27-Jul-2007,
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.
Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.
Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.
Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.
Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.
Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.
Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.
Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah
Tampilkan postingan dengan label doge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doge. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Desember 2008
Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran
27-Jul-2007,
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.
Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.
Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.
Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.
Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.
Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.
Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.
Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah
[www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.
Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.
Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.
Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.
Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.
Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.
Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.
Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya.
M. Falikul Isbah
Label:
akar,
anak,
doge,
doge Abdurrahman,
ibe,
ibe karyanto,
pendidikan anak,
saleh,
sanggar akar,
sanggar anak
GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.
***
PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.
***
PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.
Label:
: akar,
anak,
anak pinggiran,
doge,
indira,
ine,
pendidikan,
pendidikan alternative,
pendidikan anak,
sanggar,
sanggar akar
GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.
GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.
***
PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.
GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN
HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat"
dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya.
Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di
Jakarta.
"Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur,"
begitu kenangnya.
Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak
dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita
salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian
adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato
lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono
menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.
Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya.
Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh
berubah.
Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan
anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung,
membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.
"Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan
penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya
ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata
penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.
Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal
hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu
tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah
umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-
lantung di jalan.
Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan
anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan
komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya
tentang pendidikan termuat di sana.
"Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat
komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.
Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut
hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar.
Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia
membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah
Inpeksi Saluran Jatiluhur.
***
PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang
November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan
pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.
Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat
sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca
merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.
Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan
pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting
adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan,
seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan
berdiskusi.
"Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan
kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar
adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan
modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan
keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan
pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe
Karyanto.
Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-
basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung
Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.
Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya,
berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih
muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.
Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini
bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-
apa."
Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan
formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian.
Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.
Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan,
itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.
Label:
akar,
anak,
anak pinggiran,
doge,
indira,
ine,
pendidikan,
pendidikan alternative,
pendidikan anak,
sanggar,
sanggar akar
Langganan:
Postingan (Atom)