Tampilkan postingan dengan label dede supriyatna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dede supriyatna. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Desember 2008

NAK JALANAN ITU KINI BERSEKOLAH FORMAL

KOMPAS, Selasa, 26-08-2003.
KEGIATAN Dede Supriyatna (19), kini tak hanya bergelut dengan
percobaan membuat alat musik dari berbagai bahan di sanggar saja.
Sejak Juli lalu, tugas Dede-akrab dengan panggilan Ambon-sebagai
pimpinan Dewan Koordinator Anak (Dekan) Sanggar Akar bertambah satu,
kuliah di Institut Musik Indonesia.

Kerinduan Ambon, lulusan sekolah kejuruan di Jakarta untuk
menempuh pendidikan tinggi tercapai sudah. Ia dan enam kawannya
sesama anggota sanggar berpredikat mahasiswa, predikat yang
dirindukannya sejak kecil.

Ada 25 'adik-adik' Ambon di sanggar itu, yang juga berstatus
siswa sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP),
dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).

Keputusan sanggar menyekolahkan anak-anak jalanan ke sekolah
formal tampaknya sulit dimengerti. Mereka umumnya mengesampingkan
sekolah formal, sebab anak jalanan tak suka terkungkung aturan
pendidikan formal yang biasanya serba kaku.

Akan tetapi, penanggung jawab sanggar, Ibe Karyanto, punya
alasan. Bersama empat rekannya antara lain Ivonne dan Jupri, yang
sejak 1994 mendirikan sanggar, ia hanya menuruti keinginan anak-anak
sanggar. Namun, setiap anak harus bertanggung jawab terhadap
keputusannya bersekolah.

"Jika mereka membolos dan sudah diingatkan tiga kali tidak bisa,
hukumannya dirumuskan bersama. Misalnya, mereka tidak boleh nonton
televisi selama seminggu," tutur Ibe.

Menurut Andre (12), mereka sudah tahu sendiri kalau ada PR yang
harus dikerjakan. "Daripada diomelin Uwak (panggilan anak sanggar
kepada Ibe Karyanto-Red)," tambah Rastini (12), yang sore itu bersama
Aminah tengah mengerjakan PR Matematika.

Keduanya ditunggui Hani, gadis yang sejak beberapa tahun terakhir
bergabung di sanggar dan kini mahasiswa jurusan Bahasa Inggris.
***

JULI 2003 menjadi saat terberat bagi sanggar karena 32 anak dari
sekitar 80-an warga sanggar harus mengurus kenaikan kelas atau masuk
sekolah baru. Ada sembilan anak di tingkat SD, tujuh di SLTP,
sembilan masuk SLTA, dan tujuh ke perguruan tinggi.

Darimana dananya?
"Anak-anak memang punya tabungan pribadi tetapi tidak mungkin
mengandalkan tabungan itu untuk membayar sekolahnya," tutur Ibe.

Tabungan pribadi, menurut Rastini, biasanya untuk membeli buku
tulis, tas sekolah, atau barang pribadi lainnya. "Kalau mau ambil
uang harus jelas untuk apa. Kalau tidak, enggak dikasih Ompung"
terang Rastini. Ompung adalah rekan Ibe yang bertugas antara lain
mencatat tabungan anak sanggar.

Ibe, lelaki asal Solo itu lantas merinci pengeluaran untuk
menyekolahkan 'anak-anaknya'. Tingkat SD, mereka memilih bersekolah
yang dekat dengan sanggar atau basis sehingga bisa mengirit ongkos.
Sekalipun demikian, masuk sekolah baru biar tingkat SD tetap kena
uang sumbangan pendidikan sekitar Rp 300.000 per siswa, ditambah
pembelian buku dalam paket yang sudah ditentukan sekolah. Untuk SD
harganya sekitar Rp 190.000 per anak.

Bagi yang di SLTP dan SLTA, uang sumbangan dan buku paket yang
harus dibeli lebih mahal lagi. Bila dijumlahkan, biaya memasukkan
anak ke sekolah tak kurang dari Rp 10 juta. Angka itu belum termasuk
pembelian paket buku ajar (cetak), seragam, SPP, dan transpor
harian. "Uang buku sampai sekarang belum terbayar, belum ada uang,"
kata Ibe.

Adapun mereka yang kuliah, setidaknya perlu dana Rp 3-4 juta per
anak, ditambah SPP per semester yang besarnya sekitar Rp 1 juta per
mahasiswa.
***

ANDRE, Ambon, Hani, para pemulung, dan pengamen anggota sanggar
boleh gembira bisa sekolah, tetapi para pengasuh Sanggar Akar harus
memutar otak mencari dana pengganti biaya hidup mereka bulan
mendatang. Uang itu dibutuhkan untuk makan yang hanya sekali sehari,
bayar listrik, dan modal kerja membuat kerajinan tangan.

Sebenarnya setahun terakhir, Sanggar Akar sudah mampu mencukupi
kebutuhannya dari sumbangan donatur dan order sablon, membuat lay out
majalah, membuat undangan, dan barang lain dari kertas daur ulang
sampai menerima order main teater dan musik. Grup musik sanggar
bahkan sudah berpentas hingga Surabaya. Untuk keluar kota tarifnya
sekitar Rp 3-4 juta bersih. Hasil pentas untuk semua pendukung
pementasan dan keperluan sanggar.

Kini, defisit keuangan yang parah membuat penghuni sanggar harus
kerja keras mencari order. "Saya sekarang 'mulung' lagi," aku Ibe
tanpa malu. (SOELASTRI SOEKIRNO)

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

"KAMPUS" MEREKA TERANCAM TERGUSUR

KOMPAS, Sabtu, 29-03-2003.
KABAR sedih itu seolah datang tiba-tiba. Anak-anak penghuni
kampus harus meninggalkan kampus tempat mereka belajar dan bermain
selama ini. Bahkan, bagi sebagian mereka, kampus itu juga sekaligus
sebagai tempat tinggal. Pemilik tanah tempat kampus itu berdiri sejak
sepuluh tahun lalu bermaksud menjual tanahnya.

Mereka, lagi-lagi, harus pindah ke tempat lain, kecuali kalau
mereka sanggup menebus tanah seluas 700 meter persegi dengan harga Rp
560 juta.

Apa yang disebut kampus itu tidak lain sebuah kompleks bangunan
yang didirikan dari kayu-kayu dan bahan bangunan bekas di kawasan
Gudang Seng, pinggir Kalimalang, Jakarta Timur. Mereka membangun
kompleks itu sedikit demi sedikit sejak sepuluh tahun lalu di atas
tanah kosong seluas 700 meter persegi. Kini mereka memiliki sebuah
aula bermain, bangsal tidur, perpustakaan, ruang komputer, dan ruang
audio visual.

Di tempat itulah anak-anak pinggiran membangun mimpinya, suatu
hari akan keluar dari kemiskinan yang membelenggunya. "Kami bisa
terus tinggal di tempat itu kalau sampai akhir Maret ini kami bisa
mendapatkan tambahan dana Rp 240 juta. Kami baru memperoleh dana
untuk uang muka Rp 40 juta," kata Ibe Karyanto, pendiri dan pemimpin
Sanggar Akar, yang diberi gelar rektor oleh anak-anak jalanan dan
pemulung yang didampinginya.

KESEDIHAN itu agak terobati ketika mereka berhasil menghimpun
sejumlah dana yang dibutuhkan dari para dermawan pada malam dana,
Kamis (27/3). Keberhasilan itu tidak lepas dari simpati sejumlah
artis kepada anak-anak jalanan. Mereka adalah penyanyi seperti
Sherina, Andien, Oppie Andaresta, dan Titiek Puspa.

"Anak-anak yang terpaksa hidup di jalanan ini juga punya potensi,
cita-cita, seperti anak yang lain-lain," kata Sherina sebelum
memainkan jari-jarinya di atas piano dan menyanyikan lagu yang
berjudul Lihatlah Lebih Dekat dan lagu Diana Ross, If We Hold on
Together.

Dengan "rayuan" Titiek Puspa bersama Opie, malam dana itu
mengumpulkan dana Rp 197,8 juta dan lembaran uang 100 dollar AS. Dana
itu belum cukup untuk menutup keharusan membayar Rp 240 juta pada
akhir bulan ini.

Komunitas Sanggar Akar merupakan salah satu pelopor pendampingan
anak-anak jalanan dan anak pinggiran di Jakarta. Kegiatan ini berawal
pada tahun 1989, ketika sejumlah orang tergerak untuk mendampingi
masyarakat miskin kota di bawah organisasi Institut Sosial Jakarta.
Melalui proses yang cukup panjang, mereka melakukan penyadaran diri
dan lingkungan melalui budaya. Kegiatan yang menonjol dalam komunitas
Sanggar Akar adalah kegiatan teater dan kesenian. Sebagian anak-anak
itu, yang telah memasuki masa remaja, bahkan kini menularkan
keterampilannya kepada anak-anak lain.

"Saya ingin kuliah. Saya ingin mendirikan sekolah seperti
Sanggar Akar. Mungkin di kota lain," kata Dede Supriyatna alias Ambon
(18). Pelajar STM kelas III itu bergabung dengan Sanggar Akar sejak 8
tahun lalu.

Anak-anak pinggiran itu berhak mengejar mimpi-mimpinya. Lagu
penutup acara malam itu adalah lagu Michael Jackson, Heal The World,
yang menyuarakan hati mereka.

Buatlah dunia menjadi tempat yang lebih baik, untukmu, untukku,
dan untuk seluruh ras manusia. Ada orang-orang yang tengah menuju
kematiannya, jika kamu tidak cukup peduli pada kehidupan. Buatlah
dunia tempat yang lebih baik, untukmu dan untukku.... (wis)

Pendidikan Alternatif

ANTARA PERLAWANAN DAN IJAZAH
Oleh: P Bambang Wisudo

KOMPAS, Sabtu, 17-09-2005.
Tanpa bersentuhan dengan pendidikan alternatif, Haryanti (34)
mungkin tidak akan mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi atau
bekerja menjadi guru.

Sekolah telah lama ditinggalkan Harti, demikian ia biasa
dipanggil, ketika Sanggar Anak Alam berdiri di kampungnya di Lawen,
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti kebanyakan anak-anak
desa pada masa itu, Harti berhenti sekolah setamat SD. Lepas dari
sekolah ia hanya membantu ibunya mengerjakan tugas di dapur atau
membantu bekerja di kebun. Sesekali ia belajar menari di grup
ketoprak yang diasuh ayahnya.

Harti, gadis yang cepat belajar. Berbagai keterampilan cepat
dikuasainya. Ia juga rajin membaca. Bakatnya mengajar juga tumbuh
dengan pesat. Karena itu, meski hanya mengantongi ijazah SD, ia
dipercaya mengajar di taman kanak-kanak (TK) yang didirikan Sanggar
Anak Alam. Kegiatan TK itu terhenti setelah berjalan lima tahun
setelah muncul protes karena gurunya hanya lulusan SD.

Harti tak putus asa. Keinginannya mengajar muncul kembali saat ia
hijrah mengikuti suaminya ke Jombang, Jawa Timur. Ia direkrut untuk
mengajar di TK Yayasan Al Muhamadi milik budayawan Emha Ainun Najib.
Sambil mengajar, ia ikut program kelompok belajar. Berbekal ijazah
penyetaraan itu, ia kini melanjutkan kuliah program Diploma
Pendidikan Guru TK.

"Saya membutuhkan ijazah untuk menunjang kegiatan saya mengajar,"
ujarnya.

Cita-cita tak bisa dicegah
Sekolah alternatif muncul sebagai respons terhadap kealpaan
negara dalam memberikan hak-hak pendidikan kepada masyarakat bawah.
Para aktivis pendidikan alternatif dengan sadar mendesain agar tumbuh
kesadaran kritis pada anak didiknya, membantu mereka menemukan jalan
untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka. Kesadaran
kritis terhadap sistem yang memiskinkan merupakan agenda penting
dalam pendidikan alternatif.

Akan tetapi, ketika kesadaran itu tumbuh, anak-anak tersebut
tidak sekadar ingin memperoleh pekerjaan yang layak agar dapat keluar
dari kemiskinan yang mengimpit keluarganya. Mereka bahkan memiliki
keinginan dan cita-cita yang tidak kalah dengan anak-anak "normal".

Sebutlah Dede Supriyatna (21). Dede, yang dipanggil Ambon oleh
kawan-kawannya, melewatkan masa kecil dengan menjual koran di
perempatan jalan di Jakarta. Bapaknya dulu bekerja sebagai petugas
satpam, harus menghidupi delapan anak. Beruntung, Ambon bersentuhan
dengan Sanggar Akar sehingga ia bisa tetap bersekolah. Meski tak
dianjurkan, Ambon terus belajar di sekolah formal. Padahal, kegiatan
di sanggar biasanya berlangsung hingga dini hari.

Tamat SMP, Ambon melanjutkan pendidikan ke STM. Meski belajar
otomotif, ia ternyata lebih tertarik pada pelajaran musik yang
didapatkannya di sanggar daripada mengutak-atik mesin. Pelajaran
praktik di bengkel merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Ambon.
"Sering saya tiduran di kolong mesin," katanya.

Dengan bekal ijazah STM itu ia kuliah Pendidikan Seni Musik di
Universitas Negeri Jakarta. Sebelumnya ia belajar piano gratis selama
setahun di lembaga pendidikan musik yang dipimpin Dwiki Dharmawan.

Di samping kuliah, kini ia memberikan les privat gitar dan
mengajar ekstrakurikuler musik di SD Vincencius.

Sekalipun bisa memperoleh uang, ia tidak mau memberikan les bila
itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari di sanggar mulai pukul 19.00
hingga dini hari. "Setengah hidup saya, saya habiskan di sanggar.
Saya ingin ikut mengembangkan sanggar," kata Ambon. "Tanpa Sanggar
Akar, mungkin saya akan jadi orang biasa-biasa saja. Paling-paling
kerja di pabrik. Siang kerja, malam tidur," ungkapnya.

Ambon merupakan salah satu dari delapan anak Sanggar Akar yang
saat ini kuliah. Mereka pada mulanya adalah anak-anak dari kalangan
marginal yang harus bergulat dalam keterbatasan ekonomi sehingga
menutup mimpi-mimpi mereka akan masa depan. Di tengah keharusan
mencari uang, belajar di sanggar, mereka juga belajar di sekolah
formal. Pendidikan alternatif tidak hanya membuka peluang dari
belenggu kemiskinan yang mengelilingi ruang kehidupan mereka, tetapi
juga membuka diri mereka pada dunia yang jauh lebih luas.

Itu tercermin dalam keputusan mereka dalam mengambil bidang
studi. Ada yang mengambil program studi Pendidikan Seni Rupa,
Akuntansi, maupun Bahasa Inggris. Bahkan Rika (19) memilih belajar
filsafat dan mulai semester ini mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara. Mereka tidak bercita-cita menjadi pegawai negeri
atau karyawan perusahaan. Kalaupun bekerja formal, mereka ingin
menjadi guru. Namun, mereka umumnya lebih suka mengembangkan
pendidikan alternatif seperti yang mereka dapatkan selama ini.