Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Desember 2008

PENGORBANAN IBE UNTUK ANAK PINGGIRAN

KOMPAS, Senin, 30-08-2004.
MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada
binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup
bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu
ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan,
dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan
tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih
tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali
Malang, Jakarta Timur.

IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang
beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan
masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup
serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.

Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang
bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya
hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama
puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi
selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya
hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.

Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak
jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik
dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk
mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi
andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di
sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada
yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan
bahasa Inggris. Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji
kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail
10-11 September mendatang.

Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak-
anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku
sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin
puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.

Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan
banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas,
sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama
untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar
didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.

Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi
permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi
senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan
aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak-
anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain-
lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak
kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.

Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman
dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan
keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.

PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa
kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun
1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta
(ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak
jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu
setengah tahun.

Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari
menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan
sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan
ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang
menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan
Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta
menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan
kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak
ada sekolahnya. "Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan
bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi," kata Ibe.

Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis
tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah
daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari
tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir-
pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap
kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan
bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.

Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ
menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka
yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah
Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.

Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer,
kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di
hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang
interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan
sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu
sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba
tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena
berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit
tidur, "penyakit" yang dialaminya sampai hari ini.

"Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk
menyembuhkan diri saya sendiri," kata Ibe.

KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin
apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan
anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun
kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak
mampu yang tinggal di daerah kumuh.

Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan
teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa
anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap
kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung
disuruh mandi dan membersihkan diri.

Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun,
kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding
dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia
siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta
maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk
di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan
mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan
maaf yang dia sampaikan.

"Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa
saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang
tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun," tutur Ibe.

Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa
hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai
sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta
benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.

"Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang
datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka," kata Ibe. (P BAMBANG
WISUDO)

"BIARKAN KAMI DI JALANAN ..."

KOMPAS, Sabtu, 14-07-2001.

RATUSAN anak yang sehari-hari bergulat di jalanan, Kamis (12/7),
tenggelam dalam luapan kegembiraan. Anak-anak berusia enam sampai
belasan tahun itu berlarian, berkejar-kejaran, menjerit, tertawa, dan
saling mengancam. Sebagian membawa kaleng, gelas, botol penuh cat
warna-warni, sebagian lagi berburu dengan tangan berlumuran cat,
menangkap siapa saja yang ada di areal itu. Mereka saling mencoreng
badan, menyiram, bahkan mengguyurkan cat dari atas kepala sampai ke
ujung kaki.

"Ini acara yang paling menyenangkan. Saya senang mencorat-coret
kawan saya," kata Sisriyani (6), anak seorang pemulung dari Bantar
Gebang.

Mereka kemudian meneriakkan yel-yel ABG, memukul kaleng, tambur,
potongan bambu, atau benda apa saja yang bisa mengeluarkan bunyi.
ABG ternyata merupakan kependekan dari Anak Bantar Gebang, identitas
anak-anak yang hidup di areal pembuangan sampah terbesar di Bekasi.
Bersama rombongan anak-anak lainnya mereka berparade mengelilingi
areal perkemahan di Cibubur, membawa spanduk dan poster dari kardus
bekas.

Perkemahan anak jalanan yang diberi nama "Kampore" itu telah
menjadi acara tahunan bagi anak-anak jalanan di Jakarta dan
sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh Sanggar Akar, rumah
singgah anak-anak jalanan di pinggir Kalimalang, Jakarta Timur,
tersebut pada tahun pertama hanya melibatkan puluhan anak dan selama
masa Orde Baru tidak pernah luput dari pengawasan intel. Selama tiga
hari perkemahan, mereka bermain, berdiskusi, adu keterampilan,
kemahiran dalam musik, dan ekspresi lainnya.

"Kali ini saya benar-benar bisa menikmati kegiatan ini. Hampir
95 persen acara ini dilaksanakan dan diorganisir oleh anak-anak
sendiri," tutur Ibe Karyanto, Koordinator Sanggar Akar. Ia pun tidak
luput dari guyuran cat. Mukanya hitam legam karena cat. Hanya gigi
dan matanya saja yang tinggal dalam warna aslinya.

Gagasan pesta cat itu muncul empat tahun lalu saat Kampore ke-6
di kawasan perkemahan Ragunan. Pada waktu itu, ketika anak-anak
diminta melukis dengan cat, mereka bahkan mengekspresikan diri dengan
mengecat tubuh mereka. Karena itu, aktivitas ini diambil alih oleh
penyelenggara dan menjadi acara rutin dalam tiga tahun terakhir,
dengan diberi makna bahwa semua anak jalanan adalah satu, termasuk
pendamping mereka.
***

USAI berparade, perwakilan anak-anak tampil di panggung. Dengan
muka tertutup cat dan tubuh coreng-moreng mereka berorasi. Seorang
anak menyerukan agar harga BBM jangan dinaikkan dengan alasan ibunya
memakai kompor untuk memasak. Anak lainnya meminta agar pemerintah
mencegah banjir yang selalu menerjang rumahnya, memberikan kebebasan
belajar dan bermain, membiarkan mereka bebas di jalanan. Banyak di
antara anak-anak itu yang menyuarakan keinginan Tramtib, institusi
keamanan dan ketertiban di bawah pemerintah daerah, dibubarkan.

"Kami ingin bebas ngamen dan mencari uang. Biarkan kami di
jalanan. Musnahkan Tramtib supaya anak jalanan senang," kata Angga
(14), yang sehari-hari ngamen di kawasan Blok M.

Regi (16) yang baru seminggu melarikan diri dari panti sosial
Kedoya, mengajak kawan-kawannya untuk membubarkan Tramtib. Selama
lima minggu, kata Regi, ia "dipenjara" di Kedoya setelah ditangkap
oleh seorang intel dalam operasi preman beberapa waktu lalu.
Menanggapi ajakan Regi, seorang anak berteriak agar Tramtib dibom
saja. Namun, Regi mengusulkan agar mereka berunjuk rasa terus-menerus
sampai Tramtib dibubarkan.

"Agar kita aman di jalanan," kata Regi. "Tapi jangan pakai
lempar-lempar."
***

APARAT Tramtib merupakan sumber kerisauan anak-anak jalanan.
Kekerasan yang mereka hadapi sehari-hari di jalanan, bukanlah dari
para penjahat, preman, atau pemalak, tetapi justru aparat Tramtib.

Ari (14), yang sehari-hari menyapu lantai kereta dari Stasiun
Jatinegara untuk mendapatkan uang receh dari penumpang, menuturkan
bahwa tiga orang rekannya tidak bisa ikut dalam acara perkemahan itu
karena keburu ditangkap Tramtib sewaktu tiduran di jalanan.

"Saya sempat melarikan diri. Waktu saya berangkat, aparat Tramtib
juga berkeliaran di taman di dekat tempat saya singgah," kata Ari.
Coley dan Coki yang telah belasan tahun hidup di jalanan
mengatakan bahwa hak mereka untuk hidup di jalanan. Juga ngamen di
perempatan jalan.

"Apa salahnya kami ngamen di jalanan. Kami tidak mencuri. Kalau
dibilang mengganggu, ada orang- orang yang memberi kami uang atau
membawakan kami makanan. Justru karena ada kami, perempatan di
kawasan Blok M tidak pernah ada orang kehilangan kaca spion atau HP.
Lalu, kenapa kami dilarang?" ujar Coley.

Ia menuturkan, pernah ditangkap polisi dan disarankan untuk
berdagang. Namun, saat berjualan koran atau teh botol di kaki lima,
ia tidak luput dari kejaran Tramtib dan gerobaknya disita.

"Berbuat jahat dilarang, yang halal juga dilarang, lantas kami
disuruh apa?" kata Coley.

Coki menuturkan, ia dan kawan-kawannya berada di jalanan bukan
karena kemauan mereka sendiri. Mereka lari ke jalan karena tidak
punya uang atau menjadi korban kekerasan orangtuanya.

"Karena dilarang ngamen di perempatan, semua pengamen naik ke bus
kota. Bagaimana dengan adik-adik saya yang masih kecil kalau jatuh
dari bus. Apa pemerintah yang nanggung?" kata Coki.

Penanganan anak jalanan, menurut Ibe Karyanto, bukan soal
mengeluarkan atau tidak mengeluarkan mereka dari jalanan. Yang
penting ketika mereka di jalanan mereka utuh sebagai pribadi,
memiliki kebanggaan, tidak menunjukkan sikap-sikap defensif atau
meminta belas kasihan orang lain. Sektor informal, berdagang di kaki
lima, pun merupakan kehidupan di jalanan.

"Masalahnya memang bukan mengeluarkan atau tidak mengeluarkan
mereka dari jalanan," kata Karyanto. (P Bambang Wisudo)

Ensemble Kaleng Rombeng Andre

VHR, 29 April 2007 - 23:16 WIB
Liza Desylanhi

Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam
Menanam jagung di kebun kita...



Jemari para siswa SD Pangudi Luhur, Cipete, Jakarta Selatan, lincah memainkan alat-alat musik, mengalunkan lagu "Menanam Jagung". Ada yang menekan tuts pianika, memetik dawai gitar, menabuh jimbe, dan meniup seruling.

Satu lagu belum juga usai, sang guru segera menghentakkan kaki, lalu menepukkan tangan. Ini pertanda musik harus berhenti. Suara fals tiba-tiba mengganggu. Guru itu pun membetulkan. Musik mengalun lagi hingga usai.

Keringat para siswa bercucuran karena panas yang menyengat. Maklum mereka latihan di pelataran sekolah sambil menunggu petugas laboratorium musik yang membawa kunci. Namun bocah-bocah kelas IV sampai VI itu tetap semangat berlatih untuk pertunjukan pesta kenaikan kelas bulan depan. Bahkan, kini mereka belajar membuat komposisi lagu sendiri.

Sang guru, Andre (26), tak kalah semangat. "Tinggal dipoles sedikit lagi akan jadi pertunjukan yang bagus," katanya sambil menyeka butiran keringat di dahi. Para murid pun senang atas pujian itu.

Andre guru istimewa. Saat mengajar ia mengenakan kaos oblong, jins belel yang robek di lutut, dan sandal gunung kegemarannya. Deretan anting perak menghiasi telinganya. Gayanya yang jauh dari formal membuatnya disukai para murid. Hampir semua murid akrab dengan Pak Guru yang satu ini.

"Orangnya sabar. Asyik. Nggak ngebosenin," kata Ivan Afiananda, siswa kelas V. Dulu Ivan pernah les piano, namun berhenti karena bosan. Di tangan Andre, Ivan tertarik kembali memainkan tuts-tuts piano.

Andre hanya lulusan sekolah menengah pertama. Selepas SMP ia menjadi pengamen dan pemulung, mengikuti profesi orang tuanya. Namun kepiawaian Andre memainkan musik membuat sekolah elite seperti Pangudi Luhur mempercayakan pengajaran musik siswanya kepada anak muda ini.

Tak ada bentangan permadani merah bagi Andre menuju profesi guru musik. Lamaran-lamarannya menjadi guru musik selalu ditolak karena ia tak punya ijazah yang memadai. Belum lagi karena penampilannya yang belel. "Sakit hati. Hampir putus asa," ujarnya. "Ternyata susah mendobrak budaya yang sudah kental ini. Mereka menilai seseorang dari luarnya saja."

Andre harus membuktikan kemampuannya agar dipercaya sebagai pengajar. Kesempatan itu didapat dari Wakil Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur yang mempercayainya melatih musik ensemble siswa kelas II dengan kaleng bekas. Ia hanya diberi waktu sepuluh hari untuk melatih. Andre menyambut kesempatan itu dengan penuh semangat. "Awalnya kepala sekolah dan orang tua nggak percaya. Tapi bersyukur aku mampu membuat dua komposisi untuk anak-anak SD itu."

Hasilnya, Andre mampu menyajikan musik ensemble kaleng bekas yang apik pada pesta akhir tahun.

Kepiawaian Andre memainkan komposisi musik klasik bukan datang dari langit. Sejak 2001 dia digodok di Sanggar Akar oleh Arjuna Hutagalung, profesor musik dari Institut Kesenian Jakarta. Sanggar itu memang didirikan untuk anak-anak jalanan.

"Dulu main gitar cuma genjreng-genjreng. Nggak ngerti ritme, nada, apalagi bikin komposisi musik," kata pria beralis tebal ini. Berkat didikan Arjuna, Andre tak hanya mampu memainkan alat musik dengan benar, namun juga membuat komposisi.

Arjuna pengajar yang keras, tegas, dan rajin memberikan pekerjaan rumah. Dia menuntut para siswanya berkomitmen tinggi. Akibatnya, dari 20 murid Sanggar Akar seangkatan Andre, tinggal tujuh orang yang bertahan. "Yang lain berguguran. Nggak kuat," kata Andre sambil tertawa.

Di awal latihan, Arjuna langsung menyodorkan komposisi Johann Sabastian Bach. Melihat partitur not balok karya itu Andre pusing. "Materinya berat. Dari segi teori aku jelek, deh! Tapi kalau praktik, aku cepat. Jangankan musik klasik, musik pop saja aku nggak ngerti. Namun aku harus mainin komposisi Bach. Gimana nggak mumet ini kepala?" kata pemuda berkulit gelap ini.

Andre harus bekerja keras memainkan musik Bach. Pertama, ia belajar membaca partitur. Kemudian belajar ketukan. Setelah lancar, beralih ke nada. Terakhir dia memainkan komposisi dengan gitar. Setelah bisa memainkan dengan gitar, beralih mengenali biola dan piano dengan mempelajari anatominya. Baru perlahan Andre mulai mengeja komposisi Bach dengan dua alat musik itu.

Andre juga mesti mengikuti kelas musik di kediaman Arjuna, dua kali seminggu. Ia tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Latihan dimulai pukul sembilan malam dan berakhir pukul satu dini hari. Tak jarang latihan molor hingga pukul tiga pagi. Setiap hari ia harus meluangkan waktu setengah jam untuk mempelajari komposisi yang diberikan Arjuna.

Sementara dari pagi sampai sore Andre dan teman-temannya harus mengajar para yuniornya di sanggar. Setiap menjelang tidur Andre menyempatkan diri latihan membaca partitur. Namun ia sering ketiduran sambil memeluk partitur.

Keterbatasan alat musik di sanggar teratasi oleh Arjuna yang menghibahkan sebuah piano. Ada pula dermawan yang menyumbang beberapa biola untuk sanggar itu.

Mesti keras, Arjuna pengajar yang menyenangkan. Ia pandai menghibur para muridnya. "Kelas selalu diawali dengan makan malam dan diakhiri minum bir," kata Andre.

Karena sering minum bir bareng, para murid pun kian akrab dengan Arjuna. Bahkan mereka mengganggap kakek gondrong penggemar kaos oblong merek Swan itu sebagai ayah sendiri.

Kerja keras memang makanan Andre sejak belia. Ia dulu membiayai sendiri sekolahnya dengan menjadi pemulung dan pengamen. Tak jarang ia ditodong dan diperas anak jalanan lain. " Hukum rimba berlaku di sana. Siapa kuat dia berkuasa," katanya sambil menerawang. "Kalau diingat-ingat sedih juga, sampai segitunya nyari duit. Susah banget."

Di sekolah dulu Andre tergolong berprestasi. Setiap penerimaan rapor ia selalu menjadi juara kelas. Namun ia kapok sekolah setelah disiksa oleh guru Fisika, karena tak sengaja melempar bola basket ke guru itu. Akibat siksaan itu Andre tak bisa makan seminggu. "Sampai kapan pun pengalaman itu nggak akan pernah kulupa. Aku benci sekolah formal!" ujarnya dengan suara parau. Dia pun tak melanjutkan ke sekolah menengah umum.

Saat di kelas II SMP Andre mulai kenal Sanggar Akar. Saat itu ia diajak temannya mengikuti kemah Kampung Orang Kere (Kampore) yang digelar sanggar tersebut. Sejak itu Andre bergabung dan menjadi "anak" Sanggar Akar. Bersama sanggar itu motivasi belajarnya kembali bangkit. "Kalau nggak sekolah formal, harus punya skill untuk hidup. Makanya belajar musik di sini. Walaupun apa adanya, aku mencoba serius."

Berkat ketekunan dan kerja keras itu kepiwaian Andre terus terasah. Sampai suatu ketika komposisinya dimainkan pada sebuah konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. "Di situ aku merasa hidup itu dihargai. Karena belajar dengan susah payah, aku akhirnya bisa membuat karya yang dapat dinikmati orang."

Kebanggaan Andre bertambah saat anak asuhnya di SD Pangudi Luhur menjadi juara II Pentas Musik Sekolah Dasar se-Jabotabek Desember tahun lalu. Karena prestasi itu status Andre sebagai guru honorer akan dinaikkan menjadi guru tetap.

Wakil Kepala SD Pangudi Luhur I Nengah Suntaya pun memberikan lampu hijau untuk Andre. Ia melihat keahlian Andre lebih bernilai daripada selembar ijazah. "Kami tidak melihat dari segi ijazah. Kalau ijazah saja kan bisa beli," katanya. "Saya nilai dia cukup kreatif. Mampu mengaransemen lagu dan dapat mendekati anak-anak."

Selain mengajar di SD Pangudi Luhur, Andre juga mengajar paduan suara Gereja Santo Yohanes di Sunter, Jakarta Pusat, dan menjadi guru les privat. Beberapa tawaran mengajar ia tolak karena tak mau menelantarkan para yuniornya di Sanggar Akar.

"Ini meyakinkan aku bahwa ijazah tak penting. Juga meyakinkan bahwa orang-orang seperti aku juga mampu berkarya," katanya menutup pembicaraan. Andre membakar rokok kretek dan mengisapnya pelan-pelan. Dikepulkannya asap ke udara, membentuk sebuah komposisi musik di kepalanya. (E2)

Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar

29 Mei 2008,Suara Pembaruan
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.

Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.

Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.

Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.

Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.

Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.

Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.

Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.

Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.



Kehidupan Sehari-hari

Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.

Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.

Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.

"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.

Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.

Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.

Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.

"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.

Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.

Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.

Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.



Pentas

Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.

Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.

"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.

Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.

"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.

Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.

Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.

Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..

Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.

Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]

Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar

29 Mei 2008,Suara Pembaruan
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.

Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.

Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.

Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.

Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.

Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.

Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.

Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.

Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.



Kehidupan Sehari-hari

Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.

Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.

Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.

"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.

Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.

Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.

Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.

"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.

Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.

Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.

Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.



Pentas

Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.

Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.

"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.

Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.

"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.

Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.

Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.

Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..

Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.

Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]

Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran

27-Jul-2007,
[www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.

Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.

Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.

Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.

Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.

Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.

Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.

Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah

Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran

27-Jul-2007,
[www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.

Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.

Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.

Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.

Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.

Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.

Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.

Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN

KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.

"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.

Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.

Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.

Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.

"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.

Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.

Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.

"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.

Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.

***

PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.

Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.

Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.

"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.

Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.

Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.

Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."

Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.

Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.

GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN

KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.



GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.

***

PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.

TOLAK TAYANGAN TELEVISI YANG TIDAK MENDIDIK

Percuma Saja Generasi Muda Sekolah
Oleh: Samuel Oktora Batarede

KOMPAS Jawa Timur, Senin, 15-08-2005.
Malang, Kompas

Sutradara dan aktor Slamet Rahardjo menyatakan, sekarang
diperlukan sikap radikal untuk tidak menonton sama sekali acara
televisi yang tidak mendidik.

Hal ini dikemukakan Slamet seusai acara dialog dan apresiasi film
karya anak Sanggar Akar Jakarta, Minggu (14/8) di Sekolah Menengah
Atas Katolik Santo Albertus-Dempo, Malang. Slamet hadir bersama
penyanyi Iga Mawarni.

Dalam sesi dialog, banyak ibu guru yang menyatakan keprihatinan
mereka akan maraknya tayangan televisi (TV) yang justru bersifat
merusak.

"Memang sekarang banyak film yang diputar di TV, apakah itu dari
dalam maupun luar negeri, yang tingkatannya sudah sangat
memprihatinkan. Isinya menyesatkan, termasuk yang bernuansa mistis.
Banyak yang tidak masuk akal, hanya menonjolkan kemewahan hingga
cerita-cerita dedemit. Kalau generasi muda sekarang banyak disodori
hal-hal semacam ini, percuma saja sekolah," kata Slamet.

"Tetapi, saya juga meminta ibu-ibu jangan hanya menjadi jago
kandang, tetapi perlu membuat semacam komitmen atau pernyataan untuk
tidak menonton film yang mengecilkan arti budaya dan harga diri
bangsa," tutur sutradara Marsinah ini.

Slamet mencontohkan, salah satu adegan atau tayangan film yang
tidak mendidik itu seperti pada film laga, yakni adanya ungkapan
salah satu tokoh untuk membalas dendam: "I will revenge!" Film laga
demikian menyampaikan pesan kuat mengenai kekuatan balas dendam
sampai turun-temurun. Seharusnya pada generasi muda ditanamkan sikap
mengasihi atau mengampuni.

"Ada juga film yang tokohnya mengatakan hal tidak masuk akal,
yang mempertanyakan mengapa pada usia 13 tahun masih perawan. Jelas
tayangan seperti ini tidak masuk logika, lebih baik tidak usah
ditonton," tutur dia.

Meski demikian, Slamet juga tidak setuju jika penolakan terhadap
tayangan film negatif itu melalui larangan dengan pendekatan
kekuasaan. Sebab, hal ini merupakan bentuk penjajahan.

"Saya pernah ditanya apakah film Buruan Cium Gue perlu ditarik
dari peredaran. Saya tidak setuju karena langkah seperti ini
mengekang seseorang untuk berkreasi. Cukup pakai saja bahasa dagang,
buka bahasa kekuasaan ," ujarnya.

Pendidikan Alternatif

ANTARA PERLAWANAN DAN IJAZAH
Oleh: P Bambang Wisudo

KOMPAS, Sabtu, 17-09-2005.
Tanpa bersentuhan dengan pendidikan alternatif, Haryanti (34)
mungkin tidak akan mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi atau
bekerja menjadi guru.

Sekolah telah lama ditinggalkan Harti, demikian ia biasa
dipanggil, ketika Sanggar Anak Alam berdiri di kampungnya di Lawen,
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti kebanyakan anak-anak
desa pada masa itu, Harti berhenti sekolah setamat SD. Lepas dari
sekolah ia hanya membantu ibunya mengerjakan tugas di dapur atau
membantu bekerja di kebun. Sesekali ia belajar menari di grup
ketoprak yang diasuh ayahnya.

Harti, gadis yang cepat belajar. Berbagai keterampilan cepat
dikuasainya. Ia juga rajin membaca. Bakatnya mengajar juga tumbuh
dengan pesat. Karena itu, meski hanya mengantongi ijazah SD, ia
dipercaya mengajar di taman kanak-kanak (TK) yang didirikan Sanggar
Anak Alam. Kegiatan TK itu terhenti setelah berjalan lima tahun
setelah muncul protes karena gurunya hanya lulusan SD.

Harti tak putus asa. Keinginannya mengajar muncul kembali saat ia
hijrah mengikuti suaminya ke Jombang, Jawa Timur. Ia direkrut untuk
mengajar di TK Yayasan Al Muhamadi milik budayawan Emha Ainun Najib.
Sambil mengajar, ia ikut program kelompok belajar. Berbekal ijazah
penyetaraan itu, ia kini melanjutkan kuliah program Diploma
Pendidikan Guru TK.

"Saya membutuhkan ijazah untuk menunjang kegiatan saya mengajar,"
ujarnya.

Cita-cita tak bisa dicegah
Sekolah alternatif muncul sebagai respons terhadap kealpaan
negara dalam memberikan hak-hak pendidikan kepada masyarakat bawah.
Para aktivis pendidikan alternatif dengan sadar mendesain agar tumbuh
kesadaran kritis pada anak didiknya, membantu mereka menemukan jalan
untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka. Kesadaran
kritis terhadap sistem yang memiskinkan merupakan agenda penting
dalam pendidikan alternatif.

Akan tetapi, ketika kesadaran itu tumbuh, anak-anak tersebut
tidak sekadar ingin memperoleh pekerjaan yang layak agar dapat keluar
dari kemiskinan yang mengimpit keluarganya. Mereka bahkan memiliki
keinginan dan cita-cita yang tidak kalah dengan anak-anak "normal".

Sebutlah Dede Supriyatna (21). Dede, yang dipanggil Ambon oleh
kawan-kawannya, melewatkan masa kecil dengan menjual koran di
perempatan jalan di Jakarta. Bapaknya dulu bekerja sebagai petugas
satpam, harus menghidupi delapan anak. Beruntung, Ambon bersentuhan
dengan Sanggar Akar sehingga ia bisa tetap bersekolah. Meski tak
dianjurkan, Ambon terus belajar di sekolah formal. Padahal, kegiatan
di sanggar biasanya berlangsung hingga dini hari.

Tamat SMP, Ambon melanjutkan pendidikan ke STM. Meski belajar
otomotif, ia ternyata lebih tertarik pada pelajaran musik yang
didapatkannya di sanggar daripada mengutak-atik mesin. Pelajaran
praktik di bengkel merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Ambon.
"Sering saya tiduran di kolong mesin," katanya.

Dengan bekal ijazah STM itu ia kuliah Pendidikan Seni Musik di
Universitas Negeri Jakarta. Sebelumnya ia belajar piano gratis selama
setahun di lembaga pendidikan musik yang dipimpin Dwiki Dharmawan.

Di samping kuliah, kini ia memberikan les privat gitar dan
mengajar ekstrakurikuler musik di SD Vincencius.

Sekalipun bisa memperoleh uang, ia tidak mau memberikan les bila
itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari di sanggar mulai pukul 19.00
hingga dini hari. "Setengah hidup saya, saya habiskan di sanggar.
Saya ingin ikut mengembangkan sanggar," kata Ambon. "Tanpa Sanggar
Akar, mungkin saya akan jadi orang biasa-biasa saja. Paling-paling
kerja di pabrik. Siang kerja, malam tidur," ungkapnya.

Ambon merupakan salah satu dari delapan anak Sanggar Akar yang
saat ini kuliah. Mereka pada mulanya adalah anak-anak dari kalangan
marginal yang harus bergulat dalam keterbatasan ekonomi sehingga
menutup mimpi-mimpi mereka akan masa depan. Di tengah keharusan
mencari uang, belajar di sanggar, mereka juga belajar di sekolah
formal. Pendidikan alternatif tidak hanya membuka peluang dari
belenggu kemiskinan yang mengelilingi ruang kehidupan mereka, tetapi
juga membuka diri mereka pada dunia yang jauh lebih luas.

Itu tercermin dalam keputusan mereka dalam mengambil bidang
studi. Ada yang mengambil program studi Pendidikan Seni Rupa,
Akuntansi, maupun Bahasa Inggris. Bahkan Rika (19) memilih belajar
filsafat dan mulai semester ini mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara. Mereka tidak bercita-cita menjadi pegawai negeri
atau karyawan perusahaan. Kalaupun bekerja formal, mereka ingin
menjadi guru. Namun, mereka umumnya lebih suka mengembangkan
pendidikan alternatif seperti yang mereka dapatkan selama ini.

PERLU REFORMASI RADIKAL

Pendidikan Kesetaraan Malah Mengadopsi Pendidikan Formal

KOMPAS, Jumat, 21-07-2006.
Jakarta, Kompas
Reformasi pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C ternyata tidak
sesuai yang dijanjikan karena cenderung memindahkan sistem
persekolahan dalam pendidikan nonformal.

Berbagai kalangan mendesak pemerintah melakukan reformasi
pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C secara radikal agar dapat
mengakomodasi keinginan masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan
sesuai kebutuhan komunitas. Desakan itu muncul dalam
diskusi "Pendidikan Kesetaraan: Peluang atau Ancaman bagi Sekolah
Alternatif" yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar di Jakarta, Kamis
(20/7).

Dari pengakuan sejumlah penyelenggara sekolah alternatif maupun
mereka yang pernah mengikuti ujian kesetaraan, terungkap bahwa
eligibilitas yang dijanjikan pemerintah juga tidak terwujud di
lapangan. Beberapa sekolah negeri di Jakarta menolak menerima siswa
yang berijazah kesetaraan. Bahkan, untuk mengikuti ujian kesetaraan
masyarakat harus mengeluarkanuang ratusan ribu rupiah meski telah
dinyatakan gratis.

Staf Direktorat Kesetaraan Depdiknas, Elih Sudiya Permana,
mengungkapkan pihaknya juga memperoleh sejumlah pengaduan praktik
pungutan terhadap peserta ujian kesetaraan. Praktik pungutan untuk
kelulusan ujian kesetaraan juga dibenarkan Andri Cahyadi, pendamping
anak jalanan di Jakarta

Menurut Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto, pengaturan program
kesetaraan saat ini makin blunder dengan diikutinya ketentuan-
ketentuan pendidikan formal dalam program kesetaraan. Dalam jam
belajar pun ada kecenderungan pemerintah mau mengatur lebih ketat.
Untuk Paket C (setara SMA), ditetapkan lama belajar 969 jam dalam 180
hari per tahun, dengan 30 satuan kredit semester.

Pemerintah, kata Ibe, harus melakukan reformasi radikal terhadap
program kesetaraan, sehingga program kesetaraan memiliki otonomi
dalam menyelenggarakan pendidikannya dan tidak menjadi miniatur
pendidikan formal.

"Mestinya pendidikan kesetaraan mengakomodasi beragam jenis
pendidikan komunitas yang berkembang di masyarakat. Pemerintah cukup
memfasilitasi kreativitas dalam masyarakat," tutur Ibe.

Lebih kaku
Koordinator Keluarga Peduli Pendidikan (KerLip) Yanti Sriyulianti
menyatakan keheranannya mengapa pengaturan program pendidikan
kesetaraan Paket A, B, dan C sekarang justru lebih kaku dibandingkan
pendidikan formal. Mengambil contoh SD Hikmah Teladan Cimahi,
Bandung, Yanti mengatakan bahwa sekolah formal pun bisa menetapkan
kurikulum dan menentukan buku-buku ajarnya sendiri dan bahkan bisa
mendapatkan akreditasi sangat baik.

"Pendidikan kesetaraan mestinya tidak menduplikasi pendidikan
formal, termasuk dalam sistem evaluasinya," kata Yanti.

Bagi Retno Listyarti, guru SMA Negeri 13 Jakarta Utara,
pendidikan nonformal jelas tidak sama dengan pendidikan formal.
Karena itu, indikator untuk mengukur keberhasilan anak didiknya
sangat berbeda dan tidak mungkin disamakan.

Pendidikan kesetaraan, kata Retno, tidak cocok diuji dengan model
pilihan ganda. Dengan standar kelulusannya yang rendah, tak usah
belajar pun peserta ujian kesetaraan bisa lulus. Evaluasi program
kesetaraan mestinya diukur dari aspek kecakapan hidup, bukan semata-
mata penguasaan keterampilan, apalagi penguasaan akademik.

Suryanto dari Sanggar Ciliwung mengemukakan, pemerintah mestinya
memberikan pengakuan pada pendidikan alternatif yang diselenggarakan
masyarakat. Apalagi kenyataannya tidak ada nilai kurang bagi mereka
yang mengikuti ujian kesetaraan asalkan bisa membayar.(wis)

Anak-anak Jalanan di Sanggar Akar



Mengisi Kebahagiaan dengan Keterampilan dan Pendidikan


Sinar Harapan, 23 Juli 2002

Hari Anak bisa jadi belum bergaung di telinga anak-anak umumnya, bahkan di kalangan orang tua sekali pun. Namun di sebuah perumahan yang berlahan luas, tepat di pinggiran Kali Malang, di antara rumah papan dan beberapa jenis hewan peliharaan, beberapa anak sibuk mengangkuti kayu-kayu.

Anak-anak dari komunitas Sanggar Akar ini, memang tahu bahwa Peringatan Hari Anak Nasional ini bermakna bagi mereka. Mereka akan mengadakan rangkaian kegiatan dengan tema ”Refleksi Citra Karya Pendidikan Anak-anak Merdeka”. Rangkaiannya, be-rupa bazar, pameran karya pendidikan kelompok dan organisasi masyarakat, panggung kreatif, ekspresi warna, pemutaran film anak-anak dan diskusi terbuka antartokoh pendidikan di Indonesia. Hampir keseluruhan kegiatan ini diadakan di Sanggar Akar pada akhir bulan Juli.

”Hari Anak kalau bisa bukan cuma agenda semata, tapi juga bagaimana bisa mengungkapkan tentang hak-hak untuk anak terutama pendidikan untuk anak,” ujar Susilo, pendamping di Sanggar Akar. Hari anak, menurutnya, pada momen ini juga dijadikan oleh Sanggar Akar bukan hanya kegiatan internal, tapi juga merupakan kampanye publik tentang pendidikan anak.

Di tempat itu, anak-anak jalanan memang bisa mendapatkan impian yang mereka inginkan: bersekolah. Selain hampir tigaperempat dari anak-anak Sanggar Akar yang menjalani sekolah formal, ada juga yang benar-benar menggantungkan pengetahuannya dari menimba di sekolah ini.

Sebuah sekolah, bagi mereka, memang bisa nyata untuk mendapatkan ilmu. Tak seperti ”sekolah biasa”, walau secara fisik sekolah tempat mereka belajar dari kayu namun dari materi yang diajarkan, sekolah buat anak-anak jalanan di Sanggar Akar justru lebih istimewa. Seperti yang diakui oleh Dede, seorang lelaki yang sudah sepuluh tahun mengenyam pendidikan di sanggar ini. Menurutnya, bila sekolah formal, sangat menekankan teori, di sini lebih menekankan pada praktik. Seperti pengajaran bahasa Inggris secara lisan, pendalaman sejarah lokal, jelas mata pelajaran itu tak bisa didapat dalam pelajaran formal yang lebih kaku secara kurikulum. Dengan luas kelas sekitar tiga kali empat meter persegi, anak-anak telah mendapatkan materi pendidikan secara berkala dan intensif.

Menurut pengamatan SH, anak-anak di sana memang terkesan lugas dan ringan tangan. Secara spontan, seorang remaja tampak menggergaji papan yang dipotong kecil-kecil. ”Untuk tempat penghapus di kelas, Mas,” ujarnya saat ditanya maksudnya menggergaji. Sementara beberapa yang lainnya mempersiapkan minuman dan makanan buat para tetamu.

Hidup dan Belajar
Areal Sanggar Akar yang berada di pinggiran Kali Malang itu, menurut Susilo memang merupakan tempat paling strategis dan ideal untuk pemukiman para anak jalanan. Selain areal yang luas, masyarakatnya lebih terbuka ketimbang pemukiman mereka sebelumnya – banyak suka duka mereka dapatkan sebelum akhirnya tinggal di tempat ini. Tanah di tempat itu juga cukup subur untuk ditanami. Di tempat itu, mereka juga memelihara ikan, burung dan beberapa ekor monyet. Perawatan tentu saja dilakukan bersama, anak-anak itu tampak menjalani saja semua pekerjaan dengan ringan dan riang.
Kegiatan mereka yang lain adalah event-event kesenian yang sudah sejak lama mereka lakukan. Selain pementasan Nyanyian Kaleng Rombeng yang dilakukan di Taman Ismail Marzuki bulan lalu, penggarapan album kaset juga pernah mereka lakukan. Secara terbuka, Sanggar Akar juga kerap mengadakan acara kesenian secara spontan dan bebas pada minggu ketiga.

Anak-anak juga diajarkan untuk mengelola koperasi. Selain memelihara hewan dan tanaman, anak-anak juga diajarkan untuk membuat kue, berorganisasi atau bahkan mengelola sebuah kegiatan yang sedang mereka lakukan. Untuk sebuah kegiatan yang dilakukan, setiap anak bisa saja menjadi humas atau sekretaris, semua diatur menurut kesepakatan antara anak-anak dan para pembimbing. Setelah sepuluh tahun Sanggar Akar berjalan, sesungguhnya mulai terjadi regenerasi di kalangan internal. Bila pada tahun-tahun yang lalu, sanggar tersebut memerlukan sukarelawan dari luar, saat ini anak-anak anggota yang telah dewasa dipercaya sebagai kakak pembimbing bagi adik-adiknya.

Agenda
Di awal bulan Agustus, anak-anak jalanan yang kini tergabung dalam Komunitas Sanggar Akar ini juga punya agenda akan mengadakan Kampore (singkatan dari Kampoeng Kere, sejenis ajang Jambore, red), sebuah kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh sanggar ini. Agak berbeda dengan pelaksanaan Kampore tahun sebelumnya, yang mengundang semua jaringan LSM, kesenian dan pendidikan anak dari setiap provinsi, kali ini pengadaan Kampore lebih ditujukan pada komunitas Sanggar Akar sendiri. Mulai dari membangun team work,membangun sikap solider dan toleran di kalangan mereka. ”Ini yang agak berbeda ketimbang tahun sebelumnya,”ujar Susilo, yang selama ini dikenal sebagai pendamping di Sanggar Akar.

Terhadap masyarakat luar, selain banyak menerima bantuan moril dan materil, para anak yang dididik di Sanggar Akar ini juga akan mendapat kesempatan dipertemukan dengan anak-anak dari beberapa sekolah, di bawah tema ”Kau dan Aku Berkarya Sama-sama”. Selain berdialog dan saling mengajarkan, para anak-anak Sanggar Akar juga akan mensosialisasikan kemampuan seni dan keterampilan mereka. Untuk maksud ini, menurut Susilo, masih sedang diusahakan dengan beberapa sekolah, antara lain SMP Al Azhar, SMP Yakobus dan SMU Negeri 4 Jakarta.

Menurut Susilo, mereka juga akan mengadakan pameran, seperti pameran pendidikan, pertunjukan talkshow lewat radio. Anak-anak juga diberikan kesempatan untuk berdialog dengan masyarakat luas. Dengan kegiatan-kegiatan yang positif, berupa agenda internal dan eksternal, anak-anak ini memang terlihat cerdas dan responsif saat menerima tetamu yang datang ke areal mereka. Pada saat pertemuan dengan wartawan, mereka terlihat cepat dan kritis dalam merespons setiap pertanyaan. Tak hanya berupa keterampilan, mereka bahkan telah menjadi penulis walau masih di kalangan sanggar. Mereka juga bikin majalah dinding, menyablon atau me-lay-out majalah. Pengetahuan, keterampilan dan pendidikan, bukan monopoli orang-orang kalangan atas, semua manusia seharusnya berhak menikmatinya.

(SH/sihar ramses simatupang)