KOMPAS, Senin, 30-08-2004.
MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada
binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup
bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu
ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan,
dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan
tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih
tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali
Malang, Jakarta Timur.
IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang
beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan
masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup
serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.
Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang
bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya
hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama
puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi
selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya
hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.
Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak
jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik
dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk
mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi
andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di
sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada
yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan
bahasa Inggris. Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji
kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail
10-11 September mendatang.
Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak-
anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku
sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin
puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.
Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan
banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas,
sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama
untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar
didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.
Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi
permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi
senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan
aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak-
anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain-
lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak
kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.
Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman
dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan
keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.
PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa
kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun
1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta
(ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak
jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu
setengah tahun.
Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari
menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan
sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan
ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang
menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan
Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta
menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan
kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak
ada sekolahnya. "Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan
bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi," kata Ibe.
Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis
tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah
daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari
tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir-
pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap
kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan
bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.
Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ
menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka
yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah
Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.
Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer,
kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di
hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang
interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan
sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu
sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba
tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena
berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit
tidur, "penyakit" yang dialaminya sampai hari ini.
"Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk
menyembuhkan diri saya sendiri," kata Ibe.
KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin
apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan
anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun
kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak
mampu yang tinggal di daerah kumuh.
Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan
teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa
anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap
kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung
disuruh mandi dan membersihkan diri.
Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun,
kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding
dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia
siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta
maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk
di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan
mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan
maaf yang dia sampaikan.
"Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa
saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang
tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun," tutur Ibe.
Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa
hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai
sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta
benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.
"Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang
datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka," kata Ibe. (P BAMBANG
WISUDO)
Kamis, 11 Desember 2008
INDONESIA Marginalized Children Learn A Song That Helps Restore Their Dignity
Ucanews.com,July 28, 2004
JAKARTA (UCAN) -- Protecting, educating and supporting impoverished children is a major problem for many Asian countries, and a program started by Jesuits in Indonesia is doing something about it.
Since 2000, Sanggar Akar (roots workshop) has been an autonomous body providing education and support for marginalized children. It was founded in 1994 by Jesuit-run Jakarta Social Institute, and its leader, Ibe Karyanto, told UCA News about its work on July 23, National Children's Day.
Karyanto said he wrote a song, Suara Hati (voice of the heart), in 1995 "to urge people not to neglect their obligation when seeing the situation around them, and to take action after listening to their conscience."
Two young street singers, Unanng, 16, and Wahyudinata, 17, often sing that song. They work Jakarta's streets and stay in Sanggar Akar's main center in Cipinang Melayu, East Jakarta. Their earn about 30,000 rupiah (US$3.30) a day.
Unang says he sings Suara Hati not only for alms but also to "make people aware of their responsibility to care for unfortunate children." However, he also told UCA News that "singing the song makes me sad and brings memories of my Mama living alone in a village in Cirebon, West Java."
Sanggar Akar's main center houses 70 Muslim children, including 20 girls. More than 100 others stay in the organization's three branches around Jakarta. All those children, and at least 500 others who have stayed in the homes before, share one thing -- they can all sing Suara Hati.
Several told UCA News that Sanggar Akar has allowed them to grow as complete human beings, given them education and respected their dignity and needs. They said they not only go to school but also develop skills such as making school bags, sculpting, screen printing, cooking, singing and playing music.
Income received from selling handicrafts goes to the home, which in turn gives them meals, accommodation, money to send home, savings and pocket money.
Wandi, 8, said he is a street singer in the morning but attends school in the afternoon. Liciana, 16, who has lived in Sanggar Akar for six months, said that with her guitar playing and bag making, she can send money to her parents, who struggle to make a living as peddlers. Wati, 13, said she most likes going to school, which was impossible when she lived with her parents.
Karyanto insists education cannot be postponed for children, "the owners of the future." Sanggar Akar, he said, is run for marginalized children by concerned people and with the children's participation. In his view, an unjust social structure makes people "marginalized" and forces them to live on streets and in slums and public areas.
Sanggar Akar has three types of communities - its base community, a Sanggar community and networking. The base community, for elementary school children, promotes study group dynamics to help develop skills in reading, writing, counting and speaking. The Sanggar community, for elementary and secondary school children, develops teamwork and a sense of responsibility.
For the latter group, artistic activity, especially theater, is a main feature. The children perform a musical play for the public every year. They also organize household chores, publish a newsletter and maintain a library.
The networking community challenges the children to help build solidarity with surrounding communities and beyond. They learn networking by holding public events such as rummage sales and public campaigns.
Karyanto said people working for Sanggar Akar enroll children and youth by meeting them on the streets and in public places. Juprianto, a Sanggar Akar executive committee member, told UCA News that he must become one of them to approach them. He acknowledged that this can be dangerous, as evidenced one time when he was beaten up for entering the "territory" of someone else.
The theme of National Children's Day this year was "I Am Proud To Be An Indonesian Child." However, Catholic-run Kompas daily reported on July 24 that more than 50,000 children in 12 major Indonesian cities still live on the streets separated from their parents, and about 1.6 million children work in an exploitative environment. The country reportedly has 11.7 million school dropouts and only 50 percent of its children complete elementary school.
To mark the day, 6,000 children attended a celebration with President Megawati Soekarnoputri at Ancol Fantasy Park in North Jakarta. There, two children read a declaration urging the government to familiarize people with Law No. 23/2002 on child protection. Rallies taking place that day and the day before also urged the government to provide free education for children and to be more attentive to the rights of children, especially street children.
JAKARTA (UCAN) -- Protecting, educating and supporting impoverished children is a major problem for many Asian countries, and a program started by Jesuits in Indonesia is doing something about it.
Since 2000, Sanggar Akar (roots workshop) has been an autonomous body providing education and support for marginalized children. It was founded in 1994 by Jesuit-run Jakarta Social Institute, and its leader, Ibe Karyanto, told UCA News about its work on July 23, National Children's Day.
Karyanto said he wrote a song, Suara Hati (voice of the heart), in 1995 "to urge people not to neglect their obligation when seeing the situation around them, and to take action after listening to their conscience."
Two young street singers, Unanng, 16, and Wahyudinata, 17, often sing that song. They work Jakarta's streets and stay in Sanggar Akar's main center in Cipinang Melayu, East Jakarta. Their earn about 30,000 rupiah (US$3.30) a day.
Unang says he sings Suara Hati not only for alms but also to "make people aware of their responsibility to care for unfortunate children." However, he also told UCA News that "singing the song makes me sad and brings memories of my Mama living alone in a village in Cirebon, West Java."
Sanggar Akar's main center houses 70 Muslim children, including 20 girls. More than 100 others stay in the organization's three branches around Jakarta. All those children, and at least 500 others who have stayed in the homes before, share one thing -- they can all sing Suara Hati.
Several told UCA News that Sanggar Akar has allowed them to grow as complete human beings, given them education and respected their dignity and needs. They said they not only go to school but also develop skills such as making school bags, sculpting, screen printing, cooking, singing and playing music.
Income received from selling handicrafts goes to the home, which in turn gives them meals, accommodation, money to send home, savings and pocket money.
Wandi, 8, said he is a street singer in the morning but attends school in the afternoon. Liciana, 16, who has lived in Sanggar Akar for six months, said that with her guitar playing and bag making, she can send money to her parents, who struggle to make a living as peddlers. Wati, 13, said she most likes going to school, which was impossible when she lived with her parents.
Karyanto insists education cannot be postponed for children, "the owners of the future." Sanggar Akar, he said, is run for marginalized children by concerned people and with the children's participation. In his view, an unjust social structure makes people "marginalized" and forces them to live on streets and in slums and public areas.
Sanggar Akar has three types of communities - its base community, a Sanggar community and networking. The base community, for elementary school children, promotes study group dynamics to help develop skills in reading, writing, counting and speaking. The Sanggar community, for elementary and secondary school children, develops teamwork and a sense of responsibility.
For the latter group, artistic activity, especially theater, is a main feature. The children perform a musical play for the public every year. They also organize household chores, publish a newsletter and maintain a library.
The networking community challenges the children to help build solidarity with surrounding communities and beyond. They learn networking by holding public events such as rummage sales and public campaigns.
Karyanto said people working for Sanggar Akar enroll children and youth by meeting them on the streets and in public places. Juprianto, a Sanggar Akar executive committee member, told UCA News that he must become one of them to approach them. He acknowledged that this can be dangerous, as evidenced one time when he was beaten up for entering the "territory" of someone else.
The theme of National Children's Day this year was "I Am Proud To Be An Indonesian Child." However, Catholic-run Kompas daily reported on July 24 that more than 50,000 children in 12 major Indonesian cities still live on the streets separated from their parents, and about 1.6 million children work in an exploitative environment. The country reportedly has 11.7 million school dropouts and only 50 percent of its children complete elementary school.
To mark the day, 6,000 children attended a celebration with President Megawati Soekarnoputri at Ancol Fantasy Park in North Jakarta. There, two children read a declaration urging the government to familiarize people with Law No. 23/2002 on child protection. Rallies taking place that day and the day before also urged the government to provide free education for children and to be more attentive to the rights of children, especially street children.
"BIARKAN KAMI DI JALANAN ..."
KOMPAS, Sabtu, 14-07-2001.
RATUSAN anak yang sehari-hari bergulat di jalanan, Kamis (12/7),
tenggelam dalam luapan kegembiraan. Anak-anak berusia enam sampai
belasan tahun itu berlarian, berkejar-kejaran, menjerit, tertawa, dan
saling mengancam. Sebagian membawa kaleng, gelas, botol penuh cat
warna-warni, sebagian lagi berburu dengan tangan berlumuran cat,
menangkap siapa saja yang ada di areal itu. Mereka saling mencoreng
badan, menyiram, bahkan mengguyurkan cat dari atas kepala sampai ke
ujung kaki.
"Ini acara yang paling menyenangkan. Saya senang mencorat-coret
kawan saya," kata Sisriyani (6), anak seorang pemulung dari Bantar
Gebang.
Mereka kemudian meneriakkan yel-yel ABG, memukul kaleng, tambur,
potongan bambu, atau benda apa saja yang bisa mengeluarkan bunyi.
ABG ternyata merupakan kependekan dari Anak Bantar Gebang, identitas
anak-anak yang hidup di areal pembuangan sampah terbesar di Bekasi.
Bersama rombongan anak-anak lainnya mereka berparade mengelilingi
areal perkemahan di Cibubur, membawa spanduk dan poster dari kardus
bekas.
Perkemahan anak jalanan yang diberi nama "Kampore" itu telah
menjadi acara tahunan bagi anak-anak jalanan di Jakarta dan
sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh Sanggar Akar, rumah
singgah anak-anak jalanan di pinggir Kalimalang, Jakarta Timur,
tersebut pada tahun pertama hanya melibatkan puluhan anak dan selama
masa Orde Baru tidak pernah luput dari pengawasan intel. Selama tiga
hari perkemahan, mereka bermain, berdiskusi, adu keterampilan,
kemahiran dalam musik, dan ekspresi lainnya.
"Kali ini saya benar-benar bisa menikmati kegiatan ini. Hampir
95 persen acara ini dilaksanakan dan diorganisir oleh anak-anak
sendiri," tutur Ibe Karyanto, Koordinator Sanggar Akar. Ia pun tidak
luput dari guyuran cat. Mukanya hitam legam karena cat. Hanya gigi
dan matanya saja yang tinggal dalam warna aslinya.
Gagasan pesta cat itu muncul empat tahun lalu saat Kampore ke-6
di kawasan perkemahan Ragunan. Pada waktu itu, ketika anak-anak
diminta melukis dengan cat, mereka bahkan mengekspresikan diri dengan
mengecat tubuh mereka. Karena itu, aktivitas ini diambil alih oleh
penyelenggara dan menjadi acara rutin dalam tiga tahun terakhir,
dengan diberi makna bahwa semua anak jalanan adalah satu, termasuk
pendamping mereka.
***
USAI berparade, perwakilan anak-anak tampil di panggung. Dengan
muka tertutup cat dan tubuh coreng-moreng mereka berorasi. Seorang
anak menyerukan agar harga BBM jangan dinaikkan dengan alasan ibunya
memakai kompor untuk memasak. Anak lainnya meminta agar pemerintah
mencegah banjir yang selalu menerjang rumahnya, memberikan kebebasan
belajar dan bermain, membiarkan mereka bebas di jalanan. Banyak di
antara anak-anak itu yang menyuarakan keinginan Tramtib, institusi
keamanan dan ketertiban di bawah pemerintah daerah, dibubarkan.
"Kami ingin bebas ngamen dan mencari uang. Biarkan kami di
jalanan. Musnahkan Tramtib supaya anak jalanan senang," kata Angga
(14), yang sehari-hari ngamen di kawasan Blok M.
Regi (16) yang baru seminggu melarikan diri dari panti sosial
Kedoya, mengajak kawan-kawannya untuk membubarkan Tramtib. Selama
lima minggu, kata Regi, ia "dipenjara" di Kedoya setelah ditangkap
oleh seorang intel dalam operasi preman beberapa waktu lalu.
Menanggapi ajakan Regi, seorang anak berteriak agar Tramtib dibom
saja. Namun, Regi mengusulkan agar mereka berunjuk rasa terus-menerus
sampai Tramtib dibubarkan.
"Agar kita aman di jalanan," kata Regi. "Tapi jangan pakai
lempar-lempar."
***
APARAT Tramtib merupakan sumber kerisauan anak-anak jalanan.
Kekerasan yang mereka hadapi sehari-hari di jalanan, bukanlah dari
para penjahat, preman, atau pemalak, tetapi justru aparat Tramtib.
Ari (14), yang sehari-hari menyapu lantai kereta dari Stasiun
Jatinegara untuk mendapatkan uang receh dari penumpang, menuturkan
bahwa tiga orang rekannya tidak bisa ikut dalam acara perkemahan itu
karena keburu ditangkap Tramtib sewaktu tiduran di jalanan.
"Saya sempat melarikan diri. Waktu saya berangkat, aparat Tramtib
juga berkeliaran di taman di dekat tempat saya singgah," kata Ari.
Coley dan Coki yang telah belasan tahun hidup di jalanan
mengatakan bahwa hak mereka untuk hidup di jalanan. Juga ngamen di
perempatan jalan.
"Apa salahnya kami ngamen di jalanan. Kami tidak mencuri. Kalau
dibilang mengganggu, ada orang- orang yang memberi kami uang atau
membawakan kami makanan. Justru karena ada kami, perempatan di
kawasan Blok M tidak pernah ada orang kehilangan kaca spion atau HP.
Lalu, kenapa kami dilarang?" ujar Coley.
Ia menuturkan, pernah ditangkap polisi dan disarankan untuk
berdagang. Namun, saat berjualan koran atau teh botol di kaki lima,
ia tidak luput dari kejaran Tramtib dan gerobaknya disita.
"Berbuat jahat dilarang, yang halal juga dilarang, lantas kami
disuruh apa?" kata Coley.
Coki menuturkan, ia dan kawan-kawannya berada di jalanan bukan
karena kemauan mereka sendiri. Mereka lari ke jalan karena tidak
punya uang atau menjadi korban kekerasan orangtuanya.
"Karena dilarang ngamen di perempatan, semua pengamen naik ke bus
kota. Bagaimana dengan adik-adik saya yang masih kecil kalau jatuh
dari bus. Apa pemerintah yang nanggung?" kata Coki.
Penanganan anak jalanan, menurut Ibe Karyanto, bukan soal
mengeluarkan atau tidak mengeluarkan mereka dari jalanan. Yang
penting ketika mereka di jalanan mereka utuh sebagai pribadi,
memiliki kebanggaan, tidak menunjukkan sikap-sikap defensif atau
meminta belas kasihan orang lain. Sektor informal, berdagang di kaki
lima, pun merupakan kehidupan di jalanan.
"Masalahnya memang bukan mengeluarkan atau tidak mengeluarkan
mereka dari jalanan," kata Karyanto. (P Bambang Wisudo)
RATUSAN anak yang sehari-hari bergulat di jalanan, Kamis (12/7),
tenggelam dalam luapan kegembiraan. Anak-anak berusia enam sampai
belasan tahun itu berlarian, berkejar-kejaran, menjerit, tertawa, dan
saling mengancam. Sebagian membawa kaleng, gelas, botol penuh cat
warna-warni, sebagian lagi berburu dengan tangan berlumuran cat,
menangkap siapa saja yang ada di areal itu. Mereka saling mencoreng
badan, menyiram, bahkan mengguyurkan cat dari atas kepala sampai ke
ujung kaki.
"Ini acara yang paling menyenangkan. Saya senang mencorat-coret
kawan saya," kata Sisriyani (6), anak seorang pemulung dari Bantar
Gebang.
Mereka kemudian meneriakkan yel-yel ABG, memukul kaleng, tambur,
potongan bambu, atau benda apa saja yang bisa mengeluarkan bunyi.
ABG ternyata merupakan kependekan dari Anak Bantar Gebang, identitas
anak-anak yang hidup di areal pembuangan sampah terbesar di Bekasi.
Bersama rombongan anak-anak lainnya mereka berparade mengelilingi
areal perkemahan di Cibubur, membawa spanduk dan poster dari kardus
bekas.
Perkemahan anak jalanan yang diberi nama "Kampore" itu telah
menjadi acara tahunan bagi anak-anak jalanan di Jakarta dan
sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh Sanggar Akar, rumah
singgah anak-anak jalanan di pinggir Kalimalang, Jakarta Timur,
tersebut pada tahun pertama hanya melibatkan puluhan anak dan selama
masa Orde Baru tidak pernah luput dari pengawasan intel. Selama tiga
hari perkemahan, mereka bermain, berdiskusi, adu keterampilan,
kemahiran dalam musik, dan ekspresi lainnya.
"Kali ini saya benar-benar bisa menikmati kegiatan ini. Hampir
95 persen acara ini dilaksanakan dan diorganisir oleh anak-anak
sendiri," tutur Ibe Karyanto, Koordinator Sanggar Akar. Ia pun tidak
luput dari guyuran cat. Mukanya hitam legam karena cat. Hanya gigi
dan matanya saja yang tinggal dalam warna aslinya.
Gagasan pesta cat itu muncul empat tahun lalu saat Kampore ke-6
di kawasan perkemahan Ragunan. Pada waktu itu, ketika anak-anak
diminta melukis dengan cat, mereka bahkan mengekspresikan diri dengan
mengecat tubuh mereka. Karena itu, aktivitas ini diambil alih oleh
penyelenggara dan menjadi acara rutin dalam tiga tahun terakhir,
dengan diberi makna bahwa semua anak jalanan adalah satu, termasuk
pendamping mereka.
***
USAI berparade, perwakilan anak-anak tampil di panggung. Dengan
muka tertutup cat dan tubuh coreng-moreng mereka berorasi. Seorang
anak menyerukan agar harga BBM jangan dinaikkan dengan alasan ibunya
memakai kompor untuk memasak. Anak lainnya meminta agar pemerintah
mencegah banjir yang selalu menerjang rumahnya, memberikan kebebasan
belajar dan bermain, membiarkan mereka bebas di jalanan. Banyak di
antara anak-anak itu yang menyuarakan keinginan Tramtib, institusi
keamanan dan ketertiban di bawah pemerintah daerah, dibubarkan.
"Kami ingin bebas ngamen dan mencari uang. Biarkan kami di
jalanan. Musnahkan Tramtib supaya anak jalanan senang," kata Angga
(14), yang sehari-hari ngamen di kawasan Blok M.
Regi (16) yang baru seminggu melarikan diri dari panti sosial
Kedoya, mengajak kawan-kawannya untuk membubarkan Tramtib. Selama
lima minggu, kata Regi, ia "dipenjara" di Kedoya setelah ditangkap
oleh seorang intel dalam operasi preman beberapa waktu lalu.
Menanggapi ajakan Regi, seorang anak berteriak agar Tramtib dibom
saja. Namun, Regi mengusulkan agar mereka berunjuk rasa terus-menerus
sampai Tramtib dibubarkan.
"Agar kita aman di jalanan," kata Regi. "Tapi jangan pakai
lempar-lempar."
***
APARAT Tramtib merupakan sumber kerisauan anak-anak jalanan.
Kekerasan yang mereka hadapi sehari-hari di jalanan, bukanlah dari
para penjahat, preman, atau pemalak, tetapi justru aparat Tramtib.
Ari (14), yang sehari-hari menyapu lantai kereta dari Stasiun
Jatinegara untuk mendapatkan uang receh dari penumpang, menuturkan
bahwa tiga orang rekannya tidak bisa ikut dalam acara perkemahan itu
karena keburu ditangkap Tramtib sewaktu tiduran di jalanan.
"Saya sempat melarikan diri. Waktu saya berangkat, aparat Tramtib
juga berkeliaran di taman di dekat tempat saya singgah," kata Ari.
Coley dan Coki yang telah belasan tahun hidup di jalanan
mengatakan bahwa hak mereka untuk hidup di jalanan. Juga ngamen di
perempatan jalan.
"Apa salahnya kami ngamen di jalanan. Kami tidak mencuri. Kalau
dibilang mengganggu, ada orang- orang yang memberi kami uang atau
membawakan kami makanan. Justru karena ada kami, perempatan di
kawasan Blok M tidak pernah ada orang kehilangan kaca spion atau HP.
Lalu, kenapa kami dilarang?" ujar Coley.
Ia menuturkan, pernah ditangkap polisi dan disarankan untuk
berdagang. Namun, saat berjualan koran atau teh botol di kaki lima,
ia tidak luput dari kejaran Tramtib dan gerobaknya disita.
"Berbuat jahat dilarang, yang halal juga dilarang, lantas kami
disuruh apa?" kata Coley.
Coki menuturkan, ia dan kawan-kawannya berada di jalanan bukan
karena kemauan mereka sendiri. Mereka lari ke jalan karena tidak
punya uang atau menjadi korban kekerasan orangtuanya.
"Karena dilarang ngamen di perempatan, semua pengamen naik ke bus
kota. Bagaimana dengan adik-adik saya yang masih kecil kalau jatuh
dari bus. Apa pemerintah yang nanggung?" kata Coki.
Penanganan anak jalanan, menurut Ibe Karyanto, bukan soal
mengeluarkan atau tidak mengeluarkan mereka dari jalanan. Yang
penting ketika mereka di jalanan mereka utuh sebagai pribadi,
memiliki kebanggaan, tidak menunjukkan sikap-sikap defensif atau
meminta belas kasihan orang lain. Sektor informal, berdagang di kaki
lima, pun merupakan kehidupan di jalanan.
"Masalahnya memang bukan mengeluarkan atau tidak mengeluarkan
mereka dari jalanan," kata Karyanto. (P Bambang Wisudo)
Ensemble Kaleng Rombeng Andre
VHR, 29 April 2007 - 23:16 WIB
Liza Desylanhi
Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam
Menanam jagung di kebun kita...
Jemari para siswa SD Pangudi Luhur, Cipete, Jakarta Selatan, lincah memainkan alat-alat musik, mengalunkan lagu "Menanam Jagung". Ada yang menekan tuts pianika, memetik dawai gitar, menabuh jimbe, dan meniup seruling.
Satu lagu belum juga usai, sang guru segera menghentakkan kaki, lalu menepukkan tangan. Ini pertanda musik harus berhenti. Suara fals tiba-tiba mengganggu. Guru itu pun membetulkan. Musik mengalun lagi hingga usai.
Keringat para siswa bercucuran karena panas yang menyengat. Maklum mereka latihan di pelataran sekolah sambil menunggu petugas laboratorium musik yang membawa kunci. Namun bocah-bocah kelas IV sampai VI itu tetap semangat berlatih untuk pertunjukan pesta kenaikan kelas bulan depan. Bahkan, kini mereka belajar membuat komposisi lagu sendiri.
Sang guru, Andre (26), tak kalah semangat. "Tinggal dipoles sedikit lagi akan jadi pertunjukan yang bagus," katanya sambil menyeka butiran keringat di dahi. Para murid pun senang atas pujian itu.
Andre guru istimewa. Saat mengajar ia mengenakan kaos oblong, jins belel yang robek di lutut, dan sandal gunung kegemarannya. Deretan anting perak menghiasi telinganya. Gayanya yang jauh dari formal membuatnya disukai para murid. Hampir semua murid akrab dengan Pak Guru yang satu ini.
"Orangnya sabar. Asyik. Nggak ngebosenin," kata Ivan Afiananda, siswa kelas V. Dulu Ivan pernah les piano, namun berhenti karena bosan. Di tangan Andre, Ivan tertarik kembali memainkan tuts-tuts piano.
Andre hanya lulusan sekolah menengah pertama. Selepas SMP ia menjadi pengamen dan pemulung, mengikuti profesi orang tuanya. Namun kepiawaian Andre memainkan musik membuat sekolah elite seperti Pangudi Luhur mempercayakan pengajaran musik siswanya kepada anak muda ini.
Tak ada bentangan permadani merah bagi Andre menuju profesi guru musik. Lamaran-lamarannya menjadi guru musik selalu ditolak karena ia tak punya ijazah yang memadai. Belum lagi karena penampilannya yang belel. "Sakit hati. Hampir putus asa," ujarnya. "Ternyata susah mendobrak budaya yang sudah kental ini. Mereka menilai seseorang dari luarnya saja."
Andre harus membuktikan kemampuannya agar dipercaya sebagai pengajar. Kesempatan itu didapat dari Wakil Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur yang mempercayainya melatih musik ensemble siswa kelas II dengan kaleng bekas. Ia hanya diberi waktu sepuluh hari untuk melatih. Andre menyambut kesempatan itu dengan penuh semangat. "Awalnya kepala sekolah dan orang tua nggak percaya. Tapi bersyukur aku mampu membuat dua komposisi untuk anak-anak SD itu."
Hasilnya, Andre mampu menyajikan musik ensemble kaleng bekas yang apik pada pesta akhir tahun.
Kepiawaian Andre memainkan komposisi musik klasik bukan datang dari langit. Sejak 2001 dia digodok di Sanggar Akar oleh Arjuna Hutagalung, profesor musik dari Institut Kesenian Jakarta. Sanggar itu memang didirikan untuk anak-anak jalanan.
"Dulu main gitar cuma genjreng-genjreng. Nggak ngerti ritme, nada, apalagi bikin komposisi musik," kata pria beralis tebal ini. Berkat didikan Arjuna, Andre tak hanya mampu memainkan alat musik dengan benar, namun juga membuat komposisi.
Arjuna pengajar yang keras, tegas, dan rajin memberikan pekerjaan rumah. Dia menuntut para siswanya berkomitmen tinggi. Akibatnya, dari 20 murid Sanggar Akar seangkatan Andre, tinggal tujuh orang yang bertahan. "Yang lain berguguran. Nggak kuat," kata Andre sambil tertawa.
Di awal latihan, Arjuna langsung menyodorkan komposisi Johann Sabastian Bach. Melihat partitur not balok karya itu Andre pusing. "Materinya berat. Dari segi teori aku jelek, deh! Tapi kalau praktik, aku cepat. Jangankan musik klasik, musik pop saja aku nggak ngerti. Namun aku harus mainin komposisi Bach. Gimana nggak mumet ini kepala?" kata pemuda berkulit gelap ini.
Andre harus bekerja keras memainkan musik Bach. Pertama, ia belajar membaca partitur. Kemudian belajar ketukan. Setelah lancar, beralih ke nada. Terakhir dia memainkan komposisi dengan gitar. Setelah bisa memainkan dengan gitar, beralih mengenali biola dan piano dengan mempelajari anatominya. Baru perlahan Andre mulai mengeja komposisi Bach dengan dua alat musik itu.
Andre juga mesti mengikuti kelas musik di kediaman Arjuna, dua kali seminggu. Ia tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Latihan dimulai pukul sembilan malam dan berakhir pukul satu dini hari. Tak jarang latihan molor hingga pukul tiga pagi. Setiap hari ia harus meluangkan waktu setengah jam untuk mempelajari komposisi yang diberikan Arjuna.
Sementara dari pagi sampai sore Andre dan teman-temannya harus mengajar para yuniornya di sanggar. Setiap menjelang tidur Andre menyempatkan diri latihan membaca partitur. Namun ia sering ketiduran sambil memeluk partitur.
Keterbatasan alat musik di sanggar teratasi oleh Arjuna yang menghibahkan sebuah piano. Ada pula dermawan yang menyumbang beberapa biola untuk sanggar itu.
Mesti keras, Arjuna pengajar yang menyenangkan. Ia pandai menghibur para muridnya. "Kelas selalu diawali dengan makan malam dan diakhiri minum bir," kata Andre.
Karena sering minum bir bareng, para murid pun kian akrab dengan Arjuna. Bahkan mereka mengganggap kakek gondrong penggemar kaos oblong merek Swan itu sebagai ayah sendiri.
Kerja keras memang makanan Andre sejak belia. Ia dulu membiayai sendiri sekolahnya dengan menjadi pemulung dan pengamen. Tak jarang ia ditodong dan diperas anak jalanan lain. " Hukum rimba berlaku di sana. Siapa kuat dia berkuasa," katanya sambil menerawang. "Kalau diingat-ingat sedih juga, sampai segitunya nyari duit. Susah banget."
Di sekolah dulu Andre tergolong berprestasi. Setiap penerimaan rapor ia selalu menjadi juara kelas. Namun ia kapok sekolah setelah disiksa oleh guru Fisika, karena tak sengaja melempar bola basket ke guru itu. Akibat siksaan itu Andre tak bisa makan seminggu. "Sampai kapan pun pengalaman itu nggak akan pernah kulupa. Aku benci sekolah formal!" ujarnya dengan suara parau. Dia pun tak melanjutkan ke sekolah menengah umum.
Saat di kelas II SMP Andre mulai kenal Sanggar Akar. Saat itu ia diajak temannya mengikuti kemah Kampung Orang Kere (Kampore) yang digelar sanggar tersebut. Sejak itu Andre bergabung dan menjadi "anak" Sanggar Akar. Bersama sanggar itu motivasi belajarnya kembali bangkit. "Kalau nggak sekolah formal, harus punya skill untuk hidup. Makanya belajar musik di sini. Walaupun apa adanya, aku mencoba serius."
Berkat ketekunan dan kerja keras itu kepiwaian Andre terus terasah. Sampai suatu ketika komposisinya dimainkan pada sebuah konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. "Di situ aku merasa hidup itu dihargai. Karena belajar dengan susah payah, aku akhirnya bisa membuat karya yang dapat dinikmati orang."
Kebanggaan Andre bertambah saat anak asuhnya di SD Pangudi Luhur menjadi juara II Pentas Musik Sekolah Dasar se-Jabotabek Desember tahun lalu. Karena prestasi itu status Andre sebagai guru honorer akan dinaikkan menjadi guru tetap.
Wakil Kepala SD Pangudi Luhur I Nengah Suntaya pun memberikan lampu hijau untuk Andre. Ia melihat keahlian Andre lebih bernilai daripada selembar ijazah. "Kami tidak melihat dari segi ijazah. Kalau ijazah saja kan bisa beli," katanya. "Saya nilai dia cukup kreatif. Mampu mengaransemen lagu dan dapat mendekati anak-anak."
Selain mengajar di SD Pangudi Luhur, Andre juga mengajar paduan suara Gereja Santo Yohanes di Sunter, Jakarta Pusat, dan menjadi guru les privat. Beberapa tawaran mengajar ia tolak karena tak mau menelantarkan para yuniornya di Sanggar Akar.
"Ini meyakinkan aku bahwa ijazah tak penting. Juga meyakinkan bahwa orang-orang seperti aku juga mampu berkarya," katanya menutup pembicaraan. Andre membakar rokok kretek dan mengisapnya pelan-pelan. Dikepulkannya asap ke udara, membentuk sebuah komposisi musik di kepalanya. (E2)
Liza Desylanhi
Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam
Menanam jagung di kebun kita...
Jemari para siswa SD Pangudi Luhur, Cipete, Jakarta Selatan, lincah memainkan alat-alat musik, mengalunkan lagu "Menanam Jagung". Ada yang menekan tuts pianika, memetik dawai gitar, menabuh jimbe, dan meniup seruling.
Satu lagu belum juga usai, sang guru segera menghentakkan kaki, lalu menepukkan tangan. Ini pertanda musik harus berhenti. Suara fals tiba-tiba mengganggu. Guru itu pun membetulkan. Musik mengalun lagi hingga usai.
Keringat para siswa bercucuran karena panas yang menyengat. Maklum mereka latihan di pelataran sekolah sambil menunggu petugas laboratorium musik yang membawa kunci. Namun bocah-bocah kelas IV sampai VI itu tetap semangat berlatih untuk pertunjukan pesta kenaikan kelas bulan depan. Bahkan, kini mereka belajar membuat komposisi lagu sendiri.
Sang guru, Andre (26), tak kalah semangat. "Tinggal dipoles sedikit lagi akan jadi pertunjukan yang bagus," katanya sambil menyeka butiran keringat di dahi. Para murid pun senang atas pujian itu.
Andre guru istimewa. Saat mengajar ia mengenakan kaos oblong, jins belel yang robek di lutut, dan sandal gunung kegemarannya. Deretan anting perak menghiasi telinganya. Gayanya yang jauh dari formal membuatnya disukai para murid. Hampir semua murid akrab dengan Pak Guru yang satu ini.
"Orangnya sabar. Asyik. Nggak ngebosenin," kata Ivan Afiananda, siswa kelas V. Dulu Ivan pernah les piano, namun berhenti karena bosan. Di tangan Andre, Ivan tertarik kembali memainkan tuts-tuts piano.
Andre hanya lulusan sekolah menengah pertama. Selepas SMP ia menjadi pengamen dan pemulung, mengikuti profesi orang tuanya. Namun kepiawaian Andre memainkan musik membuat sekolah elite seperti Pangudi Luhur mempercayakan pengajaran musik siswanya kepada anak muda ini.
Tak ada bentangan permadani merah bagi Andre menuju profesi guru musik. Lamaran-lamarannya menjadi guru musik selalu ditolak karena ia tak punya ijazah yang memadai. Belum lagi karena penampilannya yang belel. "Sakit hati. Hampir putus asa," ujarnya. "Ternyata susah mendobrak budaya yang sudah kental ini. Mereka menilai seseorang dari luarnya saja."
Andre harus membuktikan kemampuannya agar dipercaya sebagai pengajar. Kesempatan itu didapat dari Wakil Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur yang mempercayainya melatih musik ensemble siswa kelas II dengan kaleng bekas. Ia hanya diberi waktu sepuluh hari untuk melatih. Andre menyambut kesempatan itu dengan penuh semangat. "Awalnya kepala sekolah dan orang tua nggak percaya. Tapi bersyukur aku mampu membuat dua komposisi untuk anak-anak SD itu."
Hasilnya, Andre mampu menyajikan musik ensemble kaleng bekas yang apik pada pesta akhir tahun.
Kepiawaian Andre memainkan komposisi musik klasik bukan datang dari langit. Sejak 2001 dia digodok di Sanggar Akar oleh Arjuna Hutagalung, profesor musik dari Institut Kesenian Jakarta. Sanggar itu memang didirikan untuk anak-anak jalanan.
"Dulu main gitar cuma genjreng-genjreng. Nggak ngerti ritme, nada, apalagi bikin komposisi musik," kata pria beralis tebal ini. Berkat didikan Arjuna, Andre tak hanya mampu memainkan alat musik dengan benar, namun juga membuat komposisi.
Arjuna pengajar yang keras, tegas, dan rajin memberikan pekerjaan rumah. Dia menuntut para siswanya berkomitmen tinggi. Akibatnya, dari 20 murid Sanggar Akar seangkatan Andre, tinggal tujuh orang yang bertahan. "Yang lain berguguran. Nggak kuat," kata Andre sambil tertawa.
Di awal latihan, Arjuna langsung menyodorkan komposisi Johann Sabastian Bach. Melihat partitur not balok karya itu Andre pusing. "Materinya berat. Dari segi teori aku jelek, deh! Tapi kalau praktik, aku cepat. Jangankan musik klasik, musik pop saja aku nggak ngerti. Namun aku harus mainin komposisi Bach. Gimana nggak mumet ini kepala?" kata pemuda berkulit gelap ini.
Andre harus bekerja keras memainkan musik Bach. Pertama, ia belajar membaca partitur. Kemudian belajar ketukan. Setelah lancar, beralih ke nada. Terakhir dia memainkan komposisi dengan gitar. Setelah bisa memainkan dengan gitar, beralih mengenali biola dan piano dengan mempelajari anatominya. Baru perlahan Andre mulai mengeja komposisi Bach dengan dua alat musik itu.
Andre juga mesti mengikuti kelas musik di kediaman Arjuna, dua kali seminggu. Ia tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Latihan dimulai pukul sembilan malam dan berakhir pukul satu dini hari. Tak jarang latihan molor hingga pukul tiga pagi. Setiap hari ia harus meluangkan waktu setengah jam untuk mempelajari komposisi yang diberikan Arjuna.
Sementara dari pagi sampai sore Andre dan teman-temannya harus mengajar para yuniornya di sanggar. Setiap menjelang tidur Andre menyempatkan diri latihan membaca partitur. Namun ia sering ketiduran sambil memeluk partitur.
Keterbatasan alat musik di sanggar teratasi oleh Arjuna yang menghibahkan sebuah piano. Ada pula dermawan yang menyumbang beberapa biola untuk sanggar itu.
Mesti keras, Arjuna pengajar yang menyenangkan. Ia pandai menghibur para muridnya. "Kelas selalu diawali dengan makan malam dan diakhiri minum bir," kata Andre.
Karena sering minum bir bareng, para murid pun kian akrab dengan Arjuna. Bahkan mereka mengganggap kakek gondrong penggemar kaos oblong merek Swan itu sebagai ayah sendiri.
Kerja keras memang makanan Andre sejak belia. Ia dulu membiayai sendiri sekolahnya dengan menjadi pemulung dan pengamen. Tak jarang ia ditodong dan diperas anak jalanan lain. " Hukum rimba berlaku di sana. Siapa kuat dia berkuasa," katanya sambil menerawang. "Kalau diingat-ingat sedih juga, sampai segitunya nyari duit. Susah banget."
Di sekolah dulu Andre tergolong berprestasi. Setiap penerimaan rapor ia selalu menjadi juara kelas. Namun ia kapok sekolah setelah disiksa oleh guru Fisika, karena tak sengaja melempar bola basket ke guru itu. Akibat siksaan itu Andre tak bisa makan seminggu. "Sampai kapan pun pengalaman itu nggak akan pernah kulupa. Aku benci sekolah formal!" ujarnya dengan suara parau. Dia pun tak melanjutkan ke sekolah menengah umum.
Saat di kelas II SMP Andre mulai kenal Sanggar Akar. Saat itu ia diajak temannya mengikuti kemah Kampung Orang Kere (Kampore) yang digelar sanggar tersebut. Sejak itu Andre bergabung dan menjadi "anak" Sanggar Akar. Bersama sanggar itu motivasi belajarnya kembali bangkit. "Kalau nggak sekolah formal, harus punya skill untuk hidup. Makanya belajar musik di sini. Walaupun apa adanya, aku mencoba serius."
Berkat ketekunan dan kerja keras itu kepiwaian Andre terus terasah. Sampai suatu ketika komposisinya dimainkan pada sebuah konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. "Di situ aku merasa hidup itu dihargai. Karena belajar dengan susah payah, aku akhirnya bisa membuat karya yang dapat dinikmati orang."
Kebanggaan Andre bertambah saat anak asuhnya di SD Pangudi Luhur menjadi juara II Pentas Musik Sekolah Dasar se-Jabotabek Desember tahun lalu. Karena prestasi itu status Andre sebagai guru honorer akan dinaikkan menjadi guru tetap.
Wakil Kepala SD Pangudi Luhur I Nengah Suntaya pun memberikan lampu hijau untuk Andre. Ia melihat keahlian Andre lebih bernilai daripada selembar ijazah. "Kami tidak melihat dari segi ijazah. Kalau ijazah saja kan bisa beli," katanya. "Saya nilai dia cukup kreatif. Mampu mengaransemen lagu dan dapat mendekati anak-anak."
Selain mengajar di SD Pangudi Luhur, Andre juga mengajar paduan suara Gereja Santo Yohanes di Sunter, Jakarta Pusat, dan menjadi guru les privat. Beberapa tawaran mengajar ia tolak karena tak mau menelantarkan para yuniornya di Sanggar Akar.
"Ini meyakinkan aku bahwa ijazah tak penting. Juga meyakinkan bahwa orang-orang seperti aku juga mampu berkarya," katanya menutup pembicaraan. Andre membakar rokok kretek dan mengisapnya pelan-pelan. Dikepulkannya asap ke udara, membentuk sebuah komposisi musik di kepalanya. (E2)
Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar
29 Mei 2008,Suara Pembaruan
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.
Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.
Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.
Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.
Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.
Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.
Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.
Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.
Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.
Kehidupan Sehari-hari
Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.
Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.
Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.
"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.
Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.
Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.
Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.
"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.
Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.
Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.
Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Pentas
Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.
Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.
"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.
Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.
"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.
Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.
Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.
Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..
Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.
Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]
Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.
Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.
Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.
Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.
Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.
Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.
Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.
Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.
Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.
Kehidupan Sehari-hari
Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.
Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.
Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.
"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.
Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.
Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.
Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.
"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.
Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.
Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.
Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.
Pentas
Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.
Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.
"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.
Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.
"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.
Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.
Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.
Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..
Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.
Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]
Langganan:
Postingan (Atom)