KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.
***
PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.
Tampilkan postingan dengan label anak pinggiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak pinggiran. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Desember 2008
GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.
GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.
***
PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.
GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.
***
PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.
Label:
akar,
anak,
anak pinggiran,
doge,
indira,
ine,
pendidikan,
pendidikan alternative,
pendidikan anak,
sanggar,
sanggar akar
MUSIK, TERAPI PSIKOLOGIS ANAK
KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.
Jakarta, Kompas
Anak-anak pinggiran/jalanan perlu ditangani dengan pendekatan
individual, realistis, dan sesuai dengan bakat mereka. Dalam hal ini,
musik bisa menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena dengan
mengekspresikan diri melalui karya musik, mereka mendapatkan
kebanggaannya.
Demikian benang merah diskusi "Musik sebagai Media Penyadaran
Anak Pinggiran" yang diselenggarakan Sanggar Anak akar Institut Sosial
Jakarta (ISJ) di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (12/5). Diskusi itu
merupakan rangkaian Kampanye Perlindungan Hak Anak yang diadakan
Konsorsium Anak Jalanan Indonesia, mulai 10 Mei hingga 11 Desember
1999 dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Diskusi itu menampilkan pembicara pemusik asal Bandung Harry
Roesli, penulis Arswendo Atmowiloto, pimpinan Sanggar Anak akar Ibe
Karyanto, dan pelatih musik Sanggar Anak akar Jeffar Lumban Gaol.
Sebelumnya, Selasa malam lalu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail
Marzuki, Sanggar Anak akar meluncurkan kaset volume kedua bertajuk
Anak Pinggiran. Bersamaan dengan peluncuran kaset itu, mereka juga
mementaskan operet berjudul Muka-muka di Kaca.
Dalam diskusi kemarin, Arswendo Atmowiloto mengemukakan,
sebenarnya anak-anak jalanan tidak butuh dikasihani, mereka hanya
butuh diperhatikan dan diberi keterampilan. Arswendo melihat,
penyadaran kepada mereka tetaplah merupakan penyadaran secara pribadi,
secara individual.
"Yang penting menyadarkan bagaimana mereka dapat bertahan
hidup tanpa mengandalkan kroni, tanpa mengandalkan maesenas, tanpa
mengandalkan belas kasihan, juga tanpa mengharapkan keajaiban. 'Sang
penyelamat' mereka adalah diri mereka sendiri," papar Arswendo.
Dalam bayangan Arswendo, pendekatan atau penyadaran pribadi
lepas pribadi adalah membiarkan mereka menemukan cara terbaik untuk
hidup. Maksudnya, jangan memaksa mereka untuk meninggalkan habitatnya,
situasi dan kondisi mereka yang selama ini menjadikan mereka hidup.
"Jangan paksa ajari pertobatan, nilai luhur atau tata krama. Mereka
akan mempraktikkan kalau memerlukan," kata Arswendo.
Penyadaran melalui musik, berteater, berseni lukis, berkarya
atau hidup bersama, pada akhirnya adalah penyadaran akan kemampuan
individual untuk menjadi 'jagoan', supaya mampu bertahan di tengah
kerasnya kehidupan yang harus mereka jalani.
Kebanggaan
Sementara menurut pelatih musik Jeffar Lumban Gaol, harga diri
dan kebanggaan anak-anak pinggiran dapat dibangkitkan melalui musik.
Musik dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. "Yang saya tekankan
pada mereka: jika kalian bermain musik, maka kalian akan
diperhatikan," katanya.
Pemusik Harry Roesli menyatakan, upaya menyadarkan anak-anak
pinggiran agar mereka bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku
adalah sebuah kerja yang sangat besar. Namun, kata Harry, sebenarnya
ketidaksadaran anak-anak pinggiran itu merupakan ekses dari
ketidaksadaran orang-orang yang berada di atas atau orang-orang yang
memiliki kewenangan.
"Mencuri, buat norma kita itu kriminal. Tetapi buat mereka
nilainya survival, kendati orang-orang yang normatif juga suka
mencuri, korupsi, dan manipulasi. Malak atau berkelahi buat kita
nilainya negatif, tetapi buat mereka itu nilai dari sebuah eksistensi
di dunia mereka. Jadi penyadaran itu harus dimulai dari bapak-bapak
kita," kata Harry.
Dia mensinyalir jumlah anak pinggiran ini kian hari kian
bertambah. Dari pemantauan di perempatan-perempatan jalan di Kota
Bandung, setiap tiga hari ada lima anak baru. Karena itu dia sepakat
bahwa musik memang efektif untuk penyadaran. Menurut dia, lagu-lagu
anak jalanan jauh lebih kontekstual, lebih mengakar daripada lagu-lagu
yang dibawakan grup musik yang telah terkenal saat ini.
Sementara itu, Ibe Karyanto mengungkapkan, yang lebih sering
terjadi anak-anak jalanan ini belajar musik dari teman-teman mereka.
Mereka sendiri yang menentukan jadwal latihan sore hari, karena pada
pagi, siang atau malam hari ada yang kerja jualan koran atau calo
taksi. "Jadi saya tidak mengajari mereka. Saya tidak ingin mereka
hanya menjadi tukang. Saya ingin mereka mengenal potensi diri seperti
lagu berjudul Membangun Mimpi di atas Kaki Sendiri," tuturnya.
Menyinggung kaset Sanggar Anak akar volume kedua, Susilo
Adinegoro selaku produser mengatakan, kaset tersebut diproduksi 3.000
buah. Sedangkan volume pertama yang berjudul Nyanyian Ranting Kering
telah terjual 10.000 kaset dan permintaan tetap mengalir hingga kini.
"Biaya produksi kaset volume kedua ini Rp 15 juta. Kaset itu akan kami
pasarkan lewat acara-acara diskusi. Kami akan membuka jaringan pasar
sendiri," kata Susilo. (ij/lok)
Jakarta, Kompas
Anak-anak pinggiran/jalanan perlu ditangani dengan pendekatan
individual, realistis, dan sesuai dengan bakat mereka. Dalam hal ini,
musik bisa menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena dengan
mengekspresikan diri melalui karya musik, mereka mendapatkan
kebanggaannya.
Demikian benang merah diskusi "Musik sebagai Media Penyadaran
Anak Pinggiran" yang diselenggarakan Sanggar Anak akar Institut Sosial
Jakarta (ISJ) di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (12/5). Diskusi itu
merupakan rangkaian Kampanye Perlindungan Hak Anak yang diadakan
Konsorsium Anak Jalanan Indonesia, mulai 10 Mei hingga 11 Desember
1999 dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Diskusi itu menampilkan pembicara pemusik asal Bandung Harry
Roesli, penulis Arswendo Atmowiloto, pimpinan Sanggar Anak akar Ibe
Karyanto, dan pelatih musik Sanggar Anak akar Jeffar Lumban Gaol.
Sebelumnya, Selasa malam lalu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail
Marzuki, Sanggar Anak akar meluncurkan kaset volume kedua bertajuk
Anak Pinggiran. Bersamaan dengan peluncuran kaset itu, mereka juga
mementaskan operet berjudul Muka-muka di Kaca.
Dalam diskusi kemarin, Arswendo Atmowiloto mengemukakan,
sebenarnya anak-anak jalanan tidak butuh dikasihani, mereka hanya
butuh diperhatikan dan diberi keterampilan. Arswendo melihat,
penyadaran kepada mereka tetaplah merupakan penyadaran secara pribadi,
secara individual.
"Yang penting menyadarkan bagaimana mereka dapat bertahan
hidup tanpa mengandalkan kroni, tanpa mengandalkan maesenas, tanpa
mengandalkan belas kasihan, juga tanpa mengharapkan keajaiban. 'Sang
penyelamat' mereka adalah diri mereka sendiri," papar Arswendo.
Dalam bayangan Arswendo, pendekatan atau penyadaran pribadi
lepas pribadi adalah membiarkan mereka menemukan cara terbaik untuk
hidup. Maksudnya, jangan memaksa mereka untuk meninggalkan habitatnya,
situasi dan kondisi mereka yang selama ini menjadikan mereka hidup.
"Jangan paksa ajari pertobatan, nilai luhur atau tata krama. Mereka
akan mempraktikkan kalau memerlukan," kata Arswendo.
Penyadaran melalui musik, berteater, berseni lukis, berkarya
atau hidup bersama, pada akhirnya adalah penyadaran akan kemampuan
individual untuk menjadi 'jagoan', supaya mampu bertahan di tengah
kerasnya kehidupan yang harus mereka jalani.
Kebanggaan
Sementara menurut pelatih musik Jeffar Lumban Gaol, harga diri
dan kebanggaan anak-anak pinggiran dapat dibangkitkan melalui musik.
Musik dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. "Yang saya tekankan
pada mereka: jika kalian bermain musik, maka kalian akan
diperhatikan," katanya.
Pemusik Harry Roesli menyatakan, upaya menyadarkan anak-anak
pinggiran agar mereka bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku
adalah sebuah kerja yang sangat besar. Namun, kata Harry, sebenarnya
ketidaksadaran anak-anak pinggiran itu merupakan ekses dari
ketidaksadaran orang-orang yang berada di atas atau orang-orang yang
memiliki kewenangan.
"Mencuri, buat norma kita itu kriminal. Tetapi buat mereka
nilainya survival, kendati orang-orang yang normatif juga suka
mencuri, korupsi, dan manipulasi. Malak atau berkelahi buat kita
nilainya negatif, tetapi buat mereka itu nilai dari sebuah eksistensi
di dunia mereka. Jadi penyadaran itu harus dimulai dari bapak-bapak
kita," kata Harry.
Dia mensinyalir jumlah anak pinggiran ini kian hari kian
bertambah. Dari pemantauan di perempatan-perempatan jalan di Kota
Bandung, setiap tiga hari ada lima anak baru. Karena itu dia sepakat
bahwa musik memang efektif untuk penyadaran. Menurut dia, lagu-lagu
anak jalanan jauh lebih kontekstual, lebih mengakar daripada lagu-lagu
yang dibawakan grup musik yang telah terkenal saat ini.
Sementara itu, Ibe Karyanto mengungkapkan, yang lebih sering
terjadi anak-anak jalanan ini belajar musik dari teman-teman mereka.
Mereka sendiri yang menentukan jadwal latihan sore hari, karena pada
pagi, siang atau malam hari ada yang kerja jualan koran atau calo
taksi. "Jadi saya tidak mengajari mereka. Saya tidak ingin mereka
hanya menjadi tukang. Saya ingin mereka mengenal potensi diri seperti
lagu berjudul Membangun Mimpi di atas Kaki Sendiri," tuturnya.
Menyinggung kaset Sanggar Anak akar volume kedua, Susilo
Adinegoro selaku produser mengatakan, kaset tersebut diproduksi 3.000
buah. Sedangkan volume pertama yang berjudul Nyanyian Ranting Kering
telah terjual 10.000 kaset dan permintaan tetap mengalir hingga kini.
"Biaya produksi kaset volume kedua ini Rp 15 juta. Kaset itu akan kami
pasarkan lewat acara-acara diskusi. Kami akan membuka jaringan pasar
sendiri," kata Susilo. (ij/lok)
Langganan:
Postingan (Atom)