Tampilkan postingan dengan label pendidikan alternatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan alternatif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Desember 2008

Worskhop Sastra di Sanggar Akar

Sudah lama saya ingin mengisi kuliah di sanggar akar dengan kegiatan workshop Sastra. Ide ini sempat saya lontarkan pada Ibe Karyanto yang lebih dikenal di kalangan anak-anak akar dengan panggilan “Uwak” lebih dari setahun lalu. Akan tetapi rencana ini cukup lama tenggelam meski dan baru terlaksana menjelang ulang tahun akar ke-14. Saya bukanlah orang yang tahu sastra. Saya hanya merasa membaca cukup banyak karya sastra. Dari situlah saya belajar banyak. Ada begitu banyak novel dan penulis yang saya sukai. Beberapa novel juga memberi inspirasi dalam hidup saya, menemani saya pada saat harus berjuang dalam kesepian.

Sebagai seorang jurnalis saya belajar banyak dari sastra. Di rumah saya membiasakan anak saya, Oxi, membaca sejak kecil. Sejak kelas 5 SD, ia saya perkenalkan dengan karya sastra. Barangkali ia belajar lebih banyak dari kegiatan membaca di rumah daripada yang ia peroleh dari bangku sekolah.

Saya menggunakan pendekatan literasi kritis dalam workshop ini. Literasi kritis hanya dibicarakan sedikit orang di Indonesia. Padahal pendekatan ini cukup populer, termasuk di negeri-negeri kapitalis seperti Amerika Serikat dan Australia. Literasi kritis membantu kita untuk tidak sekedar membaca teks tetapi juga menelaah secara kritis bagaimana teks itu dikonstruksi dalam relasinya dengan kekuasaan.

Dalam workshop ini saya menggunakan novel “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini saya pilih karena ini merupakan salah satu novel Indonesia yang bagus, ditulis oleh sastrawan yang hebat, dan bukunya relatif tipis. Pilihan ini saya ternyata cocok dengan anak-anak yang mengikuti workshop ini. Sekitar 15 anak ikut dalam workshop ini. Ada yang masih berumur 13 tahun, ada yang sudah lulus SMA.

Workshop ini terbagi dalam tiga sesi. Sesi terakhir akan diisi dengan pembuatan blog. Pada sessi pertama, saya awali dengan berbagi cerita mengenai novel yang paling menarik yang pernah dibaca. Saya senang sekali bahwa hampir seluruh anak sering membaca buku. Mereka bisa bercerita tentang novel-novel yang menurut mereka paling menarik. Ada Harry Potter, Laskar Pelangi, bahkan ada beberapa anak yang sudah membaca sejumlah buku tetra lurgi Pramoedya Ananta Toer. Ini berbeda sekali dengan pengalaman saya mengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta maupun dalam diskusi dengan komunitas jurnalistik di sebuah SMA Negeri paling top yang ada di Jakarta. Mereka jarang membaca buku. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenal Pramoedya Ananta Toer.

Setelah berbagi pengalaman, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok. Di tiap kelompok anak-anak bergantian membaca keras-keras bab pertama dari novel Banten Selatan. Tujuannya utamanya adalah supaya anak membiasakan membaca sampai selesai bab pertama. Biasanya, bab pertama adalah bagian yang tersulit bagi mereka yang belum terbiasa membaca buku. Karena itu dalam pembelajaran sastra, ada baiknya bab pertama dibahas bersama-sama. Setelah anak-anak selesai, kami mendiskusikan bab pertama. Mereka bilang bahwa buku ini mudah dibaca, bahasanya mudah, dan hidup. Kami juga mendiskusikan tentang kharakter utama dalam buku ini. Sessi ini diakhiri dengan tugas. Setiap anak diminta menulis berita, tinjauan buku, cerpen, atau naskah drama dari bagian buku ini.

Dalam pertemuan berikut, anak-anak membawa karya yang ditulisnya. Ada seorang anak yang menulis naskah drama. Kami mulai sessi kedua dengan mendiskusikan isi buku dan membahas bersama apa yang ditulis anak. Di sini anak diajak mengungkapkan pendapat mereka tentang tokoh-tokoh utama maupun isi cerita. Mereka mengidentifikasi Musa sebagai juragan yang jahat, berkong-kalikong dengan gerombolan dan pak lurah untuk menindas petani. Mereka bersimpati kepada Ranta dan isterinya Ireng, petani miskin yang tertindas. Akan tetapi mereka belajar bahwa mereka tidak menyerah. Petani-petani itu berani melawan penindasan, tidak dengan amok kekerasan, tetapi dengan strategi yang baik dan akhirnya menang.

Ada tiga aktivitas utama dalam kegiatan tersebut. Membaca, berbicara di depan umum, dan menulis. Inilah tiga aktivitas utama dalam komunikasi yang menjadi kelemahan anak-anak sekolah.

Sessi kedua diisi pula dengan belajar menulis deskripsi dan narasi. Anak-anak saya minta menuju ruangan di kompleks sanggar yang paling berkesan bagi mereka. Mereka saya minta mengamati dan merekam dengan pancaindra mereka. Ketika mereka berkumpul kembali, saya minta mereka bernapas seperti lebah dan kemudian terbang sebagai seekor lebah. Dengan suara mendengung mereka terbang di atas Kali Malang, melihat sanggar dari atas, kemudian masuk ke dalam kompleks sanggar Akar, dan mencari ruangan yang paling mereka sukai. Selesai mengamati mereka terbang lagi ke luar sanggar, masuk lagi, dan kembali bersatu dengan tubuh mereka. Cara ini akan membantu kita dalam mendeskripsikan dan menceritakan sesuatu. Deskripsi dan narasi merupakan kelemahan utama penulis di Indonesia, baik itu jurnalis maupun novelis.

Ini merupakan beberapa contoh karya yang ditulis anak-anak dari “reportase” Pramoedya yang ditulis dalam buku Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Menurut saya, tulisan-tulisan ini cukup bagus. Bila anak-anak ini rajin membaca, terus-menerus menulis, mereka pasti akan menjadi penulis-penulis yang tangguh. (P Bambang Wisudo)

Cerpen
MAU HIDUP ENAK, MAKANYA BERJUANG ...

Kabut hitam telah menyihir gumpalan-gumpalan awan putih bersih menjadi beberapa kumpulan awan yang berwarna hitam kelabu. Dinginnya udara pegunungan semakin menusuk-nusuk tulang. Dari jauh nampak sebuah pegunungan yang dipadati oleh pepohonan yang tinggi, tetapi tidak terlihat jelas karena selimut tebal kabut hitam. Sesekali angin datang untuk menyampaikan suara deburan ombak yang berasal dari laut Hindia.

Di balik selimut tebal kabut nampak samar-samar sebuah gubuk reot. Gubuk tersebut bertiangkan bambu yang sudah lapuk. Atapnya daun rumbia. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sana-sini sudah mulai berlubang dimakan rayap. Lantai tempat mereka berpijak adalah sebuah lantai alami yang tak akan didapatkan pada zaman sekarang yaitu lantai tanah. Gubuk reot itu hanya dihuni oleh sepasang suami-istri, yaitu Ranta dan Ireng.

Nampak dari kegelapan dua orang pemikul singkong hendak menuju truk-truk dari kota memunggah singkong. Kedua pemikul singkong itu bernama Aden dan Melki. Mereka berdua sama-sama menggunakan celana hitam selutut dan bertopi capio. Sesampainya di pondok milik Ranta mereka berdua berhenti untuk istirahat dan minum sedikit air sebagai penghilang dahaga.

Aden : Rupanya mau hujan lagi ya ?
Melki : Iya, seandainya saja kita punya gerobak!
Aden : GEROBAK!!! Yang benar saja kau ini kalau bicara.
Melki : Dulu jalan ini kita yang buat, tapi apa sekarang, masa mau lewat jalan buatan sendiri saja mesti bayarpajak pada Onderneming, padahal ini kan jalan kita sendiri.
Aden : udah jangan kebanyakan omong, nanti keburu ujan lho,

Mereka berdua segera menghilang dari pondok Ranta. Tak berapa lama Ranta sampai dirumah turunlah hujan. Ranta yang sedang duduk di bale segera menurunkan kakinya ketika mendengar suara seorang perempuan yang sudah tak asing lagi baginya. Ireng, itulah istri Ranta,

Ireng : Sudah pulang pak? Tak ada hasil!
Ranta : Sapinya sudah dijualkan kepada orang, bagaimana dipasar tadi?
Ireng : Pasar kacau, diobrak abrik DI.
Ranta : Dia lagi.........

DI atau Darul islam adalah sekelompok manusia yang tak berkeprimanusian. Merekalah yang selalu meresahkan warga desa Banten Selatan. Pada saat mereka sedang asik berbincang-bincang tentang DI, datanglah juragan Musa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia datang untuk menyuruh Ranta mencuri bibit karet milik ondermining, dengan upah uang seringgit. Jam sebelas malam Ranta pergi untuk melancarkan pekerjaanya. Setelah beberapa kali bolak-balik Ranta mengantar curian bibit karet untuk juragan Musa. Pada saat Ranta ingin meminta sisa upah atas pekerjaan yang dilakukannya itu, ia malah di pukuli dengan rotan dan mereka juga merampas pikulan dan golok milik Ranta. Pada saat Ranta kembali kerumahnya , Ranta di sambut oleh Ireng dan kedua pemikul singkong. Setelah keadaan Ranta sedikit membaik, mereka berbincang-bincang tentang kekejian juragan Musa. Beberapa hari kemudian setelah perbincangan itu, kedua pemikul singkong itu membawa teman 1 lagi yang bernama Isa untuk berunding bagaimana caranya untuk menghancurkan kekejian juragan Musa.

Tak begitu lama ketiga penjual singkong itu pergi datanglah juragan Musa dengan aktentas dan tongkat yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Seperti biasa ia datang untuk meyuruh Ranta mencuri bibit karet lagi. Awalnya tidak ada jawaban. Akhirnya Ranta muncul dengan geramnya menghadapi juragan Musa.
Perlawanan dari Ranta membuat juragan Musa lari tunggang kanggang sampai aktentas dan tongkatnya jatuh. Ia tersungkur diatas tanah. Ketiga pemikul singkong itu kembali dan mulai berdiskusi mau diapakan aktentas dan tongkat itu. Lama mereka berunding dan menghasilkan keputusan untuk memberikan aktentas tersebut sebagai barang bukti penangkapan juragan Musa. Ranta, Ireng, dan ketiga penmikul singkong, mereka pergi bersama-sama menghadap komandan.

Juragan Musa menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Ranta dan mengambil aktentas dan tongkat yang tertinggal. Bila perlu bakar saja rumahnya. Tapi tindakan juragan musa terlambat karena Ranta dan yang lain sudah sampai di markas komandan. Komandan pun juga sudah menyusun rencana penangkapan Juragan Musa. (Watik)

Diolah dari:
Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Pramoedya Ananta Toer

Berita

Kerusuhan ‘DI’ berakhir, Warga Arep Tangi pun bangkit

Kerusuhan yang terjadi di wilayah Banten Selatan kini sudah menemukan titik cerah. Upaya penangkapan dalang dari kerusuhan dan penindasan terhadap warga Kelurahan Arep Tangi akhirnya dapat berjalan dengan baik. Komandan dan gerombolan prajurit meringkus Juragan Musa (40 thn) pada Rabu (15/10) malam di kediamannya di desa Arep tangi, setelah terbukti terlibat sebagai dalang kerusuhan dengan bendera Darul Islam (DI) yang selama ini menikam rakyat.

Penangkapan terhadap Juragan Musa itu kemudian disusul dengan penangkapan anggota-anggota pemberontak yang tergabung dalam sindikat pemberontak Darul Islam. Penangkapan ini menjadi akhir dari pencarian aparat keamanan selama kurang lebih 8 tahun yang dahulu nyaris tanpa hasil. Terbongkarnya sindikat ini didasarkan dari informasi seorang warga setempat yang juga menjadi korban.

“Kami memang kesulitan menangkap pelaku kerusuhan ini karena tidak ada bukti yang jelas, tetapi akhirnya kami mendapat informasi dari seorang korban beserta bukti berkas-berkas terkait kerusuhan DI yang sudah lama melanda kelurahan ini. Bukti-bukti ini menjadi acuan kami untuk mengadakan penyelidikan dan akhirnya menangkap oknum kejahatan tersebut” ungkap Komandan.

Tidak berhenti sampai disitu, ternyata aparat pemerintahan desa seperti Lurahpun juga terbukti terlibat dalam sindikat kerusuhan DI. Karena keterlibatan itu, maka Komandan mengambil tindakan untuk menempatkan Lurah sementara dari warga setempat.

Akibat perbuatan mereka itu, tidak hanya bangunan desa seperti pasar, kebun, rumah warga yang porak-poranda setelah di obrak-abrik oleh sindikat DI. Mereka juga melakukan tindakan kriminal yang merugikan masyarakat, seperti aksi-aksi kekerasan. Warga dipaksa hidup dalam ketakutan, terselubung dalam kemiskinan dan tidak berdaya.

Warga desa Arep Tangi saat ini terlihat mulai bangkit. Mereka mulai bergotog-royong memperbaiki fasilitas-fasilitas desa seperti jalan, pasar , serta membuka lagi saluran air untuk kebutuhan irigasi sawah dan kebun yang selama ini dikuasai oleh juragan-juragan tertentu saja. Mereka bahu-membahu membuat waduk untuk pemeliharaan ikan dan membuka perladangan untuk menanam duren dan kelapa untuk kebutuhan bersama. Warga desa yang sebagian besar hanya mengenal pacul dan sawah inipun juga telah tergerak untuk memulai mengenal baca tulis untuk kebutuhan masa depan.

Saat diwawancarai mengenai pembangunan desa, Ranta (39 thn) selaku Lurah sementara menjawab,
“ Kami memang sudah mulai bertekad untuk memperjuangkan kehidupan yang sejahtera, melawan kemiskinan dan keterpurukan kami selama ini melalui gotong royong membangun desa, karena tanpa sumbangsih kita bersama, sekalipun nasib akan memberi kita umur tiga kali lipat dari semestinya keadaan akan tetap beku, karena segalanya mesti diperjuangkan”.
Itulah suara yang mewakili warga desa Arep Tangi sebagai wujud rasa syukur karena terlepas dari cengkeraman pemberontak. (Saneri)

Naskah Drama
ADEGAN 1
Suatu sore yang amat mendung. Sebuah gubug yang terletak di kaki gunung di desa Arep tangi tampak gelap dan sunyi. Hanya terdengar suara gemericik air kali dari kaki gunung dan suara burung. Tinggi gubuk yang dihuni ranta dan istrinya ini tidak lebih dari dua meter. Letaknya membelakangi sebuah bukit yang belum pernah digarap manusia. Pohon-pohon raksasa tumbuh dengan liarnya disertai semak-semak padat dibawahnya.
Ranta : (sambil mengetok pintu)
Reng, Ireng! Reng!!!
(Tidak terdengar jawaban, ranta akhirnya duduk di bale depan gubuknya. Dari kejauhan irengpun datang menghampiri ranta)
Ireng : Sudah pulang pak?
Ranta : Iya ( sambil terlihat mengeluh)
Ireng : Kenapa? Tidak ada hasil?
Ranta : Samasekali ga ada bu. O ya, gimana tadi dipasar?
Ireng : (tampak menahan lelah) Pasar kacau balau pak, diobrak-abrik DI.
Ranta :Ya ampun, gimana kita bisa pergi ke kota, nengok si Agil di rumah sakit, kalau kita tak punya apa-apa begini bu?
Ireng : (sambil mulai berkaca-kaca) Aku bingung pak. Aku ga mau kehilangan anak untuk ketiga kalinya. Tapi kalo kaya gini terus, si agil bisa ikut ga ada pak.
Ranta :Ya udah, Bu. nanti kita pikirkan lagi. Kita masuk dulu,ada yang ingin kubicarakan.
Ireng : (Ireng membukakan pintu dan masuk bersama Ranta)

(Di dalam rumah, sambil duduk di ambin dibawah cahaya damar atau lampu minyak, ranta menceritakan sesuatu kepada istrinya )

Ranta : Begini, Bu. Tadi aku ketemu Juragan Musa. Malam ini aku akan berangkat mengambil biji karet lagi sesuai dengan perintah juragan. Dia hanya memberiku ini. (sambil mengulurkan selembar uang)
Ireng : Seringgit?? Kalo aku laki-laki, sudah kutekuk batang lehernya. Kau yang selama ini baik dipaksa menjadi pencuri terus-menerus. Aku tak rela pak.
Ranta : (Sambil memegang tangan Ireng) Dengar Reng, aku memang sering nyolong tapi bukan karena kemauanku aku jadi maling. Ada waktunya, kita akan hidup baik dan senang. Sekarang in mereka yag tentuka hidup kita. Mereka!!
Ireng : Mereka siapa? Mereka siapa pak? (sambil memelas)
Ranta : Mereka yang datang pada kita hanya menyuruh kita menjadi maling. Mereka yang hidup memisah dari kita. Mereka, yang di dalam otanya cuma ada pikiran mau memangsa sesamanya. Mereka!!! (Sambil mengangkat tangan dengan telunjuk yang tak jelas arahnya)
Ireng : (Sambil menangis rintih) Cukup pak, Cukup..kumohon jangan pergi.
Ranta : ( Sambil berjalan menuju pintu) Doakan aku Reng, aku harus pergi sekarang.

(Ranta pun berjalan keluar dan menutup pintu, sementara Ireng tetap terduduk di atas ambin tak berdaya)

Tinjauan Buku

Sekali peristiwa di Banten Selatan
Pramoedya Ananta Toer

Sejak pertama saya sebenarnya berminat membaca buku ini. Tapi kurang mengerti dengan bahasanya. Lagian saya juga memang jarang baca buku-buku berat selain komik tentang kartun atau cerita lucu. Saya juga tidak pernah menulis resensi atau sejenisnya karena saya hanya belajar menulis di kelas bahasa Indonesia di sanggar. Kebetulan saya juga tidak sekolah formal.

Bbuku yang saya baca ini menceritakan tentang ada sebuah keluarga dengan kepala keluarga bernama Ranta dan istrinya Ireng. Dia keluarga yang miskin. Karena kemiskinan tersebut, Ranta dipaksa menjadi maling suruhan Juragan Musa.

Saat melakukan perintah Juragan Musa untuk mencuri bibit karet, bukannya mendapat upah, Ranta justru babak belur karena tertangkap oleh penjaga ladang karet juragan Musa. Juragan Musa sengaja menyuruh ranta menjadi pencuri supaya dia dapat mengeluarkan Ranta tanpa membayar gaji selama bekerja di ladang karetnya.

Kemudia di suatu hari setelah kejadian itu, juragan musa kembali mendatangi Ranta. Rantapun menunjukan rasa marah hingga membuat juragan musa pergi ketakutan. Saat dia lari, tas dan tongkatnya tertinggal didepan rumah Ranta. Dalam tas itu ada barang bukti bahwa juragan Musa selama ini bekerja sama dengan rombongan DI atau darul islam yang merusak kampung. Kemudian ranta menyerahkan tas tersebut kepada Komandan. Akhirnya juragan musa tertangkap dari bukti-bukti dalam tas milik jurangan.

Karena kejadian itu, Ranta diangkat jadi lurah. Kemudian warga bekerjasama membangun desa dan belajar baca tulis. (Sania)

Tinjauan Buku

Judul : Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Pengarang : Pramoedia Ananata Toer
Penerbit : Lentera Dipantara

Saya memang tidak membaca keseluruhan. Saya hanya membaca penuh pada bab pertama dan terakhir. Bab-bab yang lain dibaca dengan loncat-loncat. Dengan itu saya berusaha menyimpulan cerita dalam buku ini.

Buku ini bercerita tentang peristiwa di sebuah kampung yang kaya akan sumber daya alam tapi masyarakatnya miskin. Mereka kesulitan untuk bekerja karena banyaknya kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh pemberontakan Darul Islan (DI). Kampung yang sebagian besar penduduknya hidup dari lahan pertanian ini selalu diselimuti rasa ketakutan dan tidak berdaya.

Salah seorang warga yang juga sering menjadi korban ketidakberdayaan ini ialah Ranta. Dia sering dipaksa menjadi maling bibit karet oleh juragan Musa yang sebenarnya terlibat juga dalam persekutuan DI.

Akibat kerusuhan itu, rumah-rumah penduduk dan pasar menjadi rusak. Hingga akhirnya kerusuhan ini berakhir karena tertangkapnya Juragan Musa sebagai otak persekutuan DI dengan bukti yang ditemukan Ranta pada tas Juragan musa yang tertinggal di depan rumahnya. Setelah itu, rantapun diangkat menjadi Lurah.

Nah, gimana prosesnya? Terus gimana nasib desa selanjutnya, baca aja buku ini. (Eta)

MENGENAL PENDIDIKAN ANAK PINGGIRAN

Dunia Anak - Liputan Khusus

KOMPAS, Selasa, 24-07-2001.

KEPERCAYAAN Heru Yuli Pambudi (17) pada sistem di sekolah formal
sudah lama pupus. "Sistem itu membuat kotak-kotak dan jenjang
kemampuan, dan memenjarakan kita ke dalam cara berpikir yang sudah
ditentukan." Heru melanjutkan, "Pendidikan formal yang pernah saya
ikuti tidak pernah memenuhi apa yang diingini seorang anak. Guru di
kelas lebih banyak menjejalkan apa yang sudah dipaketkan daripada
mengajak kita bicara dan memahami bagaimana situasi murid."

Lebih jauh lagi, "Kita tidak bisa mendebat pendapat guru, karena
beradu argumentasi selalu diartikan melawan. Di kelas, guru selalu
benar," ujar Heru. Tak cuma itu. "Dunia pendidikan formal di kelas
tidak mengajar anak memahami satu sama lain, sehingga kita menjadi
asing satu sama lain. Tidak ada model solidaritas di sini, dan sulit
untuk membentuk solidaritas karena sudah ada kotak-kotak itu," tegas
anak pertama dari empat bersaudara itu.

Heru menyebut bentuk-bentuk diskriminasi sudah tampak dari
pengistilahan yang dibuat entah oleh siapa, seperti "sekolah
unggulan". Menurut Heru, "Kalau ada sekolah unggulan, pasti ada
sekolah buangan. Sekolah unggulan juga pasti mengacu pada semua yang
serba unggul, ya kecerdasan, ya ekonomi orangtua. Lalu yang buangan
ya sekolah yang isinya anak-anak seperti kami ini, anak-anak miskin
yang bayar sekolah saja susah."

Apa yang dikemukakan Heru tidak bisa dilihat sebagai sikap
antipati terhadap dunia pendidikan formal. Heru adalah satu dari
jutaan anak yang terlempar dari dunia pendidikan formal karena
situasi sosial ekonomi yang dihadapi orangtuanya, yang kemudian
mengimbas pada perkembangan pemikiran dan sikapnya.

Jalanan yang menjadi tempatnya bertumbuh selama dua tahun
mengajarinya hal lain yang digelutinya selama di ruang kelas di
bangku sekolah formal. Upaya mempertahankan hidup tidak terjawab oleh
apa yang ia dapatkan di ruang kelas. Di antara derum mobil,
kebisingan, caci maki, rasa curiga, dan kebencian, ia menyimpan
segudang pertanyaan kritis mengenai apa dan siapa dirinya; mengapa
dan bagaimana ia sampai pada kehidupan seperti itu.

***
"SAYA beruntung menemukan komunitas teman senasib di sanggar,"
lanjutnya. Saat ini Heru adalah Koordinator Sanggar Akar, suatu media
di tingat komunitas basis.

Sanggar Akar yang berdiri enam tahun lalu sebagai bagian dari
basis komunitas Biro Advokasi Anak Institut Sosial Jakarta, saat ini
berdiri sendiri dan mengembangkan model pendidikan alternatif untuk
komunitas anak pinggiran; suatu model yang samasekali lain dari apa
yang selama ini mendominasi wacana berpikir mengenai pendidikan.

Istilah "anak pinggiran" belum banyak dipahami karena orang
terbiasa mendengar atau menggunakan istilah atau kategori yang
bersifat fungsional seperti "anak jalanan", "pekerja anak" atau "anak
telantar" untuk menyebut kelompok anak-anak yang hidup dalam kondisi
lingkungan yang kurang wajar.

Padahal, seperti dikemukakan penanggung jawab Sanggar Akar, Ibe
Karyanto, substansi atau akar persoalan tidak tercakup dalam kategori
yang bersifat fungsional itu. Kata pinggiran, menunjuk pada kondisi
akibat dari pola kebijakan pemerintah dan tatanan masyarakat yang
tidak adil itu. Pinggiran juga mengacu pada proses pembangunan yang
menjauhkan anak dari hak-hak dasarnya yang mencakup hak kelangsungan
hidup, hak untuk berkembang, hak untuk memperoleh perlindungan dan
hak untuk berpartisipasi.

Dengan demikian, dalam istilah "anak pinggiran" dikandung maksud
yang lebih substantif menyangkut ketidakadilan yang dilakukan
pemerintah dan masyarakat umum, yakni ketidakadilan struktural,
kultural dan tindakan represi fisik.

Selama bertahun-tahun dominasi dibangun dari kerangka berpikir
penguasa yang cenderung mengambil jarak dengan persoalan dalam
masyarakat. Ibe menegaskan, kekuasaan pula yang menanamkan pemahaman
bahwa kondisi buruk yang ditanggung anak-anak pinggiran merupakan
keniscayaan, yang tidak terkait dengan kebijakan di tingkat makro
yang diputuskan segelintir elite politik, teknokrat, dan birokrat.

"Ini diperlihatkan dengan jelas oleh Pak X," Ibe menyebut seorang
pejabat kantor Menko Kesra (pada masa Orde Baru), "Dalam Konferensi
Regional Pertama tentang Anak Jalanan di Filipina tahun 1989 Pak X
mengatakan bahwa perilaku dan keberadaan anak-anak jalanan merupakan
penyimpangan sosial atau social disfunction."

Penggunaan kata "penyimpangan" itu secara jelas menunjukkan sikap
diskriminatif. "Pemerintah tidak melihat bagaimana dan mengapa
anak-anak sampai berada di jalanan, tetapi dari posisi norma tata
sosial ideal yang diberlakukan dan diterima oleh keluarga yang mapan
dan berkecukupan," sambung Ibe.

Cara pandang seperti ini tidak berubah, sekali pun Indonesia
telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990. Bahkan RUU
Perlindungan Anak pun masih menggunakan istilah "anak bermasalah".

***
HERU, menurut Ibe, bergabung dengan komunitas Sanggar Akar
sekitar tiga tahun yang lalu, saat masih bekerja di jalanan. "Ia
sebenarnya sempat melanjutkan ke STM, dua kali pindah, tetapi
semuanya tidak bertahan lama," papar Ibe. "Ia memutuskan sendiri
untuk tidak sekolah karena merasa ada sesuatu yang lebih bisa ia
kembangkan di luar sekolah."

"Saya bilang kalau maunya begitu, ia harus tahu bahwa ia tidak
akan bisa bekerja di perusahaan atau di kantor karena lembaga-lembaga
itu membutuhkan ijazah dari sekolah formal," lanjut Ibe, "Saya juga
bilang, 'kamu harus bisa menjadi orang yang lebih dari para pencari
kerja itu. Kamu harus mampu menciptakan peluang bagi orang lain agar
mereka bisa bekerja'," Ibe menirukan pertimbangan yang ia ajukan
kepada Heru agar anak itu tahu tujuannya kemudian. Heru adalah
contoh paling tepat dari apa yang disinyalir oleh Laporan Unicef
(Dana PBB untuk Anak) tahun 1995. Dalam laporan itu disebutkan, tiga
faktor utama yang mendorong anak-anak meninggalkan bangku sekolah dan
bekerja pada usia yang dini adalah kemiskinan, pendidikan yang tidak
relevan, dan tradisi.

Kemiskinan dalam arti luas-tidak hanya ekonomi-mendorong anak
meninggalkan rumah dan memasuki lingkungan kegiatan yang
membahayakan. Jumlah anak yang dieksploitasi terus meningkat 15 tahun
terakhir seiring perkembangan kebijakan ekonomi dan moneter
internasional akibat utang, korupsi, dan krisis moneter di banyak
negara berkembang.

Program Penyesuaian Struktural (SAP), persyaratan "bantuan" Dana
Moneter Internasional (IMF), yang katanya akan "menyembuhkan" ekonomi
yang sakit di negara berkembang berarti pemotongan alokasi belanja
untuk kesejahteraan sosial yang dibutuhkan kaum miskin.

Pemotongan dana untuk kesejahteraan sosial ini juga merupakan
pukulan yang berat terhadap pendidikan, yang diyakini merupakan
alternatif mengatasi persoalan anak-anak yang bekerja di wilayah yang
membahayakan perkembangan fisik dan jiwanya. Di negara-negara yang
mengalami kesulitan ekonomi 10 tahun terakhir, dana pendidikan,
khususnya pendidikan dasar, menurun drastis, sampai 30 persen.

Sementara itu, sistem pendidikan pada banyak negara berkembang
terlalu kaku dan tidak memberikan inspirasi. Kurikulumnya tidak
relevan dan jauh dari realitas sosial kehidupan anak.

Selain itu, tradisi dan pola sosial yang berurat akar juga
memainkan peranan dalam mendorong anak masuk ke lingkungan kerja yang
membahayakan. Lingkungan yang keras telanjur diyakini sebagai bagian
dari kehidupan kaum miskin, kelas rendah dan minoritas.
***

"PERCAYA enggak kalau 'niat' ini boleh dikatakan karya dari
Sandy yang hanya lulus SD," ujar Heru memperlihatkan tabloid 12
halaman yang rubrik-rubriknya dinamai dengan kreatif.

"Sandy sendiri yang mengumpulkan bahan, ikut mengedit, membuat
lay out dan membawanya ke percetakan. Saya yakin anak lulus SMP pun
belum tentu bisa melakukan ini," lanjut Heru, "Model pendidikan di
sini membuat anak bisa mengeksplorasi apa yang ia miliki."

Beberapa dari 20-an anak yang saat ini aktif di Sanggar Akar,
sampai empat tahun lalu masih bisa dijumpai di jalanan. Gendut, yang
sekarang bertanggung jawab pada salah satu bidang kerja di sanggar,
sejak usia sembilan tahun berada di jalanan. Ia berasal dari Tegal.
Lalu ada Joni dari Medan, Prei dari Semarang, Openg dari Palembang,
dan Pian dari Jakarta. Selama bertahun-tahun anak-anak itu
menggelandang dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu kota ke
kota lain, mereguk kebebasan sekaligus bahaya kehidupan jalanan.
Usia mereka sebaya. Selain anak-anak ini, juga banyak anak-anak yang
berada di jalanan, tetapi masih pulang ke rumah orangtuanya.

Latar belakang yang berlainan yang mempengaruhi gaya hidup ini
membuat komunitas anak pinggiran itu, meski pun berada pada satu
strata yang sama, namun Ibe dan kawan-kawannya mengamati, dalam skala
kecil selalu terjadi kompetisi; yang satu merasa lebih dibandingkan
yang lainnya. Perseteruan ini membuat jebakan pada arus pemikiran
yang mengkotak-kotakkan dan merupakan gejala permukaan dari model
sistem fragmentasi masyarakat.

"Kami kemudian berupaya menyatukan kelompok anak-anak itu," jelas
Ibe. "Tujuannya bukan untuk menyeragamkan mereka, tetapi mengajak
anak-anak secara bersama-sama belajar untuk mengerti substansi
persoalan yang dihadapi, yakni proses dehumanisasi."

Visi gerakan pendidikan ini berangkat dari refleksi atas
pengalaman aktual keterlibatan, compassion pada ketidakadilan yang
dihadapi, sekaligus harapan yang ingin dibangun sebagai dimensi masa
depan. "Kenyataan penderitaan anak-anak ini mengundang compassion,
keterlibatan mereka memberikan pengalaman, pengalaman melahirkan
kesadaran baru yang membangkitkan harapan pembebasan, cita-cita dunia
yang lebih baik," papar Ibe.

Mengutip Paulo Freire, tokoh pendidik dari Brasil, Ibe menyakini
bahwa proses lahirnya kesadaran akan pembebasan hanya mungkin
terwujud kalau refleksi sungguh-sungguh diposisikan sejajar dengan
seluruh aktivitas dalam gerakan keterlibatan.

Dengan demikian, misi keterlibatan merupakan sesuatu yang
menunjukkan tindakan atau proses. "Dalam konteks ini, Sanggar
menempatkan misi sebagai tindakan untuk membuka ruang dan memberikan
peluang bagi anak-anak untuk menjadi bagian dari kelompok masyarakat
yang terlibat dalam proses pembebasan, yaitu membangun sebuah dunia
yang lebih baik," ujarnya.

Karena itu, dalam kampanye perlindungan hak anak, terutama pada
gerakan pendidikan untuk anak pinggiran, tidak mengiba, atau
mengharapkan belas kasihan dengan mengedepankan penderitaan anak-
anak, tetapi lebih diarahkan pada model publikasi hasil dari tahapan
sebuah proses yang sedang berjalan.

***
DI Sanggar ini, jangan heran kalau anak-anak seusia 10-12 tahun
telah mampu berpikir kritis. Atin, kelas VI SD dan adiknya Nina,
kelas V, bisa membuat perbandingan antara film Heaven (Iran), Not One
Less (Cina), dan Petualangan Sherina (Indonesia).

Ini baru salah satunya. Seluruh materi seperti sejarah,
matematika, bahasa, lingkungan hidup yang disusun bersama sahabat
Sanggar Akar, seperti Hilman Faried, John Roosa, Razif dari Jaringan
Kerja Budaya, memang diarahkan untuk mencapai tujuan yang lebih luas,
seperti tanggung jawab pribadi, usaha mandiri, dan kreatif; tanggung
jawab sosial menyangkut kepekaan sosial, serta sumbangan pada
pengembangan masyarakat; dan tanggung jawab pada alam.

Seluruh mata pelajaran juga ditujukan untuk mengasah kekritisan
anak; termasuk dalam membaca buku pelajaran. Di antara para relawan
pengajar terdapat pematung terkemuka, Dolorosa Sinaga.

Prinsip hubungan guru-murid adalah keterbukaan dan kesetaraan,
karena gerakan pendidikan ini menolak prinsip anak sebagai tabula
rasa yang diperkenalkan oleh John Locke. Selama belajar, anak tetap
merupakan individu bebas, tetapi bukan tanpa disiplin. Di dalam
kelas, yang berlaku bukan disiplin yang kaku, tetapi semacam
tutorial. Orientasinya bukan ketaatan, tetapi pada komitmen. Disiplin
seperti ini diyakini akan mendorong motivasi dan kesadaran belajar.
Tak hanya diterapkan pada anak, tetapi juga guru.

"Dalam gerakan ini pendidikan merupakan sebuah proses. Anak-anak
dan kami akan terus berproses, berkembang dan kami berharap gerakan
ini akan menjadi milik publik," ujar Ibe. (mh)

ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA

KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.

JANGAN lagi pakai istilah anak jalanan, kalau Anda tak ingin
diumpat. Sebab "anak jalanan" kini punya konotasi "anak yang berada
di jalan" untuk mengemis, mengiba-iba dengan ecrek-ecrek tutup botol,
yang perlu dikhotbahi oleh Rano Karno "boleh kerja di jalan asal tetap
sekolah". Yang oleh Depsos dan pemda dianggap perlu ditertibkan di
rumah singgah atau pesantren.

Ada pula yang melabel anak jalanan sebagai "teroris" di perempatan
jalan, yang jika tidak dikasih duit maka mobil Anda dicoret paku.
Malah
ada yang bikin generalisasi bahwa pencongkel kaca spion mobil mewah
adalah anak jalanan.

Tidak semua anak jalanan adalah pengemis atau teroris. Yayasan
Anak Merdeka di Bandung pimpinan Nugroho GPH terbukti berhasil
mengajak anak-anak jalanan untuk melukis dan membuat kerajinan serta
menerbitkan tabloid Bebas yang mereka kelola dan isi sendiri.

Begitu pula dengan Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana
alias "Girli" di Yogyakarta pimpinan A Didit Adidananta yang tidak
mengindoktrinasi anak-anak jalanan untuk jadi anak "baik-baik"
dan "normal", namun malah membebaskan mereka berkreasi dan
berekspresi. Majalah Jejal yang mereka terbitkan mencerminkan filosofi
calistung (pemberantasan buta kemampuan dasar) yang sifatnya
partisipatif. Beberapa anak "Girli" malah jadi bintang film dan
bermain dengan prima di film Daun di Atas Bantal.

Bandingkan pula dengan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar
Anak akar Institut Sosial Jakarta (ISJ), yang serius belajar main
gitar, rebana, menyanyi dan tampil berteater. Mereka ini lebih bangga
menyebut diri sebagai "anak pinggiran", karena selain ada yang memang
benar-benar "berprofesi" sebagai anak jalanan, ada pula anak
perkampungan kumuh dan dari keluarga miskin.

Panggilan "anak pinggiran" lebih menyiratkan cibiran kepada mereka
yang berpunya dan berkuasa karena mereka inilah yang biasa
meminggirkan
anak-anak yang kurang beruntung. Anak pinggiran bukanlah anak pengiba-
iba yang mengharap belas kasihan atau yang cuma meratapi nasib jika
kena penertiban aparat.

Inilah metamorfosis yang dialami Ibe Karyanto, pengasuh Sanggar
Anak akar. Empat tahun lalu ketika ia mementaskan karyanya, operet
Nyanyian Ranting Kering, lagu-lagunya bernada sendu dan masih pakai
kata "anak jalanan" yang mengharapkan untuk dipahami, sementara pada
pementasan Muka-muka di Kaca hari Selasa (11/5) lagu-lagunya lebih
gagah, tegar dan sarat dengan elan vitalea "anak pinggiran". Keduanya
dipentaskan di tempat terhormat, yaitu di Graha Bakti Budaya Taman
Ismail Marzuki (TIM).

Dengar saja lagu Anak Pinggiran yang juga menjadi judul kaset
lagu-lagu pengisi Muka-muka di Kaca: Inilah cerita anak
pinggiran/menggenggam sebuah harapan/tegar niatnya menantang isi
kota/ingin wujudkan cita-citanya/tak pernah takut dan tak pernah
surut/walau dikurung duka/hidup ceria walau orang suka
menyingkirkannya.
***

MENYAKSIKAN pementasan Atin, Dini, Kris, Sugi, Ucil, dan
kawan-kawannya yang kebanyakan masih kelas tiga sampai lima SD,
sungguh berbeda dengan menonton video klip Joshua yang begitu
artifisial dan komersial. Anak-anak Sanggar akar ini lebih lugu dan
alami. Atin misalnya, tak merasa sungkan untuk menggaruk kaki yang
gatal karena gigitan nyamuk atau menyerahkan mikrofon ke temannya
karena ia sudah kecapaian. Mereka juga mengakui bahwa mereka terkadang
tak mengerti pada sebagian lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan.

Berbeda dengan penampilan anak-anak yang lebih spontan dan
lantang, para pemain dewasa yang mendukung Muka-muka di Kaca justru
agak kedodoran akting dan vokalnya. Tema cerita yang menokohkan
pejabat kaya-raya Hartono dan istrinya yang suka foya-foya, terkesan
agak "hitam-putih". Simak saja lagu Ciptaan yang dinyanyikan Atin dan
kawan-kawannya: Kami bukan yang paling benar/kami juga manusia yang
sama/hanya karna tak punya kuasa/jadilah kami selalu dimangsa.

Betapapun, anak-anak pinggiran asuhan ISJ telah menunjukkan
dengan bernyanyi dan berpentas mereka meraih lagi percaya diri dan
martabat. Sebagai anak-anak pinggiran pun mereka berhak ikut memiliki
dan mewarisi negeri ini. Ini tercermin pada tekad mereka lewat lagu
Saatnya Kami Bicara: Tetapi aku takkan sekalipun/merunduk tunduk dan
mengalah pada duka/saatnya pastikan tiba/aku harus bicara/tuk merebut
semua milikku.

Mudah-mudahan tidak ada pejabat yang lantas mewaspadai karya
sanggar ISJ ini berbau marhaenis, apalagi Marxis... (ij)

ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA


KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.

JANGAN lagi pakai istilah anak jalanan, kalau Anda tak ingin
diumpat. Sebab "anak jalanan" kini punya konotasi "anak yang berada
di jalan" untuk mengemis, mengiba-iba dengan ecrek-ecrek tutup botol,
yang perlu dikhotbahi oleh Rano Karno "boleh kerja di jalan asal tetap
sekolah". Yang oleh Depsos dan pemda dianggap perlu ditertibkan di
rumah singgah atau pesantren.

Ada pula yang melabel anak jalanan sebagai "teroris" di perempatan
jalan, yang jika tidak dikasih duit maka mobil Anda dicoret paku.
Malah
ada yang bikin generalisasi bahwa pencongkel kaca spion mobil mewah
adalah anak jalanan.

Tidak semua anak jalanan adalah pengemis atau teroris. Yayasan
Anak Merdeka di Bandung pimpinan Nugroho GPH terbukti berhasil
mengajak anak-anak jalanan untuk melukis dan membuat kerajinan serta
menerbitkan tabloid Bebas yang mereka kelola dan isi sendiri.

Begitu pula dengan Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana
alias "Girli" di Yogyakarta pimpinan A Didit Adidananta yang tidak
mengindoktrinasi anak-anak jalanan untuk jadi anak "baik-baik"
dan "normal", namun malah membebaskan mereka berkreasi dan
berekspresi. Majalah Jejal yang mereka terbitkan mencerminkan filosofi
calistung (pemberantasan buta kemampuan dasar) yang sifatnya
partisipatif. Beberapa anak "Girli" malah jadi bintang film dan
bermain dengan prima di film Daun di Atas Bantal.

Bandingkan pula dengan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar
Anak akar Institut Sosial Jakarta (ISJ), yang serius belajar main
gitar, rebana, menyanyi dan tampil berteater. Mereka ini lebih bangga
menyebut diri sebagai "anak pinggiran", karena selain ada yang memang
benar-benar "berprofesi" sebagai anak jalanan, ada pula anak
perkampungan kumuh dan dari keluarga miskin.

Panggilan "anak pinggiran" lebih menyiratkan cibiran kepada mereka
yang berpunya dan berkuasa karena mereka inilah yang biasa
meminggirkan
anak-anak yang kurang beruntung. Anak pinggiran bukanlah anak pengiba-
iba yang mengharap belas kasihan atau yang cuma meratapi nasib jika
kena penertiban aparat.

Inilah metamorfosis yang dialami Ibe Karyanto, pengasuh Sanggar
Anak akar. Empat tahun lalu ketika ia mementaskan karyanya, operet
Nyanyian Ranting Kering, lagu-lagunya bernada sendu dan masih pakai
kata "anak jalanan" yang mengharapkan untuk dipahami, sementara pada
pementasan Muka-muka di Kaca hari Selasa (11/5) lagu-lagunya lebih
gagah, tegar dan sarat dengan elan vitalea "anak pinggiran". Keduanya
dipentaskan di tempat terhormat, yaitu di Graha Bakti Budaya Taman
Ismail Marzuki (TIM).

Dengar saja lagu Anak Pinggiran yang juga menjadi judul kaset
lagu-lagu pengisi Muka-muka di Kaca: Inilah cerita anak
pinggiran/menggenggam sebuah harapan/tegar niatnya menantang isi
kota/ingin wujudkan cita-citanya/tak pernah takut dan tak pernah
surut/walau dikurung duka/hidup ceria walau orang suka
menyingkirkannya.
***

MENYAKSIKAN pementasan Atin, Dini, Kris, Sugi, Ucil, dan
kawan-kawannya yang kebanyakan masih kelas tiga sampai lima SD,
sungguh berbeda dengan menonton video klip Joshua yang begitu
artifisial dan komersial. Anak-anak Sanggar akar ini lebih lugu dan
alami. Atin misalnya, tak merasa sungkan untuk menggaruk kaki yang
gatal karena gigitan nyamuk atau menyerahkan mikrofon ke temannya
karena ia sudah kecapaian. Mereka juga mengakui bahwa mereka terkadang
tak mengerti pada sebagian lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan.

Berbeda dengan penampilan anak-anak yang lebih spontan dan
lantang, para pemain dewasa yang mendukung Muka-muka di Kaca justru
agak kedodoran akting dan vokalnya. Tema cerita yang menokohkan
pejabat kaya-raya Hartono dan istrinya yang suka foya-foya, terkesan
agak "hitam-putih". Simak saja lagu Ciptaan yang dinyanyikan Atin dan
kawan-kawannya: Kami bukan yang paling benar/kami juga manusia yang
sama/hanya karna tak punya kuasa/jadilah kami selalu dimangsa.

Betapapun, anak-anak pinggiran asuhan ISJ telah menunjukkan
dengan bernyanyi dan berpentas mereka meraih lagi percaya diri dan
martabat. Sebagai anak-anak pinggiran pun mereka berhak ikut memiliki
dan mewarisi negeri ini. Ini tercermin pada tekad mereka lewat lagu
Saatnya Kami Bicara: Tetapi aku takkan sekalipun/merunduk tunduk dan
mengalah pada duka/saatnya pastikan tiba/aku harus bicara/tuk merebut
semua milikku.

Mudah-mudahan tidak ada pejabat yang lantas mewaspadai karya
sanggar ISJ ini berbau marhaenis, apalagi Marxis... (ij)

PENGORBANAN IBE UNTUK ANAK PINGGIRAN

KOMPAS, Senin, 30-08-2004.
MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada
binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup
bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu
ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan,
dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan
tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih
tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali
Malang, Jakarta Timur.

IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang
beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan
masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup
serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.

Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang
bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya
hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama
puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi
selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya
hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.

Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak
jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik
dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk
mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi
andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di
sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada
yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan
bahasa Inggris. Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji
kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail
10-11 September mendatang.

Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak-
anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku
sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin
puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.

Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan
banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas,
sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama
untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar
didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.

Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi
permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi
senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan
aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak-
anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain-
lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak
kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.

Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman
dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan
keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.

PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa
kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun
1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta
(ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak
jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu
setengah tahun.

Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari
menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan
sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan
ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang
menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan
Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta
menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan
kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak
ada sekolahnya. "Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan
bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi," kata Ibe.

Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis
tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah
daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari
tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir-
pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap
kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan
bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.

Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ
menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka
yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah
Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.

Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer,
kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di
hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang
interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan
sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu
sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba
tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena
berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit
tidur, "penyakit" yang dialaminya sampai hari ini.

"Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk
menyembuhkan diri saya sendiri," kata Ibe.

KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin
apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan
anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun
kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak
mampu yang tinggal di daerah kumuh.

Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan
teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa
anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap
kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung
disuruh mandi dan membersihkan diri.

Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun,
kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding
dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia
siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta
maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk
di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan
mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan
maaf yang dia sampaikan.

"Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa
saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang
tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun," tutur Ibe.

Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa
hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai
sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta
benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.

"Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang
datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka," kata Ibe. (P BAMBANG
WISUDO)

INDONESIA Marginalized Children Learn A Song That Helps Restore Their Dignity

Ucanews.com,July 28, 2004

JAKARTA (UCAN) -- Protecting, educating and supporting impoverished children is a major problem for many Asian countries, and a program started by Jesuits in Indonesia is doing something about it.

Since 2000, Sanggar Akar (roots workshop) has been an autonomous body providing education and support for marginalized children. It was founded in 1994 by Jesuit-run Jakarta Social Institute, and its leader, Ibe Karyanto, told UCA News about its work on July 23, National Children's Day.

Karyanto said he wrote a song, Suara Hati (voice of the heart), in 1995 "to urge people not to neglect their obligation when seeing the situation around them, and to take action after listening to their conscience."

Two young street singers, Unanng, 16, and Wahyudinata, 17, often sing that song. They work Jakarta's streets and stay in Sanggar Akar's main center in Cipinang Melayu, East Jakarta. Their earn about 30,000 rupiah (US$3.30) a day.

Unang says he sings Suara Hati not only for alms but also to "make people aware of their responsibility to care for unfortunate children." However, he also told UCA News that "singing the song makes me sad and brings memories of my Mama living alone in a village in Cirebon, West Java."

Sanggar Akar's main center houses 70 Muslim children, including 20 girls. More than 100 others stay in the organization's three branches around Jakarta. All those children, and at least 500 others who have stayed in the homes before, share one thing -- they can all sing Suara Hati.

Several told UCA News that Sanggar Akar has allowed them to grow as complete human beings, given them education and respected their dignity and needs. They said they not only go to school but also develop skills such as making school bags, sculpting, screen printing, cooking, singing and playing music.

Income received from selling handicrafts goes to the home, which in turn gives them meals, accommodation, money to send home, savings and pocket money.

Wandi, 8, said he is a street singer in the morning but attends school in the afternoon. Liciana, 16, who has lived in Sanggar Akar for six months, said that with her guitar playing and bag making, she can send money to her parents, who struggle to make a living as peddlers. Wati, 13, said she most likes going to school, which was impossible when she lived with her parents.

Karyanto insists education cannot be postponed for children, "the owners of the future." Sanggar Akar, he said, is run for marginalized children by concerned people and with the children's participation. In his view, an unjust social structure makes people "marginalized" and forces them to live on streets and in slums and public areas.

Sanggar Akar has three types of communities - its base community, a Sanggar community and networking. The base community, for elementary school children, promotes study group dynamics to help develop skills in reading, writing, counting and speaking. The Sanggar community, for elementary and secondary school children, develops teamwork and a sense of responsibility.

For the latter group, artistic activity, especially theater, is a main feature. The children perform a musical play for the public every year. They also organize household chores, publish a newsletter and maintain a library.

The networking community challenges the children to help build solidarity with surrounding communities and beyond. They learn networking by holding public events such as rummage sales and public campaigns.

Karyanto said people working for Sanggar Akar enroll children and youth by meeting them on the streets and in public places. Juprianto, a Sanggar Akar executive committee member, told UCA News that he must become one of them to approach them. He acknowledged that this can be dangerous, as evidenced one time when he was beaten up for entering the "territory" of someone else.

The theme of National Children's Day this year was "I Am Proud To Be An Indonesian Child." However, Catholic-run Kompas daily reported on July 24 that more than 50,000 children in 12 major Indonesian cities still live on the streets separated from their parents, and about 1.6 million children work in an exploitative environment. The country reportedly has 11.7 million school dropouts and only 50 percent of its children complete elementary school.

To mark the day, 6,000 children attended a celebration with President Megawati Soekarnoputri at Ancol Fantasy Park in North Jakarta. There, two children read a declaration urging the government to familiarize people with Law No. 23/2002 on child protection. Rallies taking place that day and the day before also urged the government to provide free education for children and to be more attentive to the rights of children, especially street children.

Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar

29 Mei 2008,Suara Pembaruan
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.

Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.

Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.

Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.

Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.

Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.

Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.

Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.

Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.



Kehidupan Sehari-hari

Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.

Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.

Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.

"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.

Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.

Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.

Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.

"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.

Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.

Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.

Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.



Pentas

Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.

Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.

"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.

Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.

"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.

Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.

Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.

Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..

Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.

Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]

Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar

29 Mei 2008,Suara Pembaruan
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.

Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.

Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.

Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.

Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.

Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.

Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.

Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.

Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.



Kehidupan Sehari-hari

Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.

Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.

Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.

"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.

Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.

Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.

Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.

"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.

Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.

Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.

Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.



Pentas

Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.

Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.

"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.

Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.

"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.

Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.

Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.

Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..

Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.

Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]

KETIKA GAMBAR-GAMBAR ITU BICARA


KOMPAS, Senin, 05-07-2004.
"INI gambar suasana waktu pawai tujuh belas Agustus di jalan
besar dekat rumahku," kata Nadya, pelajar kelas III sekolah dasar di
Cempaka Putih yang sangat suka dengan keramaian pawai. Kertas putih
di depannya berubah penuh warna.
Ada gambar orang berkumpul dengan mengacung-acungkan bendera
Merah Putih. Nadya memilih menggoreskan warna merah muda untuk
mewarnai orang yang berpawai mulai dari ujung rambut hingga kaki.
Latar belakang gedung-gedung pencakar langit melengkapi karyanya.
Beberapa peserta laki-laki menggambar mobil berwarna kuning,
biru atau merah.
Namun, di luar itu, hampir sebagian besar peserta mungil yang
bertempat tinggal di Ibu Kota penuh hutan beton ini melukiskan
gunung, rumah petani, sawah yang terbelah jalan aspal. Persis ajaran
di sekolah.
***

LOMBA gambar yang menyulap suasana lapangan parkir Taman Ismail
Marzuki menjadi sangat meriah itu merupakan rangkaian peringatan
Ulang Tahun Ke-10 Sanggar Akar. Sanggar itu menjadi wadah pendidikan
alternatif bagi anak pinggiran.
"Selama belajar di sanggar, salah satu yang disukai adalah
menggambar. Membuat coretan apa saja yang diingini. Tidak ada
tuntutan gambar mesti penuh atau warna benda harus ini atau itu.
Hari ini kami mengajak anak-anak lain menggambar bebas bersama," kata
Pray, Ketua Panitia Penyelenggara Lomba Menggambar dari Sanggar Akar.
Oleh karena itu, tidak ada tema, tidak ada uang pendaftaran, dan
tidak ada pula batas sosial-untuk sesaat-dalam perlombaan itu.
Kebebasan berekspresi dalam menggambar, menurut Pray, hanya
merupakan bagian kecil dari hak dasar anak yang kerap dilupakan
orang dewasa yaitu kebebasan memilih.
Setiap anak, bahkan sejak usia dini sudah mempunyai gambaran dan
pandangan sendiri tentang segala sesuatu yang sudah didapatkannya.
Salah satu pengungkapannya adalah lewat lukisan.
Di Sanggar Akar, menggambar memang menjadi salah satu media
berekspresi. Bagi anak-anak, kegiatan itu sangat digemari karena
mereka bebas menuangkan gagasannya, termasuk kepada orang dewasa.
Tidaklah mengherankan bila menggambar sering jadi alat berkomunikasi
anak dengan lingkungan di luar dirinya.
***

KARYA-karya peserta lomba kali ini misalnya, setelah dinilai oleh
tim juri yang terdiri dari seniman FX Harsono, Setyaningsih Poernomo,
dan Alit Ambara, akan dipamerkan di Galeri Cipta II Taman Ismail
Marzuki, 9-10 Agustus mendatang. Sebagai bentuk penghargaan kepada
karya anak.
Pray, mantan anak jalanan yang kini mengajar rekan-rekan kecilnya
di komunitas pinggiran di Cakung percaya, sebuah lukisan dapat
menceritakan isi dan rasa anak.
Dia masih ingat gambar salah satu anak "didik"-nya di Cakung.
Hanya sebuah kepala dan di sampingnya terlukis rumah kecil.
Namun, dengan lancar anak itu kemudian bercerita tentang ibunya,
rumahnya, tetangganya, dan kehidupannya yang terpinggirkan di kota
Jakarta.(INE)

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI

KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.
SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu
tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung,
penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada
dalam rona wajahnya.

Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah
berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".

Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film
dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-
10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan
10 tahun Sanggar Akar.

Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah
Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah
Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.

Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar
lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin
bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.

SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu
menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk
itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak
akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.

Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak
jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.

Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan
teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah
bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan
pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan
dokumentasi dalam bentuk gambar.

Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan
film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat
Kebudayaan Jepang.

Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan.
Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan
belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat
beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta
pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.

"Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar
yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa
membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.

PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan
sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa
tahap.

Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok
pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera,
penyutradaraan dan editing.

Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat
pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas
empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema
Society.

Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok
memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya
adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah
dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.

Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu
kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin",
"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti
Malaikat".

Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu
merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam
keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka
mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.

"Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya
sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka
adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini
terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka,
mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan,
fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.

Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya
bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan
sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan.
(LOK)

KAMI BERHAK UNTUK BELAJAR

KOMPAS, Minggu, 14-12-2003.

Tidak ada seorang pun yang ingin tinggal di jalan. Demikian juga
tidak ada yang ingin terlahir cacat. Namun, jika itu yang terjadi,
setiap anak yang kurang beruntung itu berhak untuk mendapatkan
kesempatan belajar dan hidup lebih baik.

Untuk itu, Bapak Ibe Karyanto dan teman-temannya mendirikan Sanggar
Akar. Di tengah perkampungan daerah Gudang Seng, Jakarta Timur,
beberapa anak duduk di lantai sebuah aula. Buku partitur terbuka di
depan mereka. Lagu syahdu terdengar mengalun dilanjutkan dengan
sebuah komposisi klasik.

Anak-anak yang serius memainkan biola, gitar, dan rekorder itu bukan
murid-murid sebuah kursus musik, melainkan anak-anak pengamen yang
suka berdiri di perempatan lampu merah sambil menenteng gitar.
Sesiangan mereka mengumpulkan uang bermodal suara dan gitar mereka.
Di sore hari mereka berkumpul di Sanggar Akar untuk belajar. Ada
pelajaran bahasa, biologi, sejarah, teater, dan musik. Ngapain sih,
pemusik jalanan pakai acara belajar segala?

Lho, yang boleh belajar itu kan bukan hanya mereka yang mampu secara
ekonomi. Dalam Konvensi Hak Anak disebutkan bahwa setiap anak berhak
mendapatkan pendidikan juga pelatihan keterampilan. Menurut Bapak Ibe
Karyanto yang biasa dipanggil Uwak, banyak anak dari keluarga
miskin di kota besar seperti Jakarta punya masalah berat. Di Sanggar
Akar ini, teman-teman kita yang kurang beruntung itu punya tempat
yang aman. Aman untuk mengekspresikan diri, bermain, dan belajar.
Berkumpullah mereka tiap sore. Ada teman-teman yang tinggal di jalan,
yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang atau
mereka yang masih punya keluarga lengkap. Mereka sama-sama bergaul
dan belajar di sini.

Cara belajar mereka memang sedikit berbeda dengan cara belajar kita
di sekolah. Sambil bercanda Kak Dini, murid SMP 52 Jakarta, yang juga
peserta sanggar, mengatakan belajar di Sanggar Akar enak. Pelajaran
lebih bisa mereka mengerti karena lebih sesuai dengan keadaan sehari-
hari. Seperti yang dicontohkan Kak Rika (18), Ketua Dewan Koordinasi
Anak (Dekan) Sanggar Anak. Saat pelajaran sejarah, mereka belajar
mencari arti nama mereka masing-masing. Atau asal-usul nama suatu
tempat di lingkungan sekitar mereka. Mau belajar tentang lingkungan
hidup? Mereka melakukannya dengan memelihara ikan dan menanam pohon
di sekitar sanggar.

Hidup sebagai pengamen atau tinggal di tempat pembuangan sampah
Bantar Gebang itu berat. Maka Uwak dibantu oleh Dekan berusaha
membuat kegiatan belajar menyenangkan. Yang penting menurut Uwak,
teman-teman di Sanggar Akar belajar hidup dengan baik. Sebagai ganti
menekuni berbagai mata pelajaran seperti di sekolah, kepada mereka
diajarkan keterampilan menyablon, membuat kertas daur ulang, dan
merajut. Semuanya bertujuan agar nantinya mereka punya keterampilan
dan tidak terus tinggal di jalan. Sikap kerja sama, rasa ingin tahu
dan kemandirian juga dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari di
sanggar.

Kemandirian juga diharapkan tumbuh dalam diri teman-teman kita yang
lain, yakni mereka yang bersekolah di SLB Bagian C Tri Asih, Jakarta.
Pelajar di sekolah ini adalah anak-anak dengan IQ di bawah 80, yang
biasa disebut tunagrahita. Penyandang cacat tunagrahita di SD Luar
Biasa Tri Asih menerima pelajaran seperti murid-murid SD lain. Hanya
saja pelajaran diberikan lebih pelan-pelan. Ada juga pelajaran
merawat diri seperti mandi atau mencuci rambut, lho! Memang kegiatan
seperti menyisir rambut, memakai baju atau mengikat tali sepatu
tampak sepele untuk mereka yang normal. Tapi tidak demikian bagi
teman-teman di SLB yang perkembangan pikiran dan mentalnya maksimal
hanya seperti anak umur 12 tahun. Kegiatan sehari-hari diajarkan
kepada mereka agar mereka tidak selamanya tergantung kepada orang
lain.

Kegiatan serupa juga diajarkan di YPAC (Yayasan Pemeliharaan Anak
Cacat) di daerah Hang Lekiu, Jakarta. Penyandang tunadaksa atau cacat
fisik diberi latihan khusus agar bisa mengatasi kekurangannya. Ada
yang belajar membaca huruf Braille, belajar berjalan, belajar
berbicara dengan bahasa isyarat, dan lain-lain. Jika tingkat
kecerdasan anak-anak tersebut normal, mereka bisa mengikuti program
pendidikan inklusi. Ini adalah program masuknya anak-anak penderita
tunadaksa di sekolah umum. Jadi jangan sampai karena seorang anak
menderita cacat, dia terus berada di SLB. Anak cacat juga mendapat
kesempatan untuk hidup seperti orang-orang normal lainnya. Berhak
untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan. Sekarang sudah cukup banyak
lho, penyandang tunadaksa yang bekerja di kantor-kantor umum,
misalnya di stasiun televisi swasta.

Kegiatan yang berlangsung di SLB C Tri Asih dan YPAC ini sesuai
sekali dengan salah satu aturan dalam Konvensi Hak Anak. Dalam
konvensi itu diakui bahwa setiap anak punya perbedaan satu sama lain,
termasuk perbedaan sosial, harta kekayaan, dan fisik. Akan tetapi,
anak-anak tidak boleh menerima perlakuan yang berbeda. Hak
kelangsungan hidup dan perkembangan anak dijamin oleh negara.
Oleh karena itu, penderita tunagrahita ringan di Tri Asih yang bisa
beraktivitas normal tanpa hambatan diajari keterampilan seperti
menjahit dan menenun. Hasil jahitan dan tenunan mereka rapi dan
bagus, tidak kalah dari buatan mereka yang normal. Keterampilan
mereka diharapkan menjadi bekal menghidupi diri sendiri.

Penderita tunagrahita ringan juga dibiasakan bertemu dengan orang-
orang di luar sekolah mereka. Mereka diajak pergi ke luar lingkungan
sekolah mereka, belajar berbelanja. Sedangkan murid-murid YPAC pernah
bersama-sama naik kereta api dari Stasiun Gambir Jakarta ke Bogor, ke
kebun binatang atau ke museum. Dengan cara itu mereka bersosialisasi
dengan dunia luar.

Dengan adanya berbagai macam tempat pendidikan seperti di atas,
diharapkan semua anak mendapatkan hak mereka. Semoga saja makin
banyak teman kita yang lain memperoleh kesempatan untuk bisa
menyambut masa depan mereka. Karena, seperti kata ungkapan, öJika
kami adalah masa depan, dan kami sekarat, maka masa depan itu tak
ada.ö Tentu kita tak mau bangsa kita tak punya masa depan, kan?

TOLAK TAYANGAN TELEVISI YANG TIDAK MENDIDIK

Percuma Saja Generasi Muda Sekolah
Oleh: Samuel Oktora Batarede

KOMPAS Jawa Timur, Senin, 15-08-2005.
Malang, Kompas

Sutradara dan aktor Slamet Rahardjo menyatakan, sekarang
diperlukan sikap radikal untuk tidak menonton sama sekali acara
televisi yang tidak mendidik.

Hal ini dikemukakan Slamet seusai acara dialog dan apresiasi film
karya anak Sanggar Akar Jakarta, Minggu (14/8) di Sekolah Menengah
Atas Katolik Santo Albertus-Dempo, Malang. Slamet hadir bersama
penyanyi Iga Mawarni.

Dalam sesi dialog, banyak ibu guru yang menyatakan keprihatinan
mereka akan maraknya tayangan televisi (TV) yang justru bersifat
merusak.

"Memang sekarang banyak film yang diputar di TV, apakah itu dari
dalam maupun luar negeri, yang tingkatannya sudah sangat
memprihatinkan. Isinya menyesatkan, termasuk yang bernuansa mistis.
Banyak yang tidak masuk akal, hanya menonjolkan kemewahan hingga
cerita-cerita dedemit. Kalau generasi muda sekarang banyak disodori
hal-hal semacam ini, percuma saja sekolah," kata Slamet.

"Tetapi, saya juga meminta ibu-ibu jangan hanya menjadi jago
kandang, tetapi perlu membuat semacam komitmen atau pernyataan untuk
tidak menonton film yang mengecilkan arti budaya dan harga diri
bangsa," tutur sutradara Marsinah ini.

Slamet mencontohkan, salah satu adegan atau tayangan film yang
tidak mendidik itu seperti pada film laga, yakni adanya ungkapan
salah satu tokoh untuk membalas dendam: "I will revenge!" Film laga
demikian menyampaikan pesan kuat mengenai kekuatan balas dendam
sampai turun-temurun. Seharusnya pada generasi muda ditanamkan sikap
mengasihi atau mengampuni.

"Ada juga film yang tokohnya mengatakan hal tidak masuk akal,
yang mempertanyakan mengapa pada usia 13 tahun masih perawan. Jelas
tayangan seperti ini tidak masuk logika, lebih baik tidak usah
ditonton," tutur dia.

Meski demikian, Slamet juga tidak setuju jika penolakan terhadap
tayangan film negatif itu melalui larangan dengan pendekatan
kekuasaan. Sebab, hal ini merupakan bentuk penjajahan.

"Saya pernah ditanya apakah film Buruan Cium Gue perlu ditarik
dari peredaran. Saya tidak setuju karena langkah seperti ini
mengekang seseorang untuk berkreasi. Cukup pakai saja bahasa dagang,
buka bahasa kekuasaan ," ujarnya.

Pendidikan untuk Yang Miskin



MENJEMBATANI SEKOLAH ALTERNATIF DENGAN FORMAL
Oleh P Bambang Wisudo

KOMPAS, Kamis, 15-09-2005.


Kokon Koswara (23), mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (STKIP) Garut, Jawa Barat, dalam beberapa bulan terakhir
lebih sering mengisi masa akhir pekannya dengan naik turun gunung.
Kegiatan itu harus dijalaninya sejak ia bersama sejumlah kawannya
membantu warga kampung Dano menyelenggarakan sekolah alternatif Bale
Rahayat.

Jarak delapan kilometer dari ibu kota Kecamatan Leles dengan
kampung Dano ditempuh sepeda motor. Karena keuangan terbatas, Kokon
dan kawan-kawannya tidak memilih menggunakan jasa ojek. Ongkos ojek
ke kampung itu Rp 15.000 sekali jalan. Untuk menekan biaya, Kokon
memilih menyewa motor dengan ongkos Rp 20.000 sehari. Biasanya motor
itu ditumpangi bertiga, tidak peduli jalan terjal bebatuan yang harus
dihadapinya.

"Karena masalah ongkos kami tidak bisa intensif mendampingi
masyarakat Dano," tutur Kokon.

Aktivitas Kokon dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Jaringan
Pendidikan Kritis Garut itu didasari keprihatinan atas minimnya akses
pendidikan anak-anak petani di wilayah itu. Dari delapan ribu
penduduk di dusun itu, hanya segelintir saja yang tamat SD dan SMP.
Selepas kelas dua, empat SD negeri di sekitar dusun itu kehilangan
murid.

Sebagian besar putus di tengah jalan dalam keadaan tidak bisa
membaca dan menulis. Anak laki-laki di bawah umur yang belum bisa
baca tulis itu sebagian besar di bawa ke kota dipekerjakan, menjadi
pembantu buruh konveksi tas kulit, dengan upah yang sangat rendah.

Baru beberapa bulan berjalan, kini Bale Rahayat harus menampung
sekitar 150 murid. Dengan fasilitas seadanya, mereka belajar di
emperan masjid dusun, rutin diajar oleh tiga tokoh masyarakat yang
menjadi sukarelawan. Sejauh ini tidak ada sedikit pun dukungan dari
pemerintah lokal. Andaikata mereka juga berhak atas dana kompensasi
BBM sebesar rata-rata Rp 20.000 per bulan, hampir bisa dijamin anak-
anak itu lebih pintar dibandingkan anak-anak yang memilih bersekolah
di sekolah formal.

Korban diskriminasi
Anak-anak dari masyarakat kalangan bawah yang terempas dari jalur
pendidikan formal memang menjadi korban diskriminasi kebijakan
pendidikan nasional. Orang-orang miskin yang seharusnya dibela,
justru dimarginalkan dalam proses pendidikan. Jangankan mereka yang
memilih jalur sekolah alternatif. Anak-anak putus sekolah yang
ditampung di PKBM yang disokong pemerintah pun diberi anggaran sisa.
Upah gurunya hanya Rp 150.000 per bulan. Di lapangan honor sebesar
itu dibagi lagi untuk beberapa tutor.

Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional Eko
Djatmiko Sukarso menceritakan, ia pernah menjumpai tutor yang diberi
honorarium Rp 20.000 per bulan.

Di Jakarta, seorang siswa SD dari kelompok masyarakat miskin,
mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah dan pusat sebesar Rp
40.000 per anak. Bahkan subsidi dari Pemda DKI bagi siswa SD tahun
depan diusulkan naik dua kali lipat menjadi Rp 500.000 per bulan.

Untuk anak-anak putus sekolah, Pemda DKI menyelenggarakan program
retrieval dengan anggaran Rp 1 juta per anak per tahun. Dana itu
tentu menjadi sebuah kemewahan bagi anak-anak dari masyarakat bawah
yang bergabung di sanggar-sanggar pendidikan alternatif, seperti
Sanggar Akar, Sanggar Ciliwung, atau Sanggar Anak Alam di Lebakbulus.

Kenyataannya dana itu dibekap oleh sekolah-sekolah formal yang
ketat dikendalikan oleh pemerintah. Hasilnya adalah anak-anak miskin
tetap saja tidak bisa bersekolah.

Anggaran dan substansi
Kesenjangan antara sekolah alternatif dengan sekolah formal tidak
hanya persoalan anggaran tetapi juga substansi pendidikan yang
ditawarkan. Sekolah-sekolah alternatif yang berkembang dalam semangat
Paulo Freirean, yang mengintegrasikan semangat perlawanan terhadap
sistem yang memiskinkan dalam pendidikan.

Sejumlah aktivitas pendidikan alternatif memiliki keyakinan bahwa
tujuan akhir pendidikan alternatif bukan sekadar mengeluarkan anak
dari kemiskinan yang membelenggu lingkungan dan keluarga mereka.
Apalagi bila itu sekadar diartikan memberikan keterampilan agar
mereka bisa berintegrasi dalam sistem yang kapitalistik.

Semangat perlawanan itu dapat dibaca dari kemunculan sekolah-
sekolah alternatif di berbagai daerah. Sebutlah Madrasah Aliyah
Bingkat di Sumatera Utara, Sekolah Anak Rima "Sokola" di Jambi,
Sanggar Akar dan Sanggar Ciliwung di Jakarta.Madrasah Tsanawiyah As
Sururon dan Bale Rahayat di Garut, SMP Qaryah Thayibbah di Salatiga,
Sanggar Anak Alam dan SD Mangunan di Yogyakarta, dan masih banyak
lagi.

Ada dua model besar penyelenggaraan sekolah alternatif itu. Ada
yang berkompromi dengan sistem pendidikan formal tetapi ada yang
tidak mau berkompromi. Model pertama biasanya mengambil bentuk
sekolah formal meski dengan sejumlah penyiasatan, menganggap penting
nilai ijazah, dan mengukur mutu berdasarkan standar nilai rata-rata.

Pengamat pendidikan Dr Mochtar Buchori memberikan ilustrasi kedua
model itu dengan membandingkan antara pendidikan alternatif Sanggar
Akar dan SMP Alternatif Qaryah Thayibbah. Menurut Mochtar, Sanggar
Akar lebih merupakan perjuangan sosio-kultural, yang dipentingkan
adalah bagaimana anak menemukan arti dalam kehidupannya. Karena itu
soal ujian dan ijazah dianggap remeh. Sedangkan sekolah model Qaryah
Thayibbah lebih dilatarbelakangi perjuangan sosial-ekonomis,
bagaimana memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak petani di
desa.

Dalam model pendidikan pertama, anak-anak bisa menjadi kekuatan
subversif dalam masyarakat tertentu. "Tergantung tujuannya, apakah
pendidikan mau menormalkan atau mau melawan. Memberikan kemampuan
belajar menjadi penting untuk memberikan kesempatan anak-anak
marginal menumbuhkan jiwa kewiraswastaannya," kata Mochtar.

Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto mengatakan bahwa pendidikan
alternatif untuk kaum miskin memang merupakan kritik radikal terhadap
pendidikan formal. Paradigma yang dianut adalah paradigma pembebasan.
Karena itu harus ada penyadaran kritis pada diri anak bahwa
kemiskinan yang mereka alami bukan merupakan kenyataan yang terjadi
begitu saja tetapi merupakan akibat dari proses pemiskinan.

"Bukan mengajak anak membangun konfrontasi tetapi justru
mengajak anak secara visioner melihat sistem apa yang harus
dibangun," kata Ibe.

Dalam semangat perlawanan itu mungkinkah pendidikan alternatif
berkolaborasi dengan pemerintah? Mengapa tidak? Menurut Eko Djatmiko,
tidak ada masalah sekolah alternatif bekerja sama dengan pemerintah
meskipun mereka mengembangkan semangat perlawanan. Demi pencerdasan
bangsa, perbedaan-perbedaan antara formal dan nonformal, antara
masyarakat dan negara, mesti disinergikan.

Semangat perlawanan, kata Lodi Paat, Pengajar Pengantar Ilmu
Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, yang selama ini terjadi
juga bukan monopoli pendidikan nonformal atau sekolah alternatif.

"Perlawanan seharusnya tidak hanya dilakukan sekolah-sekolah
alternatif tetapi juga sekolah-sekolah formal. Dalam situasi
sekarang, tanpa perlawanan, kita akan dirampok habis-habisan," kata
Lodi.