstruksi dalam relasinya dengan kekuasaan.
Dalam workshop ini saya menggunakan novel “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini saya pilih karena ini merupakan salah satu novel Indonesia yang bagus, ditulis oleh sastrawan yang hebat, dan bukunya relatif tipis. Pilihan ini saya ternyata cocok dengan anak-anak yang mengikuti workshop ini. Sekitar 15 anak ikut dalam workshop ini. Ada yang masih berumur 13 tahun, ada yang sudah lulus SMA.
Workshop ini terbagi dalam tiga sesi. Sesi terakhir akan diisi dengan pembuatan blog. Pada sessi pertama, saya awali dengan berbagi cerita mengenai novel yang paling menarik yang pernah dibaca. Saya senang sekali bahwa hampir seluruh anak sering membaca buku. Mereka bisa bercerita tentang novel-novel yang menurut mereka paling menarik. Ada Harry Potter, Laskar Pelangi, bahkan ada beberapa anak yang sudah membaca sejumlah buku tetra lurgi Pramoedya Ananta Toer. Ini berbeda sekali dengan pengalaman saya mengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta maupun dalam diskusi dengan komunitas jurnalistik di sebuah SMA Negeri paling top yang ada di Jakarta. Mereka jarang membaca buku. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenal Pramoedya Ananta Toer.
Setelah berbagi pengalaman, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok. Di tiap kelompok anak-anak bergantian membaca keras-keras bab pertama dari novel Banten Selatan. Tujuannya utamanya adalah supaya anak membiasakan membaca sampai selesai bab pertama. Biasanya, bab pertama adalah bagian yang tersulit bagi mereka yang belum terbiasa membaca buku. Karena itu dalam pembelajaran sastra, ada baiknya bab pertama dibahas bersama-sama. Setelah anak-anak selesai, kami mendiskusikan bab pertama. Mereka bilang bahwa buku ini mudah dibaca, bahasanya mudah, dan hidup. Kami juga mendiskusikan tentang kharakter utama dalam buku ini. Sessi ini diakhiri dengan tugas. Setiap anak diminta menulis berita, tinjauan buku, cerpen, atau naskah drama dari bagian buku ini.
Dalam pertemuan berikut, anak-anak membawa karya yang ditulisnya. Ada seorang anak yang menulis naskah drama. Kami mulai sessi kedua dengan mendiskusikan isi buku dan membahas bersama apa yang ditulis anak. Di sini anak diajak mengungkapkan pendapat mereka tentang tokoh-tokoh utama maupun isi cerita. Mereka mengidentifikasi Musa sebagai juragan yang jahat, berkong-kalikong dengan gerombolan dan pak lurah untuk menindas petani. Mereka bersimpati kepada Ranta dan isterinya Ireng, petani miskin yang tertindas. Akan tetapi mereka belajar bahwa mereka tidak menyerah. Petani-petani itu berani melawan penindasan, tidak dengan amok kekerasan, tetapi dengan strategi yang baik dan akhirnya menang.
Ada tiga aktivitas utama dalam kegiatan tersebut. Membaca, berbicara di depan umum, dan menulis. Inilah tiga aktivitas utama dalam komunikasi yang menjadi kelemahan anak-anak sekolah.
Sessi kedua diisi pula dengan belajar menulis deskripsi dan narasi. Anak-anak saya minta menuju ruangan di kompleks sanggar yang paling berkesan bagi mereka. Mereka saya minta mengamati dan merekam dengan pancaindra mereka. Ketika mereka berkumpul kembali, saya minta mereka bernapas seperti lebah dan kemudian terbang sebagai seekor lebah. Dengan suara mendengung mereka terbang di atas Kali Malang, melihat sanggar dari atas, kemudian masuk ke dalam kompleks sanggar Akar, dan mencari ruangan yang paling mereka sukai. Selesai mengamati mereka terbang lagi ke luar sanggar, masuk lagi, dan kembali bersatu dengan tubuh mereka. Cara ini akan membantu kita dalam mendeskripsikan dan menceritakan sesuatu. Deskripsi dan narasi merupakan kelemahan utama penulis di Indonesia, baik itu jurnalis maupun novelis.
Ini merupakan beberapa contoh karya yang ditulis anak-anak dari “reportase” Pramoedya yang ditulis dalam buku Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Menurut saya, tulisan-tulisan ini cukup bagus. Bila anak-anak ini rajin membaca, terus-menerus menulis, mereka pasti akan menjadi penulis-penulis yang tangguh. (P Bambang Wisudo)
Cerpen
MAU HIDUP ENAK, MAKANYA BERJUANG ...
Kabut hitam telah menyihir gumpalan-gumpalan awan putih bersih menjadi beberapa kumpulan awan yang berwarna hitam kelabu. Dinginnya udara pegunungan semakin menusuk-nusuk tulang. Dari jauh nampak sebuah pegunungan yang dipadati oleh pepohonan yang tinggi, tetapi tidak terlihat jelas karena selimut tebal kabut hitam. Sesekali angin datang untuk menyampaikan suara deburan ombak yang berasal dari laut Hindia.
Di balik selimut tebal kabut nampak samar-samar sebuah gubuk reot. Gubuk tersebut bertiangkan bambu yang sudah lapuk. Atapnya daun rumbia. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sana-sini sudah mulai berlubang dimakan rayap. Lantai tempat mereka berpijak adalah sebuah lantai alami yang tak akan didapatkan pada zaman sekarang yaitu lantai tanah. Gubuk reot itu hanya dihuni oleh sepasang suami-istri, yaitu Ranta dan Ireng.
Nampak dari kegelapan dua orang pemikul singkong hendak menuju truk-truk dari kota memunggah singkong. Kedua pemikul singkong itu bernama Aden dan Melki. Mereka berdua sama-sama menggunakan celana hitam selutut dan bertopi capio. Sesampainya di pondok milik Ranta mereka berdua berhenti untuk istirahat dan minum sedikit air sebagai penghilang dahaga.
Aden : Rupanya mau hujan lagi ya ?
Melki : Iya, seandainya saja kita punya gerobak!
Aden : GEROBAK!!! Yang benar saja kau ini kalau bicara.
Melki : Dulu jalan ini kita yang buat, tapi apa sekarang, masa mau lewat jalan buatan sendiri saja mesti bayarpajak pada Onderneming, padahal ini kan jalan kita sendiri.
Aden : udah jangan kebanyakan omong, nanti keburu ujan lho,
Mereka berdua segera menghilang dari pondok Ranta. Tak berapa lama Ranta sampai dirumah turunlah hujan. Ranta yang sedang duduk di bale segera menurunkan kakinya ketika mendengar suara seorang perempuan yang sudah tak asing lagi baginya. Ireng, itulah istri Ranta,
Ireng : Sudah pulang pak? Tak ada hasil!
Ranta : Sapinya sudah dijualkan kepada orang, bagaimana dipasar tadi?
Ireng : Pasar kacau, diobrak abrik DI.
Ranta : Dia lagi.........
DI atau Darul islam adalah sekelompok manusia yang tak berkeprimanusian. Merekalah yang selalu meresahkan warga desa Banten Selatan. Pada saat mereka sedang asik berbincang-bincang tentang DI, datanglah juragan Musa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia datang untuk menyuruh Ranta mencuri bibit karet milik ondermining, dengan upah uang seringgit. Jam sebelas malam Ranta pergi untuk melancarkan pekerjaanya. Setelah beberapa kali bolak-balik Ranta mengantar curian bibit karet untuk juragan Musa. Pada saat Ranta ingin meminta sisa upah atas pekerjaan yang dilakukannya itu, ia malah di pukuli dengan rotan dan mereka juga merampas pikulan dan golok milik Ranta. Pada saat Ranta kembali kerumahnya , Ranta di sambut oleh Ireng dan kedua pemikul singkong. Setelah keadaan Ranta sedikit membaik, mereka berbincang-bincang tentang kekejian juragan Musa. Beberapa hari kemudian setelah perbincangan itu, kedua pemikul singkong itu membawa teman 1 lagi yang bernama Isa untuk berunding bagaimana caranya untuk menghancurkan kekejian juragan Musa.
Tak begitu lama ketiga penjual singkong itu pergi datanglah juragan Musa dengan aktentas dan tongkat yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Seperti biasa ia datang untuk meyuruh Ranta mencuri bibit karet lagi. Awalnya tidak ada jawaban. Akhirnya Ranta muncul dengan geramnya menghadapi juragan Musa.
Perlawanan dari Ranta membuat juragan Musa lari tunggang kanggang sampai aktentas dan tongkatnya jatuh. Ia tersungkur diatas tanah. Ketiga pemikul singkong itu kembali dan mulai berdiskusi mau diapakan aktentas dan tongkat itu. Lama mereka berunding dan menghasilkan keputusan untuk memberikan aktentas tersebut sebagai barang bukti penangkapan juragan Musa. Ranta, Ireng, dan ketiga penmikul singkong, mereka pergi bersama-sama menghadap komandan.
Juragan Musa menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Ranta dan mengambil aktentas dan tongkat yang tertinggal. Bila perlu bakar saja rumahnya. Tapi tindakan juragan musa terlambat karena Ranta dan yang lain sudah sampai di markas komandan. Komandan pun juga sudah menyusun rencana penangkapan Juragan Musa. (Watik)
Diolah dari:
Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Pramoedya Ananta Toer
Berita
Kerusuhan ‘DI’ berakhir, Warga Arep Tangi pun bangkit
Kerusuhan yang terjadi di wilayah Banten Selatan kini sudah menemukan titik cerah. Upaya penangkapan dalang dari kerusuhan dan penindasan terhadap warga Kelurahan Arep Tangi akhirnya dapat berjalan dengan baik. Komandan dan gerombolan prajurit meringkus Juragan Musa (40 thn) pada Rabu (15/10) malam di kediamannya di desa Arep tangi, setelah terbukti terlibat sebagai dalang kerusuhan dengan bendera Darul Islam (DI) yang selama ini menikam rakyat.
Penangkapan terhadap Juragan Musa itu kemudian disusul dengan penangkapan anggota-anggota pemberontak yang tergabung dalam sindikat pemberontak Darul Islam. Penangkapan ini menjadi akhir dari pencarian aparat keamanan selama kurang lebih 8 tahun yang dahulu nyaris tanpa hasil. Terbongkarnya sindikat ini didasarkan dari informasi seorang warga setempat yang juga menjadi korban.
“Kami memang kesulitan menangkap pelaku kerusuhan ini karena tidak ada bukti yang jelas, tetapi akhirnya kami mendapat informasi dari seorang korban beserta bukti berkas-berkas terkait kerusuhan DI yang sudah lama melanda kelurahan ini. Bukti-bukti ini menjadi acuan kami untuk mengadakan penyelidikan dan akhirnya menangkap oknum kejahatan tersebut” ungkap Komandan.
Tidak berhenti sampai disitu, ternyata aparat pemerintahan desa seperti Lurahpun juga terbukti terlibat dalam sindikat kerusuhan DI. Karena keterlibatan itu, maka Komandan mengambil tindakan untuk menempatkan Lurah sementara dari warga setempat.
Akibat perbuatan mereka itu, tidak hanya bangunan desa seperti pasar, kebun, rumah warga yang porak-poranda setelah di obrak-abrik oleh sindikat DI. Mereka juga melakukan tindakan kriminal yang merugikan masyarakat, seperti aksi-aksi kekerasan. Warga dipaksa hidup dalam ketakutan, terselubung dalam kemiskinan dan tidak berdaya.
Warga desa Arep Tangi saat ini terlihat mulai bangkit. Mereka mulai bergotog-royong memperbaiki fasilitas-fasilitas desa seperti jalan, pasar , serta membuka lagi saluran air untuk kebutuhan irigasi sawah dan kebun yang selama ini dikuasai oleh juragan-juragan tertentu saja. Mereka bahu-membahu membuat waduk untuk pemeliharaan ikan dan membuka perladangan untuk menanam duren dan kelapa untuk kebutuhan bersama. Warga desa yang sebagian besar hanya mengenal pacul dan sawah inipun juga telah tergerak untuk memulai mengenal baca tulis untuk kebutuhan masa depan.
Saat diwawancarai mengenai pembangunan desa, Ranta (39 thn) selaku Lurah sementara menjawab,
“ Kami memang sudah mulai bertekad untuk memperjuangkan kehidupan yang sejahtera, melawan kemiskinan dan keterpurukan kami selama ini melalui gotong royong membangun desa, karena tanpa sumbangsih kita bersama, sekalipun nasib akan memberi kita umur tiga kali lipat dari semestinya keadaan akan tetap beku, karena segalanya mesti diperjuangkan”.
Itulah suara yang mewakili warga desa Arep Tangi sebagai wujud rasa syukur karena terlepas dari cengkeraman pemberontak. (Saneri)
Naskah Drama
ADEGAN 1
Suatu sore yang amat mendung. Sebuah gubug yang terletak di kaki gunung di desa Arep tangi tampak gelap dan sunyi. Hanya terdengar suara gemericik air kali dari kaki gunung dan suara burung. Tinggi gubuk yang dihuni ranta dan istrinya ini tidak lebih dari dua meter. Letaknya membelakangi sebuah bukit yang belum pernah digarap manusia. Pohon-pohon raksasa tumbuh dengan liarnya disertai semak-semak padat dibawahnya.
Ranta : (sambil mengetok pintu)
Reng, Ireng! Reng!!!
(Tidak terdengar jawaban, ranta akhirnya duduk di bale depan gubuknya. Dari kejauhan irengpun datang menghampiri ranta)
Ireng : Sudah pulang pak?
Ranta : Iya ( sambil terlihat mengeluh)
Ireng : Kenapa? Tidak ada hasil?
Ranta : Samasekali ga ada bu. O ya, gimana tadi dipasar?
Ireng : (tampak menahan lelah) Pasar kacau balau pak, diobrak-abrik DI.
Ranta :Ya ampun, gimana kita bisa pergi ke kota, nengok si Agil di rumah sakit, kalau kita tak punya apa-apa begini bu?
Ireng : (sambil mulai berkaca-kaca) Aku bingung pak. Aku ga mau kehilangan anak untuk ketiga kalinya. Tapi kalo kaya gini terus, si agil bisa ikut ga ada pak.
Ranta :Ya udah, Bu. nanti kita pikirkan lagi. Kita masuk dulu,ada yang ingin kubicarakan.
Ireng : (Ireng membukakan pintu dan masuk bersama Ranta)
(Di dalam rumah, sambil duduk di ambin dibawah cahaya damar atau lampu minyak, ranta menceritakan sesuatu kepada istrinya )
Ranta : Begini, Bu. Tadi aku ketemu Juragan Musa. Malam ini aku akan berangkat mengambil biji karet lagi sesuai dengan perintah juragan. Dia hanya memberiku ini. (sambil mengulurkan selembar uang)
Ireng : Seringgit?? Kalo aku laki-laki, sudah kutekuk batang lehernya. Kau yang selama ini baik dipaksa menjadi pencuri terus-menerus. Aku tak rela pak.
Ranta : (Sambil memegang tangan Ireng) Dengar Reng, aku memang sering nyolong tapi bukan karena kemauanku aku jadi maling. Ada waktunya, kita akan hidup baik dan senang. Sekarang in mereka yag tentuka hidup kita. Mereka!!
Ireng : Mereka siapa? Mereka siapa pak? (sambil memelas)
Ranta : Mereka yang datang pada kita hanya menyuruh kita menjadi maling. Mereka yang hidup memisah dari kita. Mereka, yang di dalam otanya cuma ada pikiran mau memangsa sesamanya. Mereka!!! (Sambil mengangkat tangan dengan telunjuk yang tak jelas arahnya)
Ireng : (Sambil menangis rintih) Cukup pak, Cukup..kumohon jangan pergi.
Ranta : ( Sambil berjalan menuju pintu) Doakan aku Reng, aku harus pergi sekarang.
(Ranta pun berjalan keluar dan menutup pintu, sementara Ireng tetap terduduk di atas ambin tak berdaya)
Tinjauan Buku
Sekali peristiwa di Banten Selatan
Pramoedya Ananta Toer
Sejak pertama saya sebenarnya berminat membaca buku ini. Tapi kurang mengerti dengan bahasanya. Lagian saya juga memang jarang baca buku-buku berat selain komik tentang kartun atau cerita lucu. Saya juga tidak pernah menulis resensi atau sejenisnya karena saya hanya belajar menulis di kelas bahasa Indonesia di sanggar. Kebetulan saya juga tidak sekolah formal.
Bbuku yang saya baca ini menceritakan tentang ada sebuah keluarga dengan kepala keluarga bernama Ranta dan istrinya Ireng. Dia keluarga yang miskin. Karena kemiskinan tersebut, Ranta dipaksa menjadi maling suruhan Juragan Musa.
Saat melakukan perintah Juragan Musa untuk mencuri bibit karet, bukannya mendapat upah, Ranta justru babak belur karena tertangkap oleh penjaga ladang karet juragan Musa. Juragan Musa sengaja menyuruh ranta menjadi pencuri supaya dia dapat mengeluarkan Ranta tanpa membayar gaji selama bekerja di ladang karetnya.
Kemudia di suatu hari setelah kejadian itu, juragan musa kembali mendatangi Ranta. Rantapun menunjukan rasa marah hingga membuat juragan musa pergi ketakutan. Saat dia lari, tas dan tongkatnya tertinggal didepan rumah Ranta. Dalam tas itu ada barang bukti bahwa juragan Musa selama ini bekerja sama dengan rombongan DI atau darul islam yang merusak kampung. Kemudian ranta menyerahkan tas tersebut kepada Komandan. Akhirnya juragan musa tertangkap dari bukti-bukti dalam tas milik jurangan.
Karena kejadian itu, Ranta diangkat jadi lurah. Kemudian warga bekerjasama membangun desa dan belajar baca tulis. (Sania)
Tinjauan Buku
Judul : Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Pengarang : Pramoedia Ananata Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Saya memang tidak membaca keseluruhan. Saya hanya membaca penuh pada bab pertama dan terakhir. Bab-bab yang lain dibaca dengan loncat-loncat. Dengan itu saya berusaha menyimpulan cerita dalam buku ini.
Buku ini bercerita tentang peristiwa di sebuah kampung yang kaya akan sumber daya alam tapi masyarakatnya miskin. Mereka kesulitan untuk bekerja karena banyaknya kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh pemberontakan Darul Islan (DI). Kampung yang sebagian besar penduduknya hidup dari lahan pertanian ini selalu diselimuti rasa ketakutan dan tidak berdaya.
Salah seorang warga yang juga sering menjadi korban ketidakberdayaan ini ialah Ranta. Dia sering dipaksa menjadi maling bibit karet oleh juragan Musa yang sebenarnya terlibat juga dalam persekutuan DI.
Akibat kerusuhan itu, rumah-rumah penduduk dan pasar menjadi rusak. Hingga akhirnya kerusuhan ini berakhir karena tertangkapnya Juragan Musa sebagai otak persekutuan DI dengan bukti yang ditemukan Ranta pada tas Juragan musa yang tertinggal di depan rumahnya. Setelah itu, rantapun diangkat menjadi Lurah.
Nah, gimana prosesnya? Terus gimana nasib desa selanjutnya, baca aja buku ini. (Eta)
Tampilkan postingan dengan label sanggar anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanggar anak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Desember 2008
ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA
KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.
JANGAN lagi pakai istilah anak jalanan, kalau Anda tak ingin
diumpat. Sebab "anak jalanan" kini punya konotasi "anak yang berada
di jalan" untuk mengemis, mengiba-iba dengan ecrek-ecrek tutup botol,
yang perlu dikhotbahi oleh Rano Karno "boleh kerja di jalan asal tetap
sekolah". Yang oleh Depsos dan pemda dianggap perlu ditertibkan di
rumah singgah atau pesantren.
Ada pula yang melabel anak jalanan sebagai "teroris" di perempatan
jalan, yang jika tidak dikasih duit maka mobil Anda dicoret paku.
Malah
ada yang bikin generalisasi bahwa pencongkel kaca spion mobil mewah
adalah anak jalanan.
Tidak semua anak jalanan adalah pengemis atau teroris. Yayasan
Anak Merdeka di Bandung pimpinan Nugroho GPH terbukti berhasil
mengajak anak-anak jalanan untuk melukis dan membuat kerajinan serta
menerbitkan tabloid Bebas yang mereka kelola dan isi sendiri.
Begitu pula dengan Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana
alias "Girli" di Yogyakarta pimpinan A Didit Adidananta yang tidak
mengindoktrinasi anak-anak jalanan untuk jadi anak "baik-baik"
dan "normal", namun malah membebaskan mereka berkreasi dan
berekspresi. Majalah Jejal yang mereka terbitkan mencerminkan filosofi
calistung (pemberantasan buta kemampuan dasar) yang sifatnya
partisipatif. Beberapa anak "Girli" malah jadi bintang film dan
bermain dengan prima di film Daun di Atas Bantal.
Bandingkan pula dengan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar
Anak akar Institut Sosial Jakarta (ISJ), yang serius belajar main
gitar, rebana, menyanyi dan tampil berteater. Mereka ini lebih bangga
menyebut diri sebagai "anak pinggiran", karena selain ada yang memang
benar-benar "berprofesi" sebagai anak jalanan, ada pula anak
perkampungan kumuh dan dari keluarga miskin.
Panggilan "anak pinggiran" lebih menyiratkan cibiran kepada mereka
yang berpunya dan berkuasa karena mereka inilah yang biasa
meminggirkan
anak-anak yang kurang beruntung. Anak pinggiran bukanlah anak pengiba-
iba yang mengharap belas kasihan atau yang cuma meratapi nasib jika
kena penertiban aparat.
Inilah metamorfosis yang dialami Ibe Karyanto, pengasuh Sanggar
Anak akar. Empat tahun lalu ketika ia mementaskan karyanya, operet
Nyanyian Ranting Kering, lagu-lagunya bernada sendu dan masih pakai
kata "anak jalanan" yang mengharapkan untuk dipahami, sementara pada
pementasan Muka-muka di Kaca hari Selasa (11/5) lagu-lagunya lebih
gagah, tegar dan sarat dengan elan vitalea "anak pinggiran". Keduanya
dipentaskan di tempat terhormat, yaitu di Graha Bakti Budaya Taman
Ismail Marzuki (TIM).
Dengar saja lagu Anak Pinggiran yang juga menjadi judul kaset
lagu-lagu pengisi Muka-muka di Kaca: Inilah cerita anak
pinggiran/menggenggam sebuah harapan/tegar niatnya menantang isi
kota/ingin wujudkan cita-citanya/tak pernah takut dan tak pernah
surut/walau dikurung duka/hidup ceria walau orang suka
menyingkirkannya.
***
MENYAKSIKAN pementasan Atin, Dini, Kris, Sugi, Ucil, dan
kawan-kawannya yang kebanyakan masih kelas tiga sampai lima SD,
sungguh berbeda dengan menonton video klip Joshua yang begitu
artifisial dan komersial. Anak-anak Sanggar akar ini lebih lugu dan
alami. Atin misalnya, tak merasa sungkan untuk menggaruk kaki yang
gatal karena gigitan nyamuk atau menyerahkan mikrofon ke temannya
karena ia sudah kecapaian. Mereka juga mengakui bahwa mereka terkadang
tak mengerti pada sebagian lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan.
Berbeda dengan penampilan anak-anak yang lebih spontan dan
lantang, para pemain dewasa yang mendukung Muka-muka di Kaca justru
agak kedodoran akting dan vokalnya. Tema cerita yang menokohkan
pejabat kaya-raya Hartono dan istrinya yang suka foya-foya, terkesan
agak "hitam-putih". Simak saja lagu Ciptaan yang dinyanyikan Atin dan
kawan-kawannya: Kami bukan yang paling benar/kami juga manusia yang
sama/hanya karna tak punya kuasa/jadilah kami selalu dimangsa.
Betapapun, anak-anak pinggiran asuhan ISJ telah menunjukkan
dengan bernyanyi dan berpentas mereka meraih lagi percaya diri dan
martabat. Sebagai anak-anak pinggiran pun mereka berhak ikut memiliki
dan mewarisi negeri ini. Ini tercermin pada tekad mereka lewat lagu
Saatnya Kami Bicara: Tetapi aku takkan sekalipun/merunduk tunduk dan
mengalah pada duka/saatnya pastikan tiba/aku harus bicara/tuk merebut
semua milikku.
Mudah-mudahan tidak ada pejabat yang lantas mewaspadai karya
sanggar ISJ ini berbau marhaenis, apalagi Marxis... (ij)
JANGAN lagi pakai istilah anak jalanan, kalau Anda tak ingin
diumpat. Sebab "anak jalanan" kini punya konotasi "anak yang berada
di jalan" untuk mengemis, mengiba-iba dengan ecrek-ecrek tutup botol,
yang perlu dikhotbahi oleh Rano Karno "boleh kerja di jalan asal tetap
sekolah". Yang oleh Depsos dan pemda dianggap perlu ditertibkan di
rumah singgah atau pesantren.
Ada pula yang melabel anak jalanan sebagai "teroris" di perempatan
jalan, yang jika tidak dikasih duit maka mobil Anda dicoret paku.
Malah
ada yang bikin generalisasi bahwa pencongkel kaca spion mobil mewah
adalah anak jalanan.
Tidak semua anak jalanan adalah pengemis atau teroris. Yayasan
Anak Merdeka di Bandung pimpinan Nugroho GPH terbukti berhasil
mengajak anak-anak jalanan untuk melukis dan membuat kerajinan serta
menerbitkan tabloid Bebas yang mereka kelola dan isi sendiri.
Begitu pula dengan Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana
alias "Girli" di Yogyakarta pimpinan A Didit Adidananta yang tidak
mengindoktrinasi anak-anak jalanan untuk jadi anak "baik-baik"
dan "normal", namun malah membebaskan mereka berkreasi dan
berekspresi. Majalah Jejal yang mereka terbitkan mencerminkan filosofi
calistung (pemberantasan buta kemampuan dasar) yang sifatnya
partisipatif. Beberapa anak "Girli" malah jadi bintang film dan
bermain dengan prima di film Daun di Atas Bantal.
Bandingkan pula dengan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar
Anak akar Institut Sosial Jakarta (ISJ), yang serius belajar main
gitar, rebana, menyanyi dan tampil berteater. Mereka ini lebih bangga
menyebut diri sebagai "anak pinggiran", karena selain ada yang memang
benar-benar "berprofesi" sebagai anak jalanan, ada pula anak
perkampungan kumuh dan dari keluarga miskin.
Panggilan "anak pinggiran" lebih menyiratkan cibiran kepada mereka
yang berpunya dan berkuasa karena mereka inilah yang biasa
meminggirkan
anak-anak yang kurang beruntung. Anak pinggiran bukanlah anak pengiba-
iba yang mengharap belas kasihan atau yang cuma meratapi nasib jika
kena penertiban aparat.
Inilah metamorfosis yang dialami Ibe Karyanto, pengasuh Sanggar
Anak akar. Empat tahun lalu ketika ia mementaskan karyanya, operet
Nyanyian Ranting Kering, lagu-lagunya bernada sendu dan masih pakai
kata "anak jalanan" yang mengharapkan untuk dipahami, sementara pada
pementasan Muka-muka di Kaca hari Selasa (11/5) lagu-lagunya lebih
gagah, tegar dan sarat dengan elan vitalea "anak pinggiran". Keduanya
dipentaskan di tempat terhormat, yaitu di Graha Bakti Budaya Taman
Ismail Marzuki (TIM).
Dengar saja lagu Anak Pinggiran yang juga menjadi judul kaset
lagu-lagu pengisi Muka-muka di Kaca: Inilah cerita anak
pinggiran/menggenggam sebuah harapan/tegar niatnya menantang isi
kota/ingin wujudkan cita-citanya/tak pernah takut dan tak pernah
surut/walau dikurung duka/hidup ceria walau orang suka
menyingkirkannya.
***
MENYAKSIKAN pementasan Atin, Dini, Kris, Sugi, Ucil, dan
kawan-kawannya yang kebanyakan masih kelas tiga sampai lima SD,
sungguh berbeda dengan menonton video klip Joshua yang begitu
artifisial dan komersial. Anak-anak Sanggar akar ini lebih lugu dan
alami. Atin misalnya, tak merasa sungkan untuk menggaruk kaki yang
gatal karena gigitan nyamuk atau menyerahkan mikrofon ke temannya
karena ia sudah kecapaian. Mereka juga mengakui bahwa mereka terkadang
tak mengerti pada sebagian lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan.
Berbeda dengan penampilan anak-anak yang lebih spontan dan
lantang, para pemain dewasa yang mendukung Muka-muka di Kaca justru
agak kedodoran akting dan vokalnya. Tema cerita yang menokohkan
pejabat kaya-raya Hartono dan istrinya yang suka foya-foya, terkesan
agak "hitam-putih". Simak saja lagu Ciptaan yang dinyanyikan Atin dan
kawan-kawannya: Kami bukan yang paling benar/kami juga manusia yang
sama/hanya karna tak punya kuasa/jadilah kami selalu dimangsa.
Betapapun, anak-anak pinggiran asuhan ISJ telah menunjukkan
dengan bernyanyi dan berpentas mereka meraih lagi percaya diri dan
martabat. Sebagai anak-anak pinggiran pun mereka berhak ikut memiliki
dan mewarisi negeri ini. Ini tercermin pada tekad mereka lewat lagu
Saatnya Kami Bicara: Tetapi aku takkan sekalipun/merunduk tunduk dan
mengalah pada duka/saatnya pastikan tiba/aku harus bicara/tuk merebut
semua milikku.
Mudah-mudahan tidak ada pejabat yang lantas mewaspadai karya
sanggar ISJ ini berbau marhaenis, apalagi Marxis... (ij)
Label:
akar,
anak,
irwan julianto,
ISJ,
pendidikan,
pendidikan alternatif,
sanggar akar,
sanggar anak
ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA
KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.
JANGAN lagi pakai istilah anak jalanan, kalau Anda tak ingin
diumpat. Sebab "anak jalanan" kini punya konotasi "anak yang berada
di jalan" untuk mengemis, mengiba-iba dengan ecrek-ecrek tutup botol,
yang perlu dikhotbahi oleh Rano Karno "boleh kerja di jalan asal tetap
sekolah". Yang oleh Depsos dan pemda dianggap perlu ditertibkan di
rumah singgah atau pesantren.
Ada pula yang melabel anak jalanan sebagai "teroris" di perempatan
jalan, yang jika tidak dikasih duit maka mobil Anda dicoret paku.
Malah
ada yang bikin generalisasi bahwa pencongkel kaca spion mobil mewah
adalah anak jalanan.
Tidak semua anak jalanan adalah pengemis atau teroris. Yayasan
Anak Merdeka di Bandung pimpinan Nugroho GPH terbukti berhasil
mengajak anak-anak jalanan untuk melukis dan membuat kerajinan serta
menerbitkan tabloid Bebas yang mereka kelola dan isi sendiri.
Begitu pula dengan Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana
alias "Girli" di Yogyakarta pimpinan A Didit Adidananta yang tidak
mengindoktrinasi anak-anak jalanan untuk jadi anak "baik-baik"
dan "normal", namun malah membebaskan mereka berkreasi dan
berekspresi. Majalah Jejal yang mereka terbitkan mencerminkan filosofi
calistung (pemberantasan buta kemampuan dasar) yang sifatnya
partisipatif. Beberapa anak "Girli" malah jadi bintang film dan
bermain dengan prima di film Daun di Atas Bantal.
Bandingkan pula dengan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar
Anak akar Institut Sosial Jakarta (ISJ), yang serius belajar main
gitar, rebana, menyanyi dan tampil berteater. Mereka ini lebih bangga
menyebut diri sebagai "anak pinggiran", karena selain ada yang memang
benar-benar "berprofesi" sebagai anak jalanan, ada pula anak
perkampungan kumuh dan dari keluarga miskin.
Panggilan "anak pinggiran" lebih menyiratkan cibiran kepada mereka
yang berpunya dan berkuasa karena mereka inilah yang biasa
meminggirkan
anak-anak yang kurang beruntung. Anak pinggiran bukanlah anak pengiba-
iba yang mengharap belas kasihan atau yang cuma meratapi nasib jika
kena penertiban aparat.
Inilah metamorfosis yang dialami Ibe Karyanto, pengasuh Sanggar
Anak akar. Empat tahun lalu ketika ia mementaskan karyanya, operet
Nyanyian Ranting Kering, lagu-lagunya bernada sendu dan masih pakai
kata "anak jalanan" yang mengharapkan untuk dipahami, sementara pada
pementasan Muka-muka di Kaca hari Selasa (11/5) lagu-lagunya lebih
gagah, tegar dan sarat dengan elan vitalea "anak pinggiran". Keduanya
dipentaskan di tempat terhormat, yaitu di Graha Bakti Budaya Taman
Ismail Marzuki (TIM).
Dengar saja lagu Anak Pinggiran yang juga menjadi judul kaset
lagu-lagu pengisi Muka-muka di Kaca: Inilah cerita anak
pinggiran/menggenggam sebuah harapan/tegar niatnya menantang isi
kota/ingin wujudkan cita-citanya/tak pernah takut dan tak pernah
surut/walau dikurung duka/hidup ceria walau orang suka
menyingkirkannya.
***
MENYAKSIKAN pementasan Atin, Dini, Kris, Sugi, Ucil, dan
kawan-kawannya yang kebanyakan masih kelas tiga sampai lima SD,
sungguh berbeda dengan menonton video klip Joshua yang begitu
artifisial dan komersial. Anak-anak Sanggar akar ini lebih lugu dan
alami. Atin misalnya, tak merasa sungkan untuk menggaruk kaki yang
gatal karena gigitan nyamuk atau menyerahkan mikrofon ke temannya
karena ia sudah kecapaian. Mereka juga mengakui bahwa mereka terkadang
tak mengerti pada sebagian lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan.
Berbeda dengan penampilan anak-anak yang lebih spontan dan
lantang, para pemain dewasa yang mendukung Muka-muka di Kaca justru
agak kedodoran akting dan vokalnya. Tema cerita yang menokohkan
pejabat kaya-raya Hartono dan istrinya yang suka foya-foya, terkesan
agak "hitam-putih". Simak saja lagu Ciptaan yang dinyanyikan Atin dan
kawan-kawannya: Kami bukan yang paling benar/kami juga manusia yang
sama/hanya karna tak punya kuasa/jadilah kami selalu dimangsa.
Betapapun, anak-anak pinggiran asuhan ISJ telah menunjukkan
dengan bernyanyi dan berpentas mereka meraih lagi percaya diri dan
martabat. Sebagai anak-anak pinggiran pun mereka berhak ikut memiliki
dan mewarisi negeri ini. Ini tercermin pada tekad mereka lewat lagu
Saatnya Kami Bicara: Tetapi aku takkan sekalipun/merunduk tunduk dan
mengalah pada duka/saatnya pastikan tiba/aku harus bicara/tuk merebut
semua milikku.
Mudah-mudahan tidak ada pejabat yang lantas mewaspadai karya
sanggar ISJ ini berbau marhaenis, apalagi Marxis... (ij)
Label:
akar,
anak,
irwan julianto,
ISJ,
pendidikan,
pendidikan alternatif,
sanggar akar,
sanggar anak
PENGORBANAN IBE UNTUK ANAK PINGGIRAN
KOMPAS, Senin, 30-08-2004.
MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada
binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup
bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu
ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan,
dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan
tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih
tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali
Malang, Jakarta Timur.
IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang
beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan
masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup
serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.
Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang
bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya
hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama
puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi
selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya
hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.
Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak
jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik
dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk
mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi
andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di
sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada
yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan
bahasa Inggris. Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji
kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail
10-11 September mendatang.
Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak-
anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku
sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin
puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.
Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan
banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas,
sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama
untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar
didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.
Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi
permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi
senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan
aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak-
anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain-
lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak
kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.
Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman
dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan
keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.
PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa
kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun
1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta
(ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak
jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu
setengah tahun.
Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari
menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan
sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan
ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang
menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan
Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta
menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan
kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak
ada sekolahnya. "Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan
bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi," kata Ibe.
Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis
tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah
daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari
tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir-
pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap
kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan
bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.
Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ
menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka
yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah
Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.
Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer,
kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di
hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang
interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan
sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu
sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba
tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena
berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit
tidur, "penyakit" yang dialaminya sampai hari ini.
"Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk
menyembuhkan diri saya sendiri," kata Ibe.
KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin
apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan
anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun
kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak
mampu yang tinggal di daerah kumuh.
Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan
teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa
anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap
kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung
disuruh mandi dan membersihkan diri.
Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun,
kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding
dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia
siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta
maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk
di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan
mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan
maaf yang dia sampaikan.
"Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa
saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang
tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun," tutur Ibe.
Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa
hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai
sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta
benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.
"Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang
datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka," kata Ibe. (P BAMBANG
WISUDO)
MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada
binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup
bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu
ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan,
dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan
tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih
tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali
Malang, Jakarta Timur.
IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang
beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan
masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup
serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.
Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang
bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya
hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama
puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi
selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya
hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.
Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak
jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik
dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk
mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi
andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di
sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada
yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan
bahasa Inggris. Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji
kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail
10-11 September mendatang.
Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak-
anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku
sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin
puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.
Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan
banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas,
sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama
untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar
didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.
Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi
permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi
senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan
aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak-
anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain-
lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak
kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.
Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman
dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan
keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.
PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa
kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun
1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta
(ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak
jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu
setengah tahun.
Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari
menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan
sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan
ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang
menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan
Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta
menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan
kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak
ada sekolahnya. "Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan
bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi," kata Ibe.
Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis
tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah
daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari
tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir-
pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap
kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan
bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.
Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ
menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka
yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah
Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.
Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer,
kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di
hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang
interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan
sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu
sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba
tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena
berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit
tidur, "penyakit" yang dialaminya sampai hari ini.
"Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk
menyembuhkan diri saya sendiri," kata Ibe.
KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin
apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan
anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun
kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak
mampu yang tinggal di daerah kumuh.
Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan
teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa
anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap
kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung
disuruh mandi dan membersihkan diri.
Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun,
kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding
dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia
siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta
maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk
di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan
mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan
maaf yang dia sampaikan.
"Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa
saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang
tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun," tutur Ibe.
Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa
hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai
sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta
benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.
"Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang
datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka," kata Ibe. (P BAMBANG
WISUDO)
INDONESIA Marginalized Children Learn A Song That Helps Restore Their Dignity
Ucanews.com,July 28, 2004
JAKARTA (UCAN) -- Protecting, educating and supporting impoverished children is a major problem for many Asian countries, and a program started by Jesuits in Indonesia is doing something about it.
Since 2000, Sanggar Akar (roots workshop) has been an autonomous body providing education and support for marginalized children. It was founded in 1994 by Jesuit-run Jakarta Social Institute, and its leader, Ibe Karyanto, told UCA News about its work on July 23, National Children's Day.
Karyanto said he wrote a song, Suara Hati (voice of the heart), in 1995 "to urge people not to neglect their obligation when seeing the situation around them, and to take action after listening to their conscience."
Two young street singers, Unanng, 16, and Wahyudinata, 17, often sing that song. They work Jakarta's streets and stay in Sanggar Akar's main center in Cipinang Melayu, East Jakarta. Their earn about 30,000 rupiah (US$3.30) a day.
Unang says he sings Suara Hati not only for alms but also to "make people aware of their responsibility to care for unfortunate children." However, he also told UCA News that "singing the song makes me sad and brings memories of my Mama living alone in a village in Cirebon, West Java."
Sanggar Akar's main center houses 70 Muslim children, including 20 girls. More than 100 others stay in the organization's three branches around Jakarta. All those children, and at least 500 others who have stayed in the homes before, share one thing -- they can all sing Suara Hati.
Several told UCA News that Sanggar Akar has allowed them to grow as complete human beings, given them education and respected their dignity and needs. They said they not only go to school but also develop skills such as making school bags, sculpting, screen printing, cooking, singing and playing music.
Income received from selling handicrafts goes to the home, which in turn gives them meals, accommodation, money to send home, savings and pocket money.
Wandi, 8, said he is a street singer in the morning but attends school in the afternoon. Liciana, 16, who has lived in Sanggar Akar for six months, said that with her guitar playing and bag making, she can send money to her parents, who struggle to make a living as peddlers. Wati, 13, said she most likes going to school, which was impossible when she lived with her parents.
Karyanto insists education cannot be postponed for children, "the owners of the future." Sanggar Akar, he said, is run for marginalized children by concerned people and with the children's participation. In his view, an unjust social structure makes people "marginalized" and forces them to live on streets and in slums and public areas.
Sanggar Akar has three types of communities - its base community, a Sanggar community and networking. The base community, for elementary school children, promotes study group dynamics to help develop skills in reading, writing, counting and speaking. The Sanggar community, for elementary and secondary school children, develops teamwork and a sense of responsibility.
For the latter group, artistic activity, especially theater, is a main feature. The children perform a musical play for the public every year. They also organize household chores, publish a newsletter and maintain a library.
The networking community challenges the children to help build solidarity with surrounding communities and beyond. They learn networking by holding public events such as rummage sales and public campaigns.
Karyanto said people working for Sanggar Akar enroll children and youth by meeting them on the streets and in public places. Juprianto, a Sanggar Akar executive committee member, told UCA News that he must become one of them to approach them. He acknowledged that this can be dangerous, as evidenced one time when he was beaten up for entering the "territory" of someone else.
The theme of National Children's Day this year was "I Am Proud To Be An Indonesian Child." However, Catholic-run Kompas daily reported on July 24 that more than 50,000 children in 12 major Indonesian cities still live on the streets separated from their parents, and about 1.6 million children work in an exploitative environment. The country reportedly has 11.7 million school dropouts and only 50 percent of its children complete elementary school.
To mark the day, 6,000 children attended a celebration with President Megawati Soekarnoputri at Ancol Fantasy Park in North Jakarta. There, two children read a declaration urging the government to familiarize people with Law No. 23/2002 on child protection. Rallies taking place that day and the day before also urged the government to provide free education for children and to be more attentive to the rights of children, especially street children.
JAKARTA (UCAN) -- Protecting, educating and supporting impoverished children is a major problem for many Asian countries, and a program started by Jesuits in Indonesia is doing something about it.
Since 2000, Sanggar Akar (roots workshop) has been an autonomous body providing education and support for marginalized children. It was founded in 1994 by Jesuit-run Jakarta Social Institute, and its leader, Ibe Karyanto, told UCA News about its work on July 23, National Children's Day.
Karyanto said he wrote a song, Suara Hati (voice of the heart), in 1995 "to urge people not to neglect their obligation when seeing the situation around them, and to take action after listening to their conscience."
Two young street singers, Unanng, 16, and Wahyudinata, 17, often sing that song. They work Jakarta's streets and stay in Sanggar Akar's main center in Cipinang Melayu, East Jakarta. Their earn about 30,000 rupiah (US$3.30) a day.
Unang says he sings Suara Hati not only for alms but also to "make people aware of their responsibility to care for unfortunate children." However, he also told UCA News that "singing the song makes me sad and brings memories of my Mama living alone in a village in Cirebon, West Java."
Sanggar Akar's main center houses 70 Muslim children, including 20 girls. More than 100 others stay in the organization's three branches around Jakarta. All those children, and at least 500 others who have stayed in the homes before, share one thing -- they can all sing Suara Hati.
Several told UCA News that Sanggar Akar has allowed them to grow as complete human beings, given them education and respected their dignity and needs. They said they not only go to school but also develop skills such as making school bags, sculpting, screen printing, cooking, singing and playing music.
Income received from selling handicrafts goes to the home, which in turn gives them meals, accommodation, money to send home, savings and pocket money.
Wandi, 8, said he is a street singer in the morning but attends school in the afternoon. Liciana, 16, who has lived in Sanggar Akar for six months, said that with her guitar playing and bag making, she can send money to her parents, who struggle to make a living as peddlers. Wati, 13, said she most likes going to school, which was impossible when she lived with her parents.
Karyanto insists education cannot be postponed for children, "the owners of the future." Sanggar Akar, he said, is run for marginalized children by concerned people and with the children's participation. In his view, an unjust social structure makes people "marginalized" and forces them to live on streets and in slums and public areas.
Sanggar Akar has three types of communities - its base community, a Sanggar community and networking. The base community, for elementary school children, promotes study group dynamics to help develop skills in reading, writing, counting and speaking. The Sanggar community, for elementary and secondary school children, develops teamwork and a sense of responsibility.
For the latter group, artistic activity, especially theater, is a main feature. The children perform a musical play for the public every year. They also organize household chores, publish a newsletter and maintain a library.
The networking community challenges the children to help build solidarity with surrounding communities and beyond. They learn networking by holding public events such as rummage sales and public campaigns.
Karyanto said people working for Sanggar Akar enroll children and youth by meeting them on the streets and in public places. Juprianto, a Sanggar Akar executive committee member, told UCA News that he must become one of them to approach them. He acknowledged that this can be dangerous, as evidenced one time when he was beaten up for entering the "territory" of someone else.
The theme of National Children's Day this year was "I Am Proud To Be An Indonesian Child." However, Catholic-run Kompas daily reported on July 24 that more than 50,000 children in 12 major Indonesian cities still live on the streets separated from their parents, and about 1.6 million children work in an exploitative environment. The country reportedly has 11.7 million school dropouts and only 50 percent of its children complete elementary school.
To mark the day, 6,000 children attended a celebration with President Megawati Soekarnoputri at Ancol Fantasy Park in North Jakarta. There, two children read a declaration urging the government to familiarize people with Law No. 23/2002 on child protection. Rallies taking place that day and the day before also urged the government to provide free education for children and to be more attentive to the rights of children, especially street children.
Ensemble Kaleng Rombeng Andre
VHR, 29 April 2007 - 23:16 WIB
Liza Desylanhi
Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam
Menanam jagung di kebun kita...
Jemari para siswa SD Pangudi Luhur, Cipete, Jakarta Selatan, lincah memainkan alat-alat musik, mengalunkan lagu "Menanam Jagung". Ada yang menekan tuts pianika, memetik dawai gitar, menabuh jimbe, dan meniup seruling.
Satu lagu belum juga usai, sang guru segera menghentakkan kaki, lalu menepukkan tangan. Ini pertanda musik harus berhenti. Suara fals tiba-tiba mengganggu. Guru itu pun membetulkan. Musik mengalun lagi hingga usai.
Keringat para siswa bercucuran karena panas yang menyengat. Maklum mereka latihan di pelataran sekolah sambil menunggu petugas laboratorium musik yang membawa kunci. Namun bocah-bocah kelas IV sampai VI itu tetap semangat berlatih untuk pertunjukan pesta kenaikan kelas bulan depan. Bahkan, kini mereka belajar membuat komposisi lagu sendiri.
Sang guru, Andre (26), tak kalah semangat. "Tinggal dipoles sedikit lagi akan jadi pertunjukan yang bagus," katanya sambil menyeka butiran keringat di dahi. Para murid pun senang atas pujian itu.
Andre guru istimewa. Saat mengajar ia mengenakan kaos oblong, jins belel yang robek di lutut, dan sandal gunung kegemarannya. Deretan anting perak menghiasi telinganya. Gayanya yang jauh dari formal membuatnya disukai para murid. Hampir semua murid akrab dengan Pak Guru yang satu ini.
"Orangnya sabar. Asyik. Nggak ngebosenin," kata Ivan Afiananda, siswa kelas V. Dulu Ivan pernah les piano, namun berhenti karena bosan. Di tangan Andre, Ivan tertarik kembali memainkan tuts-tuts piano.
Andre hanya lulusan sekolah menengah pertama. Selepas SMP ia menjadi pengamen dan pemulung, mengikuti profesi orang tuanya. Namun kepiawaian Andre memainkan musik membuat sekolah elite seperti Pangudi Luhur mempercayakan pengajaran musik siswanya kepada anak muda ini.
Tak ada bentangan permadani merah bagi Andre menuju profesi guru musik. Lamaran-lamarannya menjadi guru musik selalu ditolak karena ia tak punya ijazah yang memadai. Belum lagi karena penampilannya yang belel. "Sakit hati. Hampir putus asa," ujarnya. "Ternyata susah mendobrak budaya yang sudah kental ini. Mereka menilai seseorang dari luarnya saja."
Andre harus membuktikan kemampuannya agar dipercaya sebagai pengajar. Kesempatan itu didapat dari Wakil Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur yang mempercayainya melatih musik ensemble siswa kelas II dengan kaleng bekas. Ia hanya diberi waktu sepuluh hari untuk melatih. Andre menyambut kesempatan itu dengan penuh semangat. "Awalnya kepala sekolah dan orang tua nggak percaya. Tapi bersyukur aku mampu membuat dua komposisi untuk anak-anak SD itu."
Hasilnya, Andre mampu menyajikan musik ensemble kaleng bekas yang apik pada pesta akhir tahun.
Kepiawaian Andre memainkan komposisi musik klasik bukan datang dari langit. Sejak 2001 dia digodok di Sanggar Akar oleh Arjuna Hutagalung, profesor musik dari Institut Kesenian Jakarta. Sanggar itu memang didirikan untuk anak-anak jalanan.
"Dulu main gitar cuma genjreng-genjreng. Nggak ngerti ritme, nada, apalagi bikin komposisi musik," kata pria beralis tebal ini. Berkat didikan Arjuna, Andre tak hanya mampu memainkan alat musik dengan benar, namun juga membuat komposisi.
Arjuna pengajar yang keras, tegas, dan rajin memberikan pekerjaan rumah. Dia menuntut para siswanya berkomitmen tinggi. Akibatnya, dari 20 murid Sanggar Akar seangkatan Andre, tinggal tujuh orang yang bertahan. "Yang lain berguguran. Nggak kuat," kata Andre sambil tertawa.
Di awal latihan, Arjuna langsung menyodorkan komposisi Johann Sabastian Bach. Melihat partitur not balok karya itu Andre pusing. "Materinya berat. Dari segi teori aku jelek, deh! Tapi kalau praktik, aku cepat. Jangankan musik klasik, musik pop saja aku nggak ngerti. Namun aku harus mainin komposisi Bach. Gimana nggak mumet ini kepala?" kata pemuda berkulit gelap ini.
Andre harus bekerja keras memainkan musik Bach. Pertama, ia belajar membaca partitur. Kemudian belajar ketukan. Setelah lancar, beralih ke nada. Terakhir dia memainkan komposisi dengan gitar. Setelah bisa memainkan dengan gitar, beralih mengenali biola dan piano dengan mempelajari anatominya. Baru perlahan Andre mulai mengeja komposisi Bach dengan dua alat musik itu.
Andre juga mesti mengikuti kelas musik di kediaman Arjuna, dua kali seminggu. Ia tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Latihan dimulai pukul sembilan malam dan berakhir pukul satu dini hari. Tak jarang latihan molor hingga pukul tiga pagi. Setiap hari ia harus meluangkan waktu setengah jam untuk mempelajari komposisi yang diberikan Arjuna.
Sementara dari pagi sampai sore Andre dan teman-temannya harus mengajar para yuniornya di sanggar. Setiap menjelang tidur Andre menyempatkan diri latihan membaca partitur. Namun ia sering ketiduran sambil memeluk partitur.
Keterbatasan alat musik di sanggar teratasi oleh Arjuna yang menghibahkan sebuah piano. Ada pula dermawan yang menyumbang beberapa biola untuk sanggar itu.
Mesti keras, Arjuna pengajar yang menyenangkan. Ia pandai menghibur para muridnya. "Kelas selalu diawali dengan makan malam dan diakhiri minum bir," kata Andre.
Karena sering minum bir bareng, para murid pun kian akrab dengan Arjuna. Bahkan mereka mengganggap kakek gondrong penggemar kaos oblong merek Swan itu sebagai ayah sendiri.
Kerja keras memang makanan Andre sejak belia. Ia dulu membiayai sendiri sekolahnya dengan menjadi pemulung dan pengamen. Tak jarang ia ditodong dan diperas anak jalanan lain. " Hukum rimba berlaku di sana. Siapa kuat dia berkuasa," katanya sambil menerawang. "Kalau diingat-ingat sedih juga, sampai segitunya nyari duit. Susah banget."
Di sekolah dulu Andre tergolong berprestasi. Setiap penerimaan rapor ia selalu menjadi juara kelas. Namun ia kapok sekolah setelah disiksa oleh guru Fisika, karena tak sengaja melempar bola basket ke guru itu. Akibat siksaan itu Andre tak bisa makan seminggu. "Sampai kapan pun pengalaman itu nggak akan pernah kulupa. Aku benci sekolah formal!" ujarnya dengan suara parau. Dia pun tak melanjutkan ke sekolah menengah umum.
Saat di kelas II SMP Andre mulai kenal Sanggar Akar. Saat itu ia diajak temannya mengikuti kemah Kampung Orang Kere (Kampore) yang digelar sanggar tersebut. Sejak itu Andre bergabung dan menjadi "anak" Sanggar Akar. Bersama sanggar itu motivasi belajarnya kembali bangkit. "Kalau nggak sekolah formal, harus punya skill untuk hidup. Makanya belajar musik di sini. Walaupun apa adanya, aku mencoba serius."
Berkat ketekunan dan kerja keras itu kepiwaian Andre terus terasah. Sampai suatu ketika komposisinya dimainkan pada sebuah konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. "Di situ aku merasa hidup itu dihargai. Karena belajar dengan susah payah, aku akhirnya bisa membuat karya yang dapat dinikmati orang."
Kebanggaan Andre bertambah saat anak asuhnya di SD Pangudi Luhur menjadi juara II Pentas Musik Sekolah Dasar se-Jabotabek Desember tahun lalu. Karena prestasi itu status Andre sebagai guru honorer akan dinaikkan menjadi guru tetap.
Wakil Kepala SD Pangudi Luhur I Nengah Suntaya pun memberikan lampu hijau untuk Andre. Ia melihat keahlian Andre lebih bernilai daripada selembar ijazah. "Kami tidak melihat dari segi ijazah. Kalau ijazah saja kan bisa beli," katanya. "Saya nilai dia cukup kreatif. Mampu mengaransemen lagu dan dapat mendekati anak-anak."
Selain mengajar di SD Pangudi Luhur, Andre juga mengajar paduan suara Gereja Santo Yohanes di Sunter, Jakarta Pusat, dan menjadi guru les privat. Beberapa tawaran mengajar ia tolak karena tak mau menelantarkan para yuniornya di Sanggar Akar.
"Ini meyakinkan aku bahwa ijazah tak penting. Juga meyakinkan bahwa orang-orang seperti aku juga mampu berkarya," katanya menutup pembicaraan. Andre membakar rokok kretek dan mengisapnya pelan-pelan. Dikepulkannya asap ke udara, membentuk sebuah komposisi musik di kepalanya. (E2)
Liza Desylanhi
Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam
Menanam jagung di kebun kita...
Jemari para siswa SD Pangudi Luhur, Cipete, Jakarta Selatan, lincah memainkan alat-alat musik, mengalunkan lagu "Menanam Jagung". Ada yang menekan tuts pianika, memetik dawai gitar, menabuh jimbe, dan meniup seruling.
Satu lagu belum juga usai, sang guru segera menghentakkan kaki, lalu menepukkan tangan. Ini pertanda musik harus berhenti. Suara fals tiba-tiba mengganggu. Guru itu pun membetulkan. Musik mengalun lagi hingga usai.
Keringat para siswa bercucuran karena panas yang menyengat. Maklum mereka latihan di pelataran sekolah sambil menunggu petugas laboratorium musik yang membawa kunci. Namun bocah-bocah kelas IV sampai VI itu tetap semangat berlatih untuk pertunjukan pesta kenaikan kelas bulan depan. Bahkan, kini mereka belajar membuat komposisi lagu sendiri.
Sang guru, Andre (26), tak kalah semangat. "Tinggal dipoles sedikit lagi akan jadi pertunjukan yang bagus," katanya sambil menyeka butiran keringat di dahi. Para murid pun senang atas pujian itu.
Andre guru istimewa. Saat mengajar ia mengenakan kaos oblong, jins belel yang robek di lutut, dan sandal gunung kegemarannya. Deretan anting perak menghiasi telinganya. Gayanya yang jauh dari formal membuatnya disukai para murid. Hampir semua murid akrab dengan Pak Guru yang satu ini.
"Orangnya sabar. Asyik. Nggak ngebosenin," kata Ivan Afiananda, siswa kelas V. Dulu Ivan pernah les piano, namun berhenti karena bosan. Di tangan Andre, Ivan tertarik kembali memainkan tuts-tuts piano.
Andre hanya lulusan sekolah menengah pertama. Selepas SMP ia menjadi pengamen dan pemulung, mengikuti profesi orang tuanya. Namun kepiawaian Andre memainkan musik membuat sekolah elite seperti Pangudi Luhur mempercayakan pengajaran musik siswanya kepada anak muda ini.
Tak ada bentangan permadani merah bagi Andre menuju profesi guru musik. Lamaran-lamarannya menjadi guru musik selalu ditolak karena ia tak punya ijazah yang memadai. Belum lagi karena penampilannya yang belel. "Sakit hati. Hampir putus asa," ujarnya. "Ternyata susah mendobrak budaya yang sudah kental ini. Mereka menilai seseorang dari luarnya saja."
Andre harus membuktikan kemampuannya agar dipercaya sebagai pengajar. Kesempatan itu didapat dari Wakil Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur yang mempercayainya melatih musik ensemble siswa kelas II dengan kaleng bekas. Ia hanya diberi waktu sepuluh hari untuk melatih. Andre menyambut kesempatan itu dengan penuh semangat. "Awalnya kepala sekolah dan orang tua nggak percaya. Tapi bersyukur aku mampu membuat dua komposisi untuk anak-anak SD itu."
Hasilnya, Andre mampu menyajikan musik ensemble kaleng bekas yang apik pada pesta akhir tahun.
Kepiawaian Andre memainkan komposisi musik klasik bukan datang dari langit. Sejak 2001 dia digodok di Sanggar Akar oleh Arjuna Hutagalung, profesor musik dari Institut Kesenian Jakarta. Sanggar itu memang didirikan untuk anak-anak jalanan.
"Dulu main gitar cuma genjreng-genjreng. Nggak ngerti ritme, nada, apalagi bikin komposisi musik," kata pria beralis tebal ini. Berkat didikan Arjuna, Andre tak hanya mampu memainkan alat musik dengan benar, namun juga membuat komposisi.
Arjuna pengajar yang keras, tegas, dan rajin memberikan pekerjaan rumah. Dia menuntut para siswanya berkomitmen tinggi. Akibatnya, dari 20 murid Sanggar Akar seangkatan Andre, tinggal tujuh orang yang bertahan. "Yang lain berguguran. Nggak kuat," kata Andre sambil tertawa.
Di awal latihan, Arjuna langsung menyodorkan komposisi Johann Sabastian Bach. Melihat partitur not balok karya itu Andre pusing. "Materinya berat. Dari segi teori aku jelek, deh! Tapi kalau praktik, aku cepat. Jangankan musik klasik, musik pop saja aku nggak ngerti. Namun aku harus mainin komposisi Bach. Gimana nggak mumet ini kepala?" kata pemuda berkulit gelap ini.
Andre harus bekerja keras memainkan musik Bach. Pertama, ia belajar membaca partitur. Kemudian belajar ketukan. Setelah lancar, beralih ke nada. Terakhir dia memainkan komposisi dengan gitar. Setelah bisa memainkan dengan gitar, beralih mengenali biola dan piano dengan mempelajari anatominya. Baru perlahan Andre mulai mengeja komposisi Bach dengan dua alat musik itu.
Andre juga mesti mengikuti kelas musik di kediaman Arjuna, dua kali seminggu. Ia tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Latihan dimulai pukul sembilan malam dan berakhir pukul satu dini hari. Tak jarang latihan molor hingga pukul tiga pagi. Setiap hari ia harus meluangkan waktu setengah jam untuk mempelajari komposisi yang diberikan Arjuna.
Sementara dari pagi sampai sore Andre dan teman-temannya harus mengajar para yuniornya di sanggar. Setiap menjelang tidur Andre menyempatkan diri latihan membaca partitur. Namun ia sering ketiduran sambil memeluk partitur.
Keterbatasan alat musik di sanggar teratasi oleh Arjuna yang menghibahkan sebuah piano. Ada pula dermawan yang menyumbang beberapa biola untuk sanggar itu.
Mesti keras, Arjuna pengajar yang menyenangkan. Ia pandai menghibur para muridnya. "Kelas selalu diawali dengan makan malam dan diakhiri minum bir," kata Andre.
Karena sering minum bir bareng, para murid pun kian akrab dengan Arjuna. Bahkan mereka mengganggap kakek gondrong penggemar kaos oblong merek Swan itu sebagai ayah sendiri.
Kerja keras memang makanan Andre sejak belia. Ia dulu membiayai sendiri sekolahnya dengan menjadi pemulung dan pengamen. Tak jarang ia ditodong dan diperas anak jalanan lain. " Hukum rimba berlaku di sana. Siapa kuat dia berkuasa," katanya sambil menerawang. "Kalau diingat-ingat sedih juga, sampai segitunya nyari duit. Susah banget."
Di sekolah dulu Andre tergolong berprestasi. Setiap penerimaan rapor ia selalu menjadi juara kelas. Namun ia kapok sekolah setelah disiksa oleh guru Fisika, karena tak sengaja melempar bola basket ke guru itu. Akibat siksaan itu Andre tak bisa makan seminggu. "Sampai kapan pun pengalaman itu nggak akan pernah kulupa. Aku benci sekolah formal!" ujarnya dengan suara parau. Dia pun tak melanjutkan ke sekolah menengah umum.
Saat di kelas II SMP Andre mulai kenal Sanggar Akar. Saat itu ia diajak temannya mengikuti kemah Kampung Orang Kere (Kampore) yang digelar sanggar tersebut. Sejak itu Andre bergabung dan menjadi "anak" Sanggar Akar. Bersama sanggar itu motivasi belajarnya kembali bangkit. "Kalau nggak sekolah formal, harus punya skill untuk hidup. Makanya belajar musik di sini. Walaupun apa adanya, aku mencoba serius."
Berkat ketekunan dan kerja keras itu kepiwaian Andre terus terasah. Sampai suatu ketika komposisinya dimainkan pada sebuah konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. "Di situ aku merasa hidup itu dihargai. Karena belajar dengan susah payah, aku akhirnya bisa membuat karya yang dapat dinikmati orang."
Kebanggaan Andre bertambah saat anak asuhnya di SD Pangudi Luhur menjadi juara II Pentas Musik Sekolah Dasar se-Jabotabek Desember tahun lalu. Karena prestasi itu status Andre sebagai guru honorer akan dinaikkan menjadi guru tetap.
Wakil Kepala SD Pangudi Luhur I Nengah Suntaya pun memberikan lampu hijau untuk Andre. Ia melihat keahlian Andre lebih bernilai daripada selembar ijazah. "Kami tidak melihat dari segi ijazah. Kalau ijazah saja kan bisa beli," katanya. "Saya nilai dia cukup kreatif. Mampu mengaransemen lagu dan dapat mendekati anak-anak."
Selain mengajar di SD Pangudi Luhur, Andre juga mengajar paduan suara Gereja Santo Yohanes di Sunter, Jakarta Pusat, dan menjadi guru les privat. Beberapa tawaran mengajar ia tolak karena tak mau menelantarkan para yuniornya di Sanggar Akar.
"Ini meyakinkan aku bahwa ijazah tak penting. Juga meyakinkan bahwa orang-orang seperti aku juga mampu berkarya," katanya menutup pembicaraan. Andre membakar rokok kretek dan mengisapnya pelan-pelan. Dikepulkannya asap ke udara, membentuk sebuah komposisi musik di kepalanya. (E2)
Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar
29 Mei 2008,Suara Pembaruan
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.
Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.
Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.
Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.
Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.
Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.
Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.
Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.
Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.
Kehidupan Sehari-hari
Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.
Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.
Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.
"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.
Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.
Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.
Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.
"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.
Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.
Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.
Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Pentas
Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.
Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.
"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.
Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.
"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.
Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.
Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.
Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..
Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.
Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.
Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.
Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.
Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.
Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.
Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.
Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.
Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.
Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.
Kehidupan Sehari-hari
Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.
Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.
Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.
"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.
Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.
Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.
Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.
"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.
Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.
Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.
Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Pentas
Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.
Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.
"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.
Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.
"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.
Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.
Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.
Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..
Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.
Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]
Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar
29 Mei 2008,Suara Pembaruan
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.
Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.
Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.
Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.
Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.
Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.
Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.
Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.
Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.
Kehidupan Sehari-hari
Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.
Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.
Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.
"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.
Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.
Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.
Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.
"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.
Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.
Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.
Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Pentas
Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.
Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.
"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.
Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.
"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.
Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.
Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.
Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..
Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.
Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.
Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.
Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.
Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.
Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.
Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.
Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.
Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.
Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.
Kehidupan Sehari-hari
Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.
Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.
Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.
"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.
Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.
Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.
Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.
"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.
Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.
Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.
Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Pentas
Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.
Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.
"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.
Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.
"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.
Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.
Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.
Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..
Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.
Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]
Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran
27-Jul-2007,
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.
Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.
Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.
Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.
Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.
Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.
Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.
Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.
Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.
Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.
Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.
Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.
Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.
Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.
Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah
Label:
akar,
anak,
doge,
doge Abdurrahman,
ibe,
ibe karyanto,
pendidikan anak,
saleh,
sanggar akar,
sanggar anak
Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran
27-Jul-2007,
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.
Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.
Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.
Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.
Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.
Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.
Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.
Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.
Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.
Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.
Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.
Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.
Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.
Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.
Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah
Label:
akar,
anak,
doge,
doge Abdurrahman,
ibe,
ibe karyanto,
pendidikan anak,
saleh,
sanggar akar,
sanggar anak
Pendidikan untuk Yang Miskin

MENJEMBATANI SEKOLAH ALTERNATIF DENGAN FORMAL
Oleh P Bambang Wisudo
KOMPAS, Kamis, 15-09-2005.
Kokon Koswara (23), mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (STKIP) Garut, Jawa Barat, dalam beberapa bulan terakhir
lebih sering mengisi masa akhir pekannya dengan naik turun gunung.
Kegiatan itu harus dijalaninya sejak ia bersama sejumlah kawannya
membantu warga kampung Dano menyelenggarakan sekolah alternatif Bale
Rahayat.
Jarak delapan kilometer dari ibu kota Kecamatan Leles dengan
kampung Dano ditempuh sepeda motor. Karena keuangan terbatas, Kokon
dan kawan-kawannya tidak memilih menggunakan jasa ojek. Ongkos ojek
ke kampung itu Rp 15.000 sekali jalan. Untuk menekan biaya, Kokon
memilih menyewa motor dengan ongkos Rp 20.000 sehari. Biasanya motor
itu ditumpangi bertiga, tidak peduli jalan terjal bebatuan yang harus
dihadapinya.
"Karena masalah ongkos kami tidak bisa intensif mendampingi
masyarakat Dano," tutur Kokon.
Aktivitas Kokon dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Jaringan
Pendidikan Kritis Garut itu didasari keprihatinan atas minimnya akses
pendidikan anak-anak petani di wilayah itu. Dari delapan ribu
penduduk di dusun itu, hanya segelintir saja yang tamat SD dan SMP.
Selepas kelas dua, empat SD negeri di sekitar dusun itu kehilangan
murid.
Sebagian besar putus di tengah jalan dalam keadaan tidak bisa
membaca dan menulis. Anak laki-laki di bawah umur yang belum bisa
baca tulis itu sebagian besar di bawa ke kota dipekerjakan, menjadi
pembantu buruh konveksi tas kulit, dengan upah yang sangat rendah.
Baru beberapa bulan berjalan, kini Bale Rahayat harus menampung
sekitar 150 murid. Dengan fasilitas seadanya, mereka belajar di
emperan masjid dusun, rutin diajar oleh tiga tokoh masyarakat yang
menjadi sukarelawan. Sejauh ini tidak ada sedikit pun dukungan dari
pemerintah lokal. Andaikata mereka juga berhak atas dana kompensasi
BBM sebesar rata-rata Rp 20.000 per bulan, hampir bisa dijamin anak-
anak itu lebih pintar dibandingkan anak-anak yang memilih bersekolah
di sekolah formal.
Korban diskriminasi
Anak-anak dari masyarakat kalangan bawah yang terempas dari jalur
pendidikan formal memang menjadi korban diskriminasi kebijakan
pendidikan nasional. Orang-orang miskin yang seharusnya dibela,
justru dimarginalkan dalam proses pendidikan. Jangankan mereka yang
memilih jalur sekolah alternatif. Anak-anak putus sekolah yang
ditampung di PKBM yang disokong pemerintah pun diberi anggaran sisa.
Upah gurunya hanya Rp 150.000 per bulan. Di lapangan honor sebesar
itu dibagi lagi untuk beberapa tutor.
Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional Eko
Djatmiko Sukarso menceritakan, ia pernah menjumpai tutor yang diberi
honorarium Rp 20.000 per bulan.
Di Jakarta, seorang siswa SD dari kelompok masyarakat miskin,
mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah dan pusat sebesar Rp
40.000 per anak. Bahkan subsidi dari Pemda DKI bagi siswa SD tahun
depan diusulkan naik dua kali lipat menjadi Rp 500.000 per bulan.
Untuk anak-anak putus sekolah, Pemda DKI menyelenggarakan program
retrieval dengan anggaran Rp 1 juta per anak per tahun. Dana itu
tentu menjadi sebuah kemewahan bagi anak-anak dari masyarakat bawah
yang bergabung di sanggar-sanggar pendidikan alternatif, seperti
Sanggar Akar, Sanggar Ciliwung, atau Sanggar Anak Alam di Lebakbulus.
Kenyataannya dana itu dibekap oleh sekolah-sekolah formal yang
ketat dikendalikan oleh pemerintah. Hasilnya adalah anak-anak miskin
tetap saja tidak bisa bersekolah.
Anggaran dan substansi
Kesenjangan antara sekolah alternatif dengan sekolah formal tidak
hanya persoalan anggaran tetapi juga substansi pendidikan yang
ditawarkan. Sekolah-sekolah alternatif yang berkembang dalam semangat
Paulo Freirean, yang mengintegrasikan semangat perlawanan terhadap
sistem yang memiskinkan dalam pendidikan.
Sejumlah aktivitas pendidikan alternatif memiliki keyakinan bahwa
tujuan akhir pendidikan alternatif bukan sekadar mengeluarkan anak
dari kemiskinan yang membelenggu lingkungan dan keluarga mereka.
Apalagi bila itu sekadar diartikan memberikan keterampilan agar
mereka bisa berintegrasi dalam sistem yang kapitalistik.
Semangat perlawanan itu dapat dibaca dari kemunculan sekolah-
sekolah alternatif di berbagai daerah. Sebutlah Madrasah Aliyah
Bingkat di Sumatera Utara, Sekolah Anak Rima "Sokola" di Jambi,
Sanggar Akar dan Sanggar Ciliwung di Jakarta.Madrasah Tsanawiyah As
Sururon dan Bale Rahayat di Garut, SMP Qaryah Thayibbah di Salatiga,
Sanggar Anak Alam dan SD Mangunan di Yogyakarta, dan masih banyak
lagi.
Ada dua model besar penyelenggaraan sekolah alternatif itu. Ada
yang berkompromi dengan sistem pendidikan formal tetapi ada yang
tidak mau berkompromi. Model pertama biasanya mengambil bentuk
sekolah formal meski dengan sejumlah penyiasatan, menganggap penting
nilai ijazah, dan mengukur mutu berdasarkan standar nilai rata-rata.
Pengamat pendidikan Dr Mochtar Buchori memberikan ilustrasi kedua
model itu dengan membandingkan antara pendidikan alternatif Sanggar
Akar dan SMP Alternatif Qaryah Thayibbah. Menurut Mochtar, Sanggar
Akar lebih merupakan perjuangan sosio-kultural, yang dipentingkan
adalah bagaimana anak menemukan arti dalam kehidupannya. Karena itu
soal ujian dan ijazah dianggap remeh. Sedangkan sekolah model Qaryah
Thayibbah lebih dilatarbelakangi perjuangan sosial-ekonomis,
bagaimana memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak petani di
desa.
Dalam model pendidikan pertama, anak-anak bisa menjadi kekuatan
subversif dalam masyarakat tertentu. "Tergantung tujuannya, apakah
pendidikan mau menormalkan atau mau melawan. Memberikan kemampuan
belajar menjadi penting untuk memberikan kesempatan anak-anak
marginal menumbuhkan jiwa kewiraswastaannya," kata Mochtar.
Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto mengatakan bahwa pendidikan
alternatif untuk kaum miskin memang merupakan kritik radikal terhadap
pendidikan formal. Paradigma yang dianut adalah paradigma pembebasan.
Karena itu harus ada penyadaran kritis pada diri anak bahwa
kemiskinan yang mereka alami bukan merupakan kenyataan yang terjadi
begitu saja tetapi merupakan akibat dari proses pemiskinan.
"Bukan mengajak anak membangun konfrontasi tetapi justru
mengajak anak secara visioner melihat sistem apa yang harus
dibangun," kata Ibe.
Dalam semangat perlawanan itu mungkinkah pendidikan alternatif
berkolaborasi dengan pemerintah? Mengapa tidak? Menurut Eko Djatmiko,
tidak ada masalah sekolah alternatif bekerja sama dengan pemerintah
meskipun mereka mengembangkan semangat perlawanan. Demi pencerdasan
bangsa, perbedaan-perbedaan antara formal dan nonformal, antara
masyarakat dan negara, mesti disinergikan.
Semangat perlawanan, kata Lodi Paat, Pengajar Pengantar Ilmu
Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, yang selama ini terjadi
juga bukan monopoli pendidikan nonformal atau sekolah alternatif.
"Perlawanan seharusnya tidak hanya dilakukan sekolah-sekolah
alternatif tetapi juga sekolah-sekolah formal. Dalam situasi
sekarang, tanpa perlawanan, kita akan dirampok habis-habisan," kata
Lodi.
Pendidikan Alternatif
ANTARA PERLAWANAN DAN IJAZAH
Oleh: P Bambang Wisudo
KOMPAS, Sabtu, 17-09-2005.
Tanpa bersentuhan dengan pendidikan alternatif, Haryanti (34)
mungkin tidak akan mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi atau
bekerja menjadi guru.
Sekolah telah lama ditinggalkan Harti, demikian ia biasa
dipanggil, ketika Sanggar Anak Alam berdiri di kampungnya di Lawen,
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti kebanyakan anak-anak
desa pada masa itu, Harti berhenti sekolah setamat SD. Lepas dari
sekolah ia hanya membantu ibunya mengerjakan tugas di dapur atau
membantu bekerja di kebun. Sesekali ia belajar menari di grup
ketoprak yang diasuh ayahnya.
Harti, gadis yang cepat belajar. Berbagai keterampilan cepat
dikuasainya. Ia juga rajin membaca. Bakatnya mengajar juga tumbuh
dengan pesat. Karena itu, meski hanya mengantongi ijazah SD, ia
dipercaya mengajar di taman kanak-kanak (TK) yang didirikan Sanggar
Anak Alam. Kegiatan TK itu terhenti setelah berjalan lima tahun
setelah muncul protes karena gurunya hanya lulusan SD.
Harti tak putus asa. Keinginannya mengajar muncul kembali saat ia
hijrah mengikuti suaminya ke Jombang, Jawa Timur. Ia direkrut untuk
mengajar di TK Yayasan Al Muhamadi milik budayawan Emha Ainun Najib.
Sambil mengajar, ia ikut program kelompok belajar. Berbekal ijazah
penyetaraan itu, ia kini melanjutkan kuliah program Diploma
Pendidikan Guru TK.
"Saya membutuhkan ijazah untuk menunjang kegiatan saya mengajar,"
ujarnya.
Cita-cita tak bisa dicegah
Sekolah alternatif muncul sebagai respons terhadap kealpaan
negara dalam memberikan hak-hak pendidikan kepada masyarakat bawah.
Para aktivis pendidikan alternatif dengan sadar mendesain agar tumbuh
kesadaran kritis pada anak didiknya, membantu mereka menemukan jalan
untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka. Kesadaran
kritis terhadap sistem yang memiskinkan merupakan agenda penting
dalam pendidikan alternatif.
Akan tetapi, ketika kesadaran itu tumbuh, anak-anak tersebut
tidak sekadar ingin memperoleh pekerjaan yang layak agar dapat keluar
dari kemiskinan yang mengimpit keluarganya. Mereka bahkan memiliki
keinginan dan cita-cita yang tidak kalah dengan anak-anak "normal".
Sebutlah Dede Supriyatna (21). Dede, yang dipanggil Ambon oleh
kawan-kawannya, melewatkan masa kecil dengan menjual koran di
perempatan jalan di Jakarta. Bapaknya dulu bekerja sebagai petugas
satpam, harus menghidupi delapan anak. Beruntung, Ambon bersentuhan
dengan Sanggar Akar sehingga ia bisa tetap bersekolah. Meski tak
dianjurkan, Ambon terus belajar di sekolah formal. Padahal, kegiatan
di sanggar biasanya berlangsung hingga dini hari.
Tamat SMP, Ambon melanjutkan pendidikan ke STM. Meski belajar
otomotif, ia ternyata lebih tertarik pada pelajaran musik yang
didapatkannya di sanggar daripada mengutak-atik mesin. Pelajaran
praktik di bengkel merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Ambon.
"Sering saya tiduran di kolong mesin," katanya.
Dengan bekal ijazah STM itu ia kuliah Pendidikan Seni Musik di
Universitas Negeri Jakarta. Sebelumnya ia belajar piano gratis selama
setahun di lembaga pendidikan musik yang dipimpin Dwiki Dharmawan.
Di samping kuliah, kini ia memberikan les privat gitar dan
mengajar ekstrakurikuler musik di SD Vincencius.
Sekalipun bisa memperoleh uang, ia tidak mau memberikan les bila
itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari di sanggar mulai pukul 19.00
hingga dini hari. "Setengah hidup saya, saya habiskan di sanggar.
Saya ingin ikut mengembangkan sanggar," kata Ambon. "Tanpa Sanggar
Akar, mungkin saya akan jadi orang biasa-biasa saja. Paling-paling
kerja di pabrik. Siang kerja, malam tidur," ungkapnya.
Ambon merupakan salah satu dari delapan anak Sanggar Akar yang
saat ini kuliah. Mereka pada mulanya adalah anak-anak dari kalangan
marginal yang harus bergulat dalam keterbatasan ekonomi sehingga
menutup mimpi-mimpi mereka akan masa depan. Di tengah keharusan
mencari uang, belajar di sanggar, mereka juga belajar di sekolah
formal. Pendidikan alternatif tidak hanya membuka peluang dari
belenggu kemiskinan yang mengelilingi ruang kehidupan mereka, tetapi
juga membuka diri mereka pada dunia yang jauh lebih luas.
Itu tercermin dalam keputusan mereka dalam mengambil bidang
studi. Ada yang mengambil program studi Pendidikan Seni Rupa,
Akuntansi, maupun Bahasa Inggris. Bahkan Rika (19) memilih belajar
filsafat dan mulai semester ini mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara. Mereka tidak bercita-cita menjadi pegawai negeri
atau karyawan perusahaan. Kalaupun bekerja formal, mereka ingin
menjadi guru. Namun, mereka umumnya lebih suka mengembangkan
pendidikan alternatif seperti yang mereka dapatkan selama ini.
Oleh: P Bambang Wisudo
KOMPAS, Sabtu, 17-09-2005.
Tanpa bersentuhan dengan pendidikan alternatif, Haryanti (34)
mungkin tidak akan mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi atau
bekerja menjadi guru.
Sekolah telah lama ditinggalkan Harti, demikian ia biasa
dipanggil, ketika Sanggar Anak Alam berdiri di kampungnya di Lawen,
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti kebanyakan anak-anak
desa pada masa itu, Harti berhenti sekolah setamat SD. Lepas dari
sekolah ia hanya membantu ibunya mengerjakan tugas di dapur atau
membantu bekerja di kebun. Sesekali ia belajar menari di grup
ketoprak yang diasuh ayahnya.
Harti, gadis yang cepat belajar. Berbagai keterampilan cepat
dikuasainya. Ia juga rajin membaca. Bakatnya mengajar juga tumbuh
dengan pesat. Karena itu, meski hanya mengantongi ijazah SD, ia
dipercaya mengajar di taman kanak-kanak (TK) yang didirikan Sanggar
Anak Alam. Kegiatan TK itu terhenti setelah berjalan lima tahun
setelah muncul protes karena gurunya hanya lulusan SD.
Harti tak putus asa. Keinginannya mengajar muncul kembali saat ia
hijrah mengikuti suaminya ke Jombang, Jawa Timur. Ia direkrut untuk
mengajar di TK Yayasan Al Muhamadi milik budayawan Emha Ainun Najib.
Sambil mengajar, ia ikut program kelompok belajar. Berbekal ijazah
penyetaraan itu, ia kini melanjutkan kuliah program Diploma
Pendidikan Guru TK.
"Saya membutuhkan ijazah untuk menunjang kegiatan saya mengajar,"
ujarnya.
Cita-cita tak bisa dicegah
Sekolah alternatif muncul sebagai respons terhadap kealpaan
negara dalam memberikan hak-hak pendidikan kepada masyarakat bawah.
Para aktivis pendidikan alternatif dengan sadar mendesain agar tumbuh
kesadaran kritis pada anak didiknya, membantu mereka menemukan jalan
untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka. Kesadaran
kritis terhadap sistem yang memiskinkan merupakan agenda penting
dalam pendidikan alternatif.
Akan tetapi, ketika kesadaran itu tumbuh, anak-anak tersebut
tidak sekadar ingin memperoleh pekerjaan yang layak agar dapat keluar
dari kemiskinan yang mengimpit keluarganya. Mereka bahkan memiliki
keinginan dan cita-cita yang tidak kalah dengan anak-anak "normal".
Sebutlah Dede Supriyatna (21). Dede, yang dipanggil Ambon oleh
kawan-kawannya, melewatkan masa kecil dengan menjual koran di
perempatan jalan di Jakarta. Bapaknya dulu bekerja sebagai petugas
satpam, harus menghidupi delapan anak. Beruntung, Ambon bersentuhan
dengan Sanggar Akar sehingga ia bisa tetap bersekolah. Meski tak
dianjurkan, Ambon terus belajar di sekolah formal. Padahal, kegiatan
di sanggar biasanya berlangsung hingga dini hari.
Tamat SMP, Ambon melanjutkan pendidikan ke STM. Meski belajar
otomotif, ia ternyata lebih tertarik pada pelajaran musik yang
didapatkannya di sanggar daripada mengutak-atik mesin. Pelajaran
praktik di bengkel merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Ambon.
"Sering saya tiduran di kolong mesin," katanya.
Dengan bekal ijazah STM itu ia kuliah Pendidikan Seni Musik di
Universitas Negeri Jakarta. Sebelumnya ia belajar piano gratis selama
setahun di lembaga pendidikan musik yang dipimpin Dwiki Dharmawan.
Di samping kuliah, kini ia memberikan les privat gitar dan
mengajar ekstrakurikuler musik di SD Vincencius.
Sekalipun bisa memperoleh uang, ia tidak mau memberikan les bila
itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari di sanggar mulai pukul 19.00
hingga dini hari. "Setengah hidup saya, saya habiskan di sanggar.
Saya ingin ikut mengembangkan sanggar," kata Ambon. "Tanpa Sanggar
Akar, mungkin saya akan jadi orang biasa-biasa saja. Paling-paling
kerja di pabrik. Siang kerja, malam tidur," ungkapnya.
Ambon merupakan salah satu dari delapan anak Sanggar Akar yang
saat ini kuliah. Mereka pada mulanya adalah anak-anak dari kalangan
marginal yang harus bergulat dalam keterbatasan ekonomi sehingga
menutup mimpi-mimpi mereka akan masa depan. Di tengah keharusan
mencari uang, belajar di sanggar, mereka juga belajar di sekolah
formal. Pendidikan alternatif tidak hanya membuka peluang dari
belenggu kemiskinan yang mengelilingi ruang kehidupan mereka, tetapi
juga membuka diri mereka pada dunia yang jauh lebih luas.
Itu tercermin dalam keputusan mereka dalam mengambil bidang
studi. Ada yang mengambil program studi Pendidikan Seni Rupa,
Akuntansi, maupun Bahasa Inggris. Bahkan Rika (19) memilih belajar
filsafat dan mulai semester ini mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara. Mereka tidak bercita-cita menjadi pegawai negeri
atau karyawan perusahaan. Kalaupun bekerja formal, mereka ingin
menjadi guru. Namun, mereka umumnya lebih suka mengembangkan
pendidikan alternatif seperti yang mereka dapatkan selama ini.
PERLU REFORMASI RADIKAL
Pendidikan Kesetaraan Malah Mengadopsi Pendidikan Formal
KOMPAS, Jumat, 21-07-2006.
Jakarta, Kompas
Reformasi pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C ternyata tidak
sesuai yang dijanjikan karena cenderung memindahkan sistem
persekolahan dalam pendidikan nonformal.
Berbagai kalangan mendesak pemerintah melakukan reformasi
pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C secara radikal agar dapat
mengakomodasi keinginan masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan
sesuai kebutuhan komunitas. Desakan itu muncul dalam
diskusi "Pendidikan Kesetaraan: Peluang atau Ancaman bagi Sekolah
Alternatif" yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar di Jakarta, Kamis
(20/7).
Dari pengakuan sejumlah penyelenggara sekolah alternatif maupun
mereka yang pernah mengikuti ujian kesetaraan, terungkap bahwa
eligibilitas yang dijanjikan pemerintah juga tidak terwujud di
lapangan. Beberapa sekolah negeri di Jakarta menolak menerima siswa
yang berijazah kesetaraan. Bahkan, untuk mengikuti ujian kesetaraan
masyarakat harus mengeluarkanuang ratusan ribu rupiah meski telah
dinyatakan gratis.
Staf Direktorat Kesetaraan Depdiknas, Elih Sudiya Permana,
mengungkapkan pihaknya juga memperoleh sejumlah pengaduan praktik
pungutan terhadap peserta ujian kesetaraan. Praktik pungutan untuk
kelulusan ujian kesetaraan juga dibenarkan Andri Cahyadi, pendamping
anak jalanan di Jakarta
Menurut Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto, pengaturan program
kesetaraan saat ini makin blunder dengan diikutinya ketentuan-
ketentuan pendidikan formal dalam program kesetaraan. Dalam jam
belajar pun ada kecenderungan pemerintah mau mengatur lebih ketat.
Untuk Paket C (setara SMA), ditetapkan lama belajar 969 jam dalam 180
hari per tahun, dengan 30 satuan kredit semester.
Pemerintah, kata Ibe, harus melakukan reformasi radikal terhadap
program kesetaraan, sehingga program kesetaraan memiliki otonomi
dalam menyelenggarakan pendidikannya dan tidak menjadi miniatur
pendidikan formal.
"Mestinya pendidikan kesetaraan mengakomodasi beragam jenis
pendidikan komunitas yang berkembang di masyarakat. Pemerintah cukup
memfasilitasi kreativitas dalam masyarakat," tutur Ibe.
Lebih kaku
Koordinator Keluarga Peduli Pendidikan (KerLip) Yanti Sriyulianti
menyatakan keheranannya mengapa pengaturan program pendidikan
kesetaraan Paket A, B, dan C sekarang justru lebih kaku dibandingkan
pendidikan formal. Mengambil contoh SD Hikmah Teladan Cimahi,
Bandung, Yanti mengatakan bahwa sekolah formal pun bisa menetapkan
kurikulum dan menentukan buku-buku ajarnya sendiri dan bahkan bisa
mendapatkan akreditasi sangat baik.
"Pendidikan kesetaraan mestinya tidak menduplikasi pendidikan
formal, termasuk dalam sistem evaluasinya," kata Yanti.
Bagi Retno Listyarti, guru SMA Negeri 13 Jakarta Utara,
pendidikan nonformal jelas tidak sama dengan pendidikan formal.
Karena itu, indikator untuk mengukur keberhasilan anak didiknya
sangat berbeda dan tidak mungkin disamakan.
Pendidikan kesetaraan, kata Retno, tidak cocok diuji dengan model
pilihan ganda. Dengan standar kelulusannya yang rendah, tak usah
belajar pun peserta ujian kesetaraan bisa lulus. Evaluasi program
kesetaraan mestinya diukur dari aspek kecakapan hidup, bukan semata-
mata penguasaan keterampilan, apalagi penguasaan akademik.
Suryanto dari Sanggar Ciliwung mengemukakan, pemerintah mestinya
memberikan pengakuan pada pendidikan alternatif yang diselenggarakan
masyarakat. Apalagi kenyataannya tidak ada nilai kurang bagi mereka
yang mengikuti ujian kesetaraan asalkan bisa membayar.(wis)
KOMPAS, Jumat, 21-07-2006.
Jakarta, Kompas
Reformasi pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C ternyata tidak
sesuai yang dijanjikan karena cenderung memindahkan sistem
persekolahan dalam pendidikan nonformal.
Berbagai kalangan mendesak pemerintah melakukan reformasi
pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C secara radikal agar dapat
mengakomodasi keinginan masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan
sesuai kebutuhan komunitas. Desakan itu muncul dalam
diskusi "Pendidikan Kesetaraan: Peluang atau Ancaman bagi Sekolah
Alternatif" yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar di Jakarta, Kamis
(20/7).
Dari pengakuan sejumlah penyelenggara sekolah alternatif maupun
mereka yang pernah mengikuti ujian kesetaraan, terungkap bahwa
eligibilitas yang dijanjikan pemerintah juga tidak terwujud di
lapangan. Beberapa sekolah negeri di Jakarta menolak menerima siswa
yang berijazah kesetaraan. Bahkan, untuk mengikuti ujian kesetaraan
masyarakat harus mengeluarkanuang ratusan ribu rupiah meski telah
dinyatakan gratis.
Staf Direktorat Kesetaraan Depdiknas, Elih Sudiya Permana,
mengungkapkan pihaknya juga memperoleh sejumlah pengaduan praktik
pungutan terhadap peserta ujian kesetaraan. Praktik pungutan untuk
kelulusan ujian kesetaraan juga dibenarkan Andri Cahyadi, pendamping
anak jalanan di Jakarta
Menurut Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto, pengaturan program
kesetaraan saat ini makin blunder dengan diikutinya ketentuan-
ketentuan pendidikan formal dalam program kesetaraan. Dalam jam
belajar pun ada kecenderungan pemerintah mau mengatur lebih ketat.
Untuk Paket C (setara SMA), ditetapkan lama belajar 969 jam dalam 180
hari per tahun, dengan 30 satuan kredit semester.
Pemerintah, kata Ibe, harus melakukan reformasi radikal terhadap
program kesetaraan, sehingga program kesetaraan memiliki otonomi
dalam menyelenggarakan pendidikannya dan tidak menjadi miniatur
pendidikan formal.
"Mestinya pendidikan kesetaraan mengakomodasi beragam jenis
pendidikan komunitas yang berkembang di masyarakat. Pemerintah cukup
memfasilitasi kreativitas dalam masyarakat," tutur Ibe.
Lebih kaku
Koordinator Keluarga Peduli Pendidikan (KerLip) Yanti Sriyulianti
menyatakan keheranannya mengapa pengaturan program pendidikan
kesetaraan Paket A, B, dan C sekarang justru lebih kaku dibandingkan
pendidikan formal. Mengambil contoh SD Hikmah Teladan Cimahi,
Bandung, Yanti mengatakan bahwa sekolah formal pun bisa menetapkan
kurikulum dan menentukan buku-buku ajarnya sendiri dan bahkan bisa
mendapatkan akreditasi sangat baik.
"Pendidikan kesetaraan mestinya tidak menduplikasi pendidikan
formal, termasuk dalam sistem evaluasinya," kata Yanti.
Bagi Retno Listyarti, guru SMA Negeri 13 Jakarta Utara,
pendidikan nonformal jelas tidak sama dengan pendidikan formal.
Karena itu, indikator untuk mengukur keberhasilan anak didiknya
sangat berbeda dan tidak mungkin disamakan.
Pendidikan kesetaraan, kata Retno, tidak cocok diuji dengan model
pilihan ganda. Dengan standar kelulusannya yang rendah, tak usah
belajar pun peserta ujian kesetaraan bisa lulus. Evaluasi program
kesetaraan mestinya diukur dari aspek kecakapan hidup, bukan semata-
mata penguasaan keterampilan, apalagi penguasaan akademik.
Suryanto dari Sanggar Ciliwung mengemukakan, pemerintah mestinya
memberikan pengakuan pada pendidikan alternatif yang diselenggarakan
masyarakat. Apalagi kenyataannya tidak ada nilai kurang bagi mereka
yang mengikuti ujian kesetaraan asalkan bisa membayar.(wis)
MUSIK, TERAPI PSIKOLOGIS ANAK
KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.
Jakarta, Kompas
Anak-anak pinggiran/jalanan perlu ditangani dengan pendekatan
individual, realistis, dan sesuai dengan bakat mereka. Dalam hal ini,
musik bisa menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena dengan
mengekspresikan diri melalui karya musik, mereka mendapatkan
kebanggaannya.
Demikian benang merah diskusi "Musik sebagai Media Penyadaran
Anak Pinggiran" yang diselenggarakan Sanggar Anak akar Institut Sosial
Jakarta (ISJ) di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (12/5). Diskusi itu
merupakan rangkaian Kampanye Perlindungan Hak Anak yang diadakan
Konsorsium Anak Jalanan Indonesia, mulai 10 Mei hingga 11 Desember
1999 dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Diskusi itu menampilkan pembicara pemusik asal Bandung Harry
Roesli, penulis Arswendo Atmowiloto, pimpinan Sanggar Anak akar Ibe
Karyanto, dan pelatih musik Sanggar Anak akar Jeffar Lumban Gaol.
Sebelumnya, Selasa malam lalu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail
Marzuki, Sanggar Anak akar meluncurkan kaset volume kedua bertajuk
Anak Pinggiran. Bersamaan dengan peluncuran kaset itu, mereka juga
mementaskan operet berjudul Muka-muka di Kaca.
Dalam diskusi kemarin, Arswendo Atmowiloto mengemukakan,
sebenarnya anak-anak jalanan tidak butuh dikasihani, mereka hanya
butuh diperhatikan dan diberi keterampilan. Arswendo melihat,
penyadaran kepada mereka tetaplah merupakan penyadaran secara pribadi,
secara individual.
"Yang penting menyadarkan bagaimana mereka dapat bertahan
hidup tanpa mengandalkan kroni, tanpa mengandalkan maesenas, tanpa
mengandalkan belas kasihan, juga tanpa mengharapkan keajaiban. 'Sang
penyelamat' mereka adalah diri mereka sendiri," papar Arswendo.
Dalam bayangan Arswendo, pendekatan atau penyadaran pribadi
lepas pribadi adalah membiarkan mereka menemukan cara terbaik untuk
hidup. Maksudnya, jangan memaksa mereka untuk meninggalkan habitatnya,
situasi dan kondisi mereka yang selama ini menjadikan mereka hidup.
"Jangan paksa ajari pertobatan, nilai luhur atau tata krama. Mereka
akan mempraktikkan kalau memerlukan," kata Arswendo.
Penyadaran melalui musik, berteater, berseni lukis, berkarya
atau hidup bersama, pada akhirnya adalah penyadaran akan kemampuan
individual untuk menjadi 'jagoan', supaya mampu bertahan di tengah
kerasnya kehidupan yang harus mereka jalani.
Kebanggaan
Sementara menurut pelatih musik Jeffar Lumban Gaol, harga diri
dan kebanggaan anak-anak pinggiran dapat dibangkitkan melalui musik.
Musik dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. "Yang saya tekankan
pada mereka: jika kalian bermain musik, maka kalian akan
diperhatikan," katanya.
Pemusik Harry Roesli menyatakan, upaya menyadarkan anak-anak
pinggiran agar mereka bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku
adalah sebuah kerja yang sangat besar. Namun, kata Harry, sebenarnya
ketidaksadaran anak-anak pinggiran itu merupakan ekses dari
ketidaksadaran orang-orang yang berada di atas atau orang-orang yang
memiliki kewenangan.
"Mencuri, buat norma kita itu kriminal. Tetapi buat mereka
nilainya survival, kendati orang-orang yang normatif juga suka
mencuri, korupsi, dan manipulasi. Malak atau berkelahi buat kita
nilainya negatif, tetapi buat mereka itu nilai dari sebuah eksistensi
di dunia mereka. Jadi penyadaran itu harus dimulai dari bapak-bapak
kita," kata Harry.
Dia mensinyalir jumlah anak pinggiran ini kian hari kian
bertambah. Dari pemantauan di perempatan-perempatan jalan di Kota
Bandung, setiap tiga hari ada lima anak baru. Karena itu dia sepakat
bahwa musik memang efektif untuk penyadaran. Menurut dia, lagu-lagu
anak jalanan jauh lebih kontekstual, lebih mengakar daripada lagu-lagu
yang dibawakan grup musik yang telah terkenal saat ini.
Sementara itu, Ibe Karyanto mengungkapkan, yang lebih sering
terjadi anak-anak jalanan ini belajar musik dari teman-teman mereka.
Mereka sendiri yang menentukan jadwal latihan sore hari, karena pada
pagi, siang atau malam hari ada yang kerja jualan koran atau calo
taksi. "Jadi saya tidak mengajari mereka. Saya tidak ingin mereka
hanya menjadi tukang. Saya ingin mereka mengenal potensi diri seperti
lagu berjudul Membangun Mimpi di atas Kaki Sendiri," tuturnya.
Menyinggung kaset Sanggar Anak akar volume kedua, Susilo
Adinegoro selaku produser mengatakan, kaset tersebut diproduksi 3.000
buah. Sedangkan volume pertama yang berjudul Nyanyian Ranting Kering
telah terjual 10.000 kaset dan permintaan tetap mengalir hingga kini.
"Biaya produksi kaset volume kedua ini Rp 15 juta. Kaset itu akan kami
pasarkan lewat acara-acara diskusi. Kami akan membuka jaringan pasar
sendiri," kata Susilo. (ij/lok)
Jakarta, Kompas
Anak-anak pinggiran/jalanan perlu ditangani dengan pendekatan
individual, realistis, dan sesuai dengan bakat mereka. Dalam hal ini,
musik bisa menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena dengan
mengekspresikan diri melalui karya musik, mereka mendapatkan
kebanggaannya.
Demikian benang merah diskusi "Musik sebagai Media Penyadaran
Anak Pinggiran" yang diselenggarakan Sanggar Anak akar Institut Sosial
Jakarta (ISJ) di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (12/5). Diskusi itu
merupakan rangkaian Kampanye Perlindungan Hak Anak yang diadakan
Konsorsium Anak Jalanan Indonesia, mulai 10 Mei hingga 11 Desember
1999 dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Diskusi itu menampilkan pembicara pemusik asal Bandung Harry
Roesli, penulis Arswendo Atmowiloto, pimpinan Sanggar Anak akar Ibe
Karyanto, dan pelatih musik Sanggar Anak akar Jeffar Lumban Gaol.
Sebelumnya, Selasa malam lalu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail
Marzuki, Sanggar Anak akar meluncurkan kaset volume kedua bertajuk
Anak Pinggiran. Bersamaan dengan peluncuran kaset itu, mereka juga
mementaskan operet berjudul Muka-muka di Kaca.
Dalam diskusi kemarin, Arswendo Atmowiloto mengemukakan,
sebenarnya anak-anak jalanan tidak butuh dikasihani, mereka hanya
butuh diperhatikan dan diberi keterampilan. Arswendo melihat,
penyadaran kepada mereka tetaplah merupakan penyadaran secara pribadi,
secara individual.
"Yang penting menyadarkan bagaimana mereka dapat bertahan
hidup tanpa mengandalkan kroni, tanpa mengandalkan maesenas, tanpa
mengandalkan belas kasihan, juga tanpa mengharapkan keajaiban. 'Sang
penyelamat' mereka adalah diri mereka sendiri," papar Arswendo.
Dalam bayangan Arswendo, pendekatan atau penyadaran pribadi
lepas pribadi adalah membiarkan mereka menemukan cara terbaik untuk
hidup. Maksudnya, jangan memaksa mereka untuk meninggalkan habitatnya,
situasi dan kondisi mereka yang selama ini menjadikan mereka hidup.
"Jangan paksa ajari pertobatan, nilai luhur atau tata krama. Mereka
akan mempraktikkan kalau memerlukan," kata Arswendo.
Penyadaran melalui musik, berteater, berseni lukis, berkarya
atau hidup bersama, pada akhirnya adalah penyadaran akan kemampuan
individual untuk menjadi 'jagoan', supaya mampu bertahan di tengah
kerasnya kehidupan yang harus mereka jalani.
Kebanggaan
Sementara menurut pelatih musik Jeffar Lumban Gaol, harga diri
dan kebanggaan anak-anak pinggiran dapat dibangkitkan melalui musik.
Musik dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. "Yang saya tekankan
pada mereka: jika kalian bermain musik, maka kalian akan
diperhatikan," katanya.
Pemusik Harry Roesli menyatakan, upaya menyadarkan anak-anak
pinggiran agar mereka bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku
adalah sebuah kerja yang sangat besar. Namun, kata Harry, sebenarnya
ketidaksadaran anak-anak pinggiran itu merupakan ekses dari
ketidaksadaran orang-orang yang berada di atas atau orang-orang yang
memiliki kewenangan.
"Mencuri, buat norma kita itu kriminal. Tetapi buat mereka
nilainya survival, kendati orang-orang yang normatif juga suka
mencuri, korupsi, dan manipulasi. Malak atau berkelahi buat kita
nilainya negatif, tetapi buat mereka itu nilai dari sebuah eksistensi
di dunia mereka. Jadi penyadaran itu harus dimulai dari bapak-bapak
kita," kata Harry.
Dia mensinyalir jumlah anak pinggiran ini kian hari kian
bertambah. Dari pemantauan di perempatan-perempatan jalan di Kota
Bandung, setiap tiga hari ada lima anak baru. Karena itu dia sepakat
bahwa musik memang efektif untuk penyadaran. Menurut dia, lagu-lagu
anak jalanan jauh lebih kontekstual, lebih mengakar daripada lagu-lagu
yang dibawakan grup musik yang telah terkenal saat ini.
Sementara itu, Ibe Karyanto mengungkapkan, yang lebih sering
terjadi anak-anak jalanan ini belajar musik dari teman-teman mereka.
Mereka sendiri yang menentukan jadwal latihan sore hari, karena pada
pagi, siang atau malam hari ada yang kerja jualan koran atau calo
taksi. "Jadi saya tidak mengajari mereka. Saya tidak ingin mereka
hanya menjadi tukang. Saya ingin mereka mengenal potensi diri seperti
lagu berjudul Membangun Mimpi di atas Kaki Sendiri," tuturnya.
Menyinggung kaset Sanggar Anak akar volume kedua, Susilo
Adinegoro selaku produser mengatakan, kaset tersebut diproduksi 3.000
buah. Sedangkan volume pertama yang berjudul Nyanyian Ranting Kering
telah terjual 10.000 kaset dan permintaan tetap mengalir hingga kini.
"Biaya produksi kaset volume kedua ini Rp 15 juta. Kaset itu akan kami
pasarkan lewat acara-acara diskusi. Kami akan membuka jaringan pasar
sendiri," kata Susilo. (ij/lok)
NYANYIAN ANAK-ANAK PINGGIRAN
Berharap ada bintang jatuh,
biar aku bisa minta sesuatu...
ANDAI benar ada bintang jatuh, mungkin anak-anak jalanan,
anak-anak pinggiran, yang menyaksikannya akan mengucapkan harapan,
"Tuhan, beri rezeki untukku hari ini. Tuhan, buka mata hati para
penguasa kota, para petugas tramtib, supaya tidak mengejar-ngejar
diriku mirip buronan dan menjebloskanku ke panti sosial."
Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Realitasnya, anak-anak
jalanan di negeri ini, dari waktu ke waktu, justru harus berbenturan
dengan aparat keamanan. Tindak kekerasan mereka rasakan. Tak cuma itu
penderitaan mereka. Di rumah, mau tak mau mereka turut mendengar dan
melihat berbagai kesulitan yang dihadapi orangtua mereka: tak punya
uang, tak ada beras, tak punya telur, minyak pun habis.
Berangkat dari pengalaman keseharian anak-anak jalanan inilah
operet Nyanyian Para Saksi digelar Sanggar Anak 'akar', 1-2 Oktober
2000 di Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Operet yang disutradarai Ibe Karyanto dan penataan musiknya
dibantu Oppie Andaresta ini merupakan produksi kedelapan Sanggar
'akar'. Tujuh pementasan terdahulu, adalah Opera Bencana (Banjir),
Nyanyian Ranting Kering, Hari-hari Hidupku, Senandung Akar Rumput,
Opera Luka-lukaku, Opera Muka-muka di Kaca, dan Rahmat Membangun
Mimpi.
***
NYANYIAN Para Saksi bercerita tentang pengalaman hidup Nina (9),
bocah yang biasa mengamen di perempatan jalan. Nina hanyalah satu
dari sekian banyak bocah kecil yang menjadi saksi kerasnya hidup yang
membelit orangtua mereka. Ia menyaksikan bagaimana ayahnya digebuki
aparat dan harus masuk rumah sakit. Sementara di rumah, mereka tak
memiliki apa-apa untuk dimakan.
Seperti biasa, Nina mengamen di perempatan bersama kawan-
kawannya. Tak hanya Nina di jalanan. Ada pula anak-anak pedagang
asongan koran atau penjual rokok eceran.
Petualangan Nina sebagai bocah tidak hanya menjadi saksi, tetapi
juga sebagai bocah yang sehari-hari menghadapi ancaman. Di jalanan,
ketika sedang mengais rezeki, hampir setiap hari Nina dan bocah-bocah
lainnya berhadapan dengan kejahatan para preman. Bahkan, mereka juga
harus menghadapi ancaman para petugas.
Masih banyak cerita duka anak-anak yang termarjinalkan. Akibat
pertikaian politik, bocah-bocah kecil yang jelas tak ada sangkut-paut
dengan politik, entah di Maluku, di Aceh, di Pontianak, atau di Poso,
kini tak bisa sekolah. Mereka terkungkung di lokasi pengungsian,
menjadi "saksi-saksi kecil" kekerasan bersenjata.
Cerita dalam operet memang mirip dengan hidup mereka setiap
harinya. Di Jakarta, anak-anak jalanan, entah pengamen ecek-ecek di
perempatan, pedagang asongan, atau apa pun aktivitas mereka mencari
nafkah, selalu diancam garukan petugas tramtib.
Operet adalah representasi hidup mereka. Kenyataan yang terjadi
sering lebih pahit. Simak saja. Saking muaknya pada Operasi
Penertiban Penyandang Masalah Sosial yang dilancarkan Pemerintah
Daerah Tingkat I DKI Jaya, anak-anak jalanan dari berbagai lokasi
pada tanggal 25 September 2000 berdemonstrasi di Balaikota memprotes
Gubernur DKI Jaya, Sutiyoso. Namun, bukan tanggapan positif yang
mereka dapatkan. Justru tindakan represif dan pukulan/ bogem mentah
para hansip sebagai jawaban protes mereka.
***
SIAPAKAH anak-anak anggota Sanggar 'akar' ini? Mereka adalah
anak-anak dari keluarga perkotaan yang tidak mampu secara ekonomi.
Mereka berasal dari berbagai lokasi di Jakarta. Mereka yang bertempat
tinggal di Cakung, umumnya anak-anak petani sayur yang menanam sayur
di bantaran sungai. Anak-anak dari Bantar Gebang yang orangtuanya
berprofesi sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah tersebut.
Anak-anak dari Penas lama, yang biasanya anak-anak penjual gorengan,
penjual ketoprak keliling, atau kuli bangunan.
Nina yang menjadi pemeran utama operet adalah murid kelas lima
SDN 12 Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. Setiap hari usai
sekolah hingga pukul 15.00, Nina mengamen di perempatan lampu merah
Kebon Nanas, Jakarta Timur. Kata Nina, bapaknya tidak bekerja.
Ditanya berapa penghasilannya setiap hari, ia menjawab, "Tiga
ribu perak. Yang dua ribu buat Emak, yang seribu buat jajan."
Sanggar 'akar' yang didirikan 22 November 1994 adalah media
pendidikan kreatif yang dibangun bersama oleh Biro Advokasi
Anak-Institut Sosial Jakarta dan anak-anak pinggiran. Kesulitan untuk
mencari tempat belajar dan bermain yang nyaman adalah salah satu
alasan yang mendesak dibanggunnya sanggar.
Bentuk sanggar sengaja dipilih untuk memfasilitasi terciptanya
proses "belajar sambil berkarya" dan membuka peluang sebanyak mungkin
kegiatan kreatif yang mampu mendukung pengembangan potensi anak. Di
samping kegiatan membaca di perpustakaan, mereka membuat kerajinan
(daur ulang, sablon), bermain musik, membuat tabloid, juga
mengembangkan kegiatan dinamika kelompok belajar dan teater.
Sebagian besar anggota Sanggar 'akar' adalah pengamen. Yang
masih kecil-kecil mengamen di traffic light, yang sudah besar
biasanya mengamen di dalam bus kota.
"Kami punya acara pertemuan setiap hari Minggu. Sekali pertemuan
biasanya terkumpul 90-100 anak. Selama tiga jam mereka belajar
sosiodrama, latihan public speaking, mengkritik teman, dan bercerita
lisan. Setelah latihan, mereka bebas main. Yang mau main musik, ya,
main musik diajari temannya yang sudah bisa," kata Ibe Karyanto,
pendamping anak-anak Sanggar 'akar'.
Kalau sudah memegang gitar, mereka akan menyanyikan serangkaian
tembang yang lirik-liriknya mengharukan. Seperti Oppie Andaresta yang
menyanyikan lagunya: //Pada saat terik lapar letih/mengais rezeki di
ladang sampah/badanku yang sekecil ini pasti tak mampu menjangkau
harga/semakin hari semakin menggila//Belum lagi datang preman/yang
selalu mengompas hasil keringatku/ badanku yang sekecil ini tak mampu
pertahankan semua hakku/semakin hari hidup semakin enggak
aman/berharap ada bintang jatuh/biar aku bisa minta sesuatu...
(Elok Dyah Messwati)
biar aku bisa minta sesuatu...
ANDAI benar ada bintang jatuh, mungkin anak-anak jalanan,
anak-anak pinggiran, yang menyaksikannya akan mengucapkan harapan,
"Tuhan, beri rezeki untukku hari ini. Tuhan, buka mata hati para
penguasa kota, para petugas tramtib, supaya tidak mengejar-ngejar
diriku mirip buronan dan menjebloskanku ke panti sosial."
Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Realitasnya, anak-anak
jalanan di negeri ini, dari waktu ke waktu, justru harus berbenturan
dengan aparat keamanan. Tindak kekerasan mereka rasakan. Tak cuma itu
penderitaan mereka. Di rumah, mau tak mau mereka turut mendengar dan
melihat berbagai kesulitan yang dihadapi orangtua mereka: tak punya
uang, tak ada beras, tak punya telur, minyak pun habis.
Berangkat dari pengalaman keseharian anak-anak jalanan inilah
operet Nyanyian Para Saksi digelar Sanggar Anak 'akar', 1-2 Oktober
2000 di Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Operet yang disutradarai Ibe Karyanto dan penataan musiknya
dibantu Oppie Andaresta ini merupakan produksi kedelapan Sanggar
'akar'. Tujuh pementasan terdahulu, adalah Opera Bencana (Banjir),
Nyanyian Ranting Kering, Hari-hari Hidupku, Senandung Akar Rumput,
Opera Luka-lukaku, Opera Muka-muka di Kaca, dan Rahmat Membangun
Mimpi.
***
NYANYIAN Para Saksi bercerita tentang pengalaman hidup Nina (9),
bocah yang biasa mengamen di perempatan jalan. Nina hanyalah satu
dari sekian banyak bocah kecil yang menjadi saksi kerasnya hidup yang
membelit orangtua mereka. Ia menyaksikan bagaimana ayahnya digebuki
aparat dan harus masuk rumah sakit. Sementara di rumah, mereka tak
memiliki apa-apa untuk dimakan.
Seperti biasa, Nina mengamen di perempatan bersama kawan-
kawannya. Tak hanya Nina di jalanan. Ada pula anak-anak pedagang
asongan koran atau penjual rokok eceran.
Petualangan Nina sebagai bocah tidak hanya menjadi saksi, tetapi
juga sebagai bocah yang sehari-hari menghadapi ancaman. Di jalanan,
ketika sedang mengais rezeki, hampir setiap hari Nina dan bocah-bocah
lainnya berhadapan dengan kejahatan para preman. Bahkan, mereka juga
harus menghadapi ancaman para petugas.
Masih banyak cerita duka anak-anak yang termarjinalkan. Akibat
pertikaian politik, bocah-bocah kecil yang jelas tak ada sangkut-paut
dengan politik, entah di Maluku, di Aceh, di Pontianak, atau di Poso,
kini tak bisa sekolah. Mereka terkungkung di lokasi pengungsian,
menjadi "saksi-saksi kecil" kekerasan bersenjata.
Cerita dalam operet memang mirip dengan hidup mereka setiap
harinya. Di Jakarta, anak-anak jalanan, entah pengamen ecek-ecek di
perempatan, pedagang asongan, atau apa pun aktivitas mereka mencari
nafkah, selalu diancam garukan petugas tramtib.
Operet adalah representasi hidup mereka. Kenyataan yang terjadi
sering lebih pahit. Simak saja. Saking muaknya pada Operasi
Penertiban Penyandang Masalah Sosial yang dilancarkan Pemerintah
Daerah Tingkat I DKI Jaya, anak-anak jalanan dari berbagai lokasi
pada tanggal 25 September 2000 berdemonstrasi di Balaikota memprotes
Gubernur DKI Jaya, Sutiyoso. Namun, bukan tanggapan positif yang
mereka dapatkan. Justru tindakan represif dan pukulan/ bogem mentah
para hansip sebagai jawaban protes mereka.
***
SIAPAKAH anak-anak anggota Sanggar 'akar' ini? Mereka adalah
anak-anak dari keluarga perkotaan yang tidak mampu secara ekonomi.
Mereka berasal dari berbagai lokasi di Jakarta. Mereka yang bertempat
tinggal di Cakung, umumnya anak-anak petani sayur yang menanam sayur
di bantaran sungai. Anak-anak dari Bantar Gebang yang orangtuanya
berprofesi sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah tersebut.
Anak-anak dari Penas lama, yang biasanya anak-anak penjual gorengan,
penjual ketoprak keliling, atau kuli bangunan.
Nina yang menjadi pemeran utama operet adalah murid kelas lima
SDN 12 Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. Setiap hari usai
sekolah hingga pukul 15.00, Nina mengamen di perempatan lampu merah
Kebon Nanas, Jakarta Timur. Kata Nina, bapaknya tidak bekerja.
Ditanya berapa penghasilannya setiap hari, ia menjawab, "Tiga
ribu perak. Yang dua ribu buat Emak, yang seribu buat jajan."
Sanggar 'akar' yang didirikan 22 November 1994 adalah media
pendidikan kreatif yang dibangun bersama oleh Biro Advokasi
Anak-Institut Sosial Jakarta dan anak-anak pinggiran. Kesulitan untuk
mencari tempat belajar dan bermain yang nyaman adalah salah satu
alasan yang mendesak dibanggunnya sanggar.
Bentuk sanggar sengaja dipilih untuk memfasilitasi terciptanya
proses "belajar sambil berkarya" dan membuka peluang sebanyak mungkin
kegiatan kreatif yang mampu mendukung pengembangan potensi anak. Di
samping kegiatan membaca di perpustakaan, mereka membuat kerajinan
(daur ulang, sablon), bermain musik, membuat tabloid, juga
mengembangkan kegiatan dinamika kelompok belajar dan teater.
Sebagian besar anggota Sanggar 'akar' adalah pengamen. Yang
masih kecil-kecil mengamen di traffic light, yang sudah besar
biasanya mengamen di dalam bus kota.
"Kami punya acara pertemuan setiap hari Minggu. Sekali pertemuan
biasanya terkumpul 90-100 anak. Selama tiga jam mereka belajar
sosiodrama, latihan public speaking, mengkritik teman, dan bercerita
lisan. Setelah latihan, mereka bebas main. Yang mau main musik, ya,
main musik diajari temannya yang sudah bisa," kata Ibe Karyanto,
pendamping anak-anak Sanggar 'akar'.
Kalau sudah memegang gitar, mereka akan menyanyikan serangkaian
tembang yang lirik-liriknya mengharukan. Seperti Oppie Andaresta yang
menyanyikan lagunya: //Pada saat terik lapar letih/mengais rezeki di
ladang sampah/badanku yang sekecil ini pasti tak mampu menjangkau
harga/semakin hari semakin menggila//Belum lagi datang preman/yang
selalu mengompas hasil keringatku/ badanku yang sekecil ini tak mampu
pertahankan semua hakku/semakin hari hidup semakin enggak
aman/berharap ada bintang jatuh/biar aku bisa minta sesuatu...
(Elok Dyah Messwati)
Langganan:
Postingan (Atom)